Surga dan Hidup Kekal Dalam Pengajaran Yesus

Surga dan Hidup Kekal dalam Pengajaran Yesus

Di tengah realitas dunia yang mengagung-agungkan materi dan segala kenikmatannya, masihkah relevan untuk memikirkan surga dan hidup kekal yang masih amat jauh di sana? Kiranya amatlah naif jika kita berfikir bahwa kehidupan ini hanya terbatas pada dunia materi, yaitu dunia yang saat ini kita tempati berada dan hidup. Jika kita berpikir dan beranggapan demikian, bukankah hal yang berciri materi dapat hancur dan lenyap? Lantas apa yang bisa menjadi jaminan yang pasti dari materi yang dapat hancur dan lenyap itu?

Berhadapan dengan kematian yang juga setiap saat membayang-bayangi kehidupan kita mengundang kita untuk bertanya; kemana kita pada saat mati? Apakah hanya sampai pada batas liang lahat saja? Secara alamiah kita menyaksikan dengan kasat mata, bahwa memang hidup kita hanya sebatas pada liang kubur. Tubuh yang kita gunakan dan agung-agungkan semasa hidup, saat dinyatakan mati pada akhirnya akan menempati liang kubur atau dikremasi dalam nyala api yang membara hingga tubuh itu dalam sekejap menjadi abu.

Sungguh nahas jika demikianlah akhir dari hidup kita manusia. Sebab, harapan akan masa depan yang lebih baik daripada hanya sebatas pada liang kubur menjadi tidak mungkin lagi. Tak ada jalan lain yang bisa ditempuh selain pada liang lahat dan kremasi yang hanya menjadikan tubuh kita menjadi tanah atau abu.

 Mungkinkah dibalik semuanya itu ada jalan yang lebih pantas, layak, bermartabat dan mulia daripada hanya sebatas menjadi tanah atau abu? Harapan akan adanya surga dan hidup kekal kiranya merupakan paham yang lebih cocok, layak, pantas, bermartabat dan mulia daripada hanya sebatas menjadi tanah atau abu. Sekalipun kita tidak tahu persis secara detail bagaimana hal itu menjadi mungkin bisa kita alami kelak. Oleh karena itu, tulisan ini sedapat mungkin ingin berupaya memahami akan adanya surga dan hidup kekal sebagai tempat yang layak dan pantas untuk dihuni kelak ketika saudari maut menimpah tubuh yang fana ini.

  Surga

       Mendengar kata ‘surga’ mungkin pikiran kita langsung mengarah kepada sebuah kediaman (tempat) yang amat indah dan menyenangkan serta membahagiakan. Anggapan seperti ini kiranya dilandasi bukan karena sebuah penelitian secara inderawi, melainkan justru karena adanya kerinduan untuk ingin berada dan mengalami suasana surga itu sendiri yaitu suasana indah, menyenangkan dan membahagiakan.

       Secara jelas dan gamblang dalam Kitab Suci Perjanjian Baru (KSPB) khususnya pada Injil, para pengnjil banyak kali menggunakan kata ‘Surga’. Yang mana kata ini langsung diucapkan sendiri oleh Yesus. Berdasarkan keterangan dari Kitab Suci inilah konsep tentang ‘Surga’ mendapat tempat dalam pemikiran manusia. Akan tetapi, kita juga masih harus menggali dasar munculnya kata ‘surga’ dalam Kitab Suci tersebut. Apa yang melatarbelakangi sehingga kata surga ini muncul dalam Kitab Suci itu sendiri?           

       Dari sejumlah ucapan Yesus, surga identik dengan “tempat” Allah Bapa. Ucapan itu bisa kita temukan dalam Mat. 18:35 “Maka Bapa-Ku yang di sorga……..” Atau dalam bab yang lain Mat.5:48 “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”. Dalam Mat. 6:5-14 cerita tentang “Hal berdoa” Yesus mengajari murid-murid-Nya untuk menyebut Bapa-Nya sebagai ‘Bapa kami yang di sorga’. Dari pemberitaan Injil Matius ini, paling kurang kita bisa memahami ‘surga’ sebagai kediaman Allah Bapa.

       Pada kesempatan lain, Yesus juga mengidentikan surga sebagai sebuah “kerajaan”. Dalam Injil Mat. 19: 12 “…..ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga”. Pada kisah-kisah lain khususnya tentang perumpamaan, Mat.20:1 dikatakan “hal Kerajaan Sorga seperti seorang tuan rumah…”

       Ucapan-ucapan Yesus yang kemudian diabadikan oleh para penginjil ini, menjadi dasar munculnya tentang konsep ‘sorga’ bagi kita. Dari sejumlah kisah-kisah yang diangkat oleh para penginjil, surga tidak selalu identik dengan sebuah tempat kediaman, melainkan juga suasana, situasi atau keadaan dimana Allah Bapa meraja. Jadi asumsi kita akan surga tersebut bisa merupakan sebuah tempat dan keadaan atau situasi.

       Dapat dipahami mengapa Yesus tahu-menahu tentang surga sebagai kediaman (tempat) dan kerajaan Allah, karena Ia adalah utusan Allah itu sendiri. Ia datang dari kerajaan Bapa-Nya dan juga kembali ke sana. Kesaksian Yesus tentang kerajaan Bapa-Nya dengan gamblang dikisahkan oleh penginjil Yohanes 16:26 “Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”

       Kesaksian Yesus tentang surga sebagai kediaman atau kerajaan Allah, sungguh dapat kita pahami apabila kita menerima dan mengakui Yesus sebagai pribadi yang berelasi secara langsung dengan Allah. Artinya bahwa karena Yesus tahu tentang surga sebagai kediaman atau kerajaan Allah, maka Ia memberi kesaksian demikian. Sebab, tidaklah mungkin Ia memberitakan apa yang tidak diketahui dan tidak pernah dialami-Nya secara langsung, seperti yang perna diungkapkan-Nya pada kisah lain: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri” (Mat. 24:36). “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat. 5:37).

       Dengan demikian, kesaksian Yesus tentang surga adalah benar-benar suatu kenyataan dimana Allah Bapa-Nya meraja. Akan tetapi, seperti apa surga itu, masi kurang jelas bagi kita. Para kudus yang diterangi oleh Allah sendiri tidak dapat memberikan gambaran secara pasti dan gamblang kepada kita.

       Raja Daud hanya mampu berkata “Betapa indah tempat tinggal-Mu ya Tuhan semesta alam!” (Mzm 84:1). St. Paulus yang mendapat keistimewaan diangkat untuk melihat sekilas surga, hanya mampu mengatakan bahwa kebahagiaan  surga seperti kata-kata “yang tidak bisa diceritakan; hal-hal yang tidak dapat diungkapkan oleh manusia” (2Kor 12:4). Atau; “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9). Tidak seorang pun yang hidup di atas dunia ini (kecuali Yesus) pernah melihat atau mendengar atau membayangkan keindahan, kedamaian, sukacita dan kebahagiaan yang dipersiapkan oleh Allah bagi mereka, (bdk. Norman J. Muekerman, CSsR, 2005: 77).

       Dalam KGK surga dimaknai sebagai tujuan tertinggi dan defenitif dari manusia: “Kehidupan yang sempurna bersama Tritunggal Mahakudus, persekutuan kehidupan dan cinta bersama Allah, bersama Perawan Maria, bersama para malaikat dan orang kudus, dinamakan “surga”. Surga adalah tujuan terakhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, keadaan bahagia tertinggi dan definitif” (KGK 1024). “Hidup di dalam surga, berarti “ada bersama Kristus”. Kaum terpilih hidup di dalam Dia, mempertahankan, atau lebih baik dikatakan, menemukan identitasnya yang sebenarnya, namanya sendiri” (KGK 1025).

       Akan tetapi di lain pihak surga atau Kerajaan Allah tidaklah sejelas itu. Sebab, dalam pengharapan yang demikian tentang Kerajaan Allah dan dalam pekerjaan demi Kerajaan Allah, kita tidak sungguh tahu, secara pasti, penuh dan defenitif, apa yang sedang kita bicarakan. Makna Kerajaan Allah ini adalah sebagai realitas eskatoloigs yang masih akan datang dalam kepenuhan yang sungguh lebih besar dan sebagai simbol terbuka yang menunjukkan suatu realitas yang sama nyatanya, sebagaimana yang mengatasi kepenuhan pemahaman kita. Dengan demikian, apabila dalam Kerajaan Allah kita akan mewujudkan “kesejahteraan” umat manusia dan bumi, hingga saat ini kita tidak tahu secara penuh apa yang akan termasuk dalam kesejahteraan tersebut dan bagaimana cara kita mengusahakannya. Selalu ada yang lebih untuk diwujudkan dan dipelajari, (Paul F. Knitter, 2005:231).

Hidup Kekal

            Secara sederhana kehidupan kekal bisa dipahami karena adanya kehidupan yang bersifat sementara, yakni kehidupan di dalam dunia ini. Bahwa dalam realitasnya, kehidupan yang saat ini kita jalani, suatu saat nanti akan berakhir dengan kematian. Artinya, kita tidak selamanya akan tinggal dan hidup di dalam dunia ini. Kehidupan sementara, agak jelas bagi kita karena kita alami secara real. Kita terlibat langsung di dalamnya. Kita dapat merasakan suka dan duka, senang, bahagia dan derita. Itulah kehidupan sementara. Lantas bagaimana dan apa itu kehidupan kekal?

Dipandang dari sudut eskatologi, hidup kekal adalah hidup yang kelak dialami setelah kematian. Sumber pengetahuan kita tentang hidup kekal ini, tidak lain dan tidak bukan berasal dari Yesus sendiri. Kekal sendiri berarti abadi/selama-lamanya. Secara harfia, hidup kekal berarti hidup untuk selama-lamanya. Akan tetapi bagaimana kita bisa memahami apa yang dimaksud dengan hidup kekal itu? “Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 6:40).

Pada sisi lain, hidup kekal bisa dilihat sebagai sebuah nilai pengharapan dari pihak manusia yang tidak mampu menyelami secara sempurna kehidupannya. Sebagai jawaban atas ketidakmampuan itu, maka jalan satu-satunya adalah berharap agar hidup yang saat ini dijalaninya tidak berakhir pada ketiadaan atau lenyap begitu saja. Sebab jika demikian, maka hal itu sama dengan kesia-siaan.  “Sebab apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya”? (Mrk. 8: 36-37).

Terlepas dari pandangan seperti ini (keterbatasan manusia), hidup kekal pada dasarnya dipahami dari ajaran Yesus sendiri. Hidup kekal bagi Yesus terjadi di dalam dan melalui serta merupakan kehendak Allah Bapa-Nya. Dalam kaitan dengan kehendak Bapa-Nya ini, Yesus menjadi tanda dan pelaksana untuk menyingkapkan kehendak Bapa-Nya itu. “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya” (Yoh. 14:10).

Yesus pada saat berdoa kepada Bapa-Nya dengan amat jelas mengartikan apa itu hidup kekal. “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3). Bagi Yesus pengenalan akan Allah Bapa dan diri-Nya adalah bagian dari hidup kekal itu. Dengan demikian, hidup kekal bukan hanya perkara masa yang akan datang, melainkan juga saat ini, yaitu saat kita mengenal Allah Bapa dan Putera-Nya melalui sejumlah ajaran-ajaran-Nya. Seba Ia berkata ”Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:25-26).

Dari kesaksian Yesus ini, hidup kekal dapat dialami dalam dua cara yakni; pertama kita akan hidup walaupun sudah mati. Hal ini kiranya merujuk pada saat manusia mengalami kematian di dunia ini dan kemudian dibangkitkan. Kedua, setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Nya, tidak akan mati selama-lamanya. Sikap percaya atau membangun kepercayaan kepada Yesus adalah bagian dari hidup selama-lamanya. Mengapa? Sikap percaya menyingkapkan adanya nilai pengharapan. Dalam pengharapan inilah, hidup kekal menjadi realitas yang dapat dialami saat ini.

Hidup itu sendiri adalah persekutuan yang kekal dengan Allah. Hidup ialah bebas terlepas dari kekuasaan kebinasaan. Hidup adalah menimba dari kasih dan kehendak Tuhan untuk selama-lamanya. Hidup serupa itulah yang kita tidak miliki menurut tabiat kita. Akan tetapi hidup yang serupa itu ada pada Yesus. Dan sekarang ini juga Ia mau memberikan hidup dan kepada setiap orang yang percaya. Dengan salib dan kebangkitan-Nya Ia telah “membunuh maut” bagi kita dan mulai sekarang juga kita diperkenankan menerima bagian kita dalam hidup yang ada pada Yesus itu. Siapa yang percaya kepada-Nya, ia mempunyai hidup, yaitu hidup yang kekal. Salah benar orang yang menyangka bahwa, menurut Injil, hidup kekal itu baru dimulai setelah meninggal dunia. Dengan tegas Kitab Suci memberi kepastian kepada kita, bahwa mulai sekarang ini juga, kita telah menerima bagian kita dalam hidup kekal itu, yang tidak dapat direbut kembali oleh iblis dan yang tidak dapat dirusakkan oleh dosa dan penyakit (Dr. J. Verkuyl, 1985:257-258).

Kesimpulan

           Surga dan hidup kekal hanya dapat dipahami dalam terminologi Allah dan pengharapan akan Dia. Realitas surga dan hidup kekal ada dan terjadi di dalam Allah itu sendiri. Jika surga dan hidup kekal dipisahkan dari paham akan Allah (tidak berkaitan dengan Allah), maka kiranya akan amat sulit untuk memahami surga dan hidup kekal tersebut. Hal ini ditegaskan oleh penginjil Yohanes dalam Injilnya pada bab 3:16-21.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

Dengan demikian surga dan hidup kekal adalah realitas yang bisa dipahami dan diterima serta dialami dalam kaitannya dengan paham akan Allah. Dalam artian ini, surga dan hidup kekal adalah relasi yang selalu dan senantiasa terjalin atau terhubung dengan Allah. Relasi ini bisa terjadi di dalam Allah Tritunggal; Bapa, Putra dan Roh Kudus, dan relasi yang terjadi di antara ketiga-Nya adalah kekal/abadi.

Relasi abadi/kekal itu juga bisa terjadi pada Allah dan segenap ciptaan-Nya. Relasi ini bisa dipahami, bahwa ciptaan ambil bagian dalam keabadaian/kekekalan Allah itu, sekalipun ciptaan tidak tahu persis apa dan bagaimana Allah kekal yang telah menciptakannya tersebut. Tetapi karena ciptaan itu telah mengalami hubungan atau relasi dengan Penciptanya (yakni hubungan sebagai Pencipta dan ciptaan) yang adalah keabadian atau kekekalan, maka secara langsung ciptaan itu pun kekal atau abadi.

Refrensi

  1. Knitter, Paul. 2005. Menggugat Arogansi Kekristenan. Yogyakarta: Kanisius.
  2. Meukerman, Norman. 2005. Keajaiban Di Balik Kematian. Jakarta: Fidei Press.
  3. Verkuyl, J. 1985. Aku Percaya. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  4. Katekismus Gereja Katolik (KGK).

 

Editor : Admin

Penulis : Sdr. Wandi Raya, OFM

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 + 2 =