Mengenang Para Saudara Dina Perdana-86 Tahun yang silam

Mengenang Para Saudara Dina Perdana-86 Tahun yang Silam

Terhitung sejak 18 Maret 1937 sampai dengan masa sekarang (Tahun 2023), karya misi Fransiskan dibumi Cendrawasi ini berusia 86 tahun.  Usia 86 tahun adalah usia sangat tua sekali, karena di dalam Mazmur dikatakan “umur manusia 70-80 tahun, jika kuat” dihadapkan dengan pernyataan ini, usia 86 tahun berarti usia bonus sudah melewat kuat bahkan lebih dari kuat. Melihat kenyataan tersebut, apa  yang di maksud dengan usia tua tersebut. Tentu hal ini menjadi refleksi dan kenangan untuk melihat kembali, masa-masa perjuangan dan semangat para misionaris perdana. Sebab mereka telah merintis dan meletakan dasar bagi kita generasi baru di zaman penuh tantangan ini. Karena  kita baru akan mau merayakan ulang tahun provinsi yang ke 6 pada tanggal 21 September 2023. Usia tersebut adalah usia anak-anak sehingga berbabagai hal perlu dibangun, dibentuk, dan dibenahi agar misi Fransiskan tetap terkenang di hati orang Papua. Usaha tersebut membutuhkan kerjasama yang gigih  yaitu berjalan bersama dalam cita-cita hidup persaudaraan dengan tema ” Menjadi saudara dina bagi/ dengan orang pinggiran”. Untuk mengenang kembali, saudara-saudara dina perdana, kita boleh membaca dan menyimak  kembali kutipan-kutipan berikut yang diambil dari buku  “Jilid I Fransiskan Masuk Papu-Jan Sloot“, dengan melihat sejarah singkat dan riwayat hidup mereka.

SEJARAH SINGKAT MISIONARIS PERDANA

Pada tanggal 29 Desember 1936, berangkatlah enam orang Fransiskan Belanda – lima orang Pater dan seorang Bruder – menuju tanah misi di Nieuw-Guinea (Guinea Baru) Belanda (Nedderlands Nieuw Guinea, yang kemudian disebut Papua Barat. Sebelum keberangkatan, dirayakan upacara pengutusan dalam bentuk misa agung di gereja Maria Yang Dikandung Tanpa Noda (Gereja Hartenburg) di Leiden. Sesudah itu, Pater Provinsial, Pater Honoratus Caminada, menyerahkan sebuah salib misi kepada para misionaris tersebut. Perayaan Ekaristi itu kendati dirayakan pada hari biasa, namun disiarkan secara langsung oleh Radio Katolik Belanda (KRO). Hal itu menunjukkan betapa pentingnya peristiwa itu bagi umat Katolik. Keberangkatan mereka itu merupakan permulaan dari sebuah pertualangan, sebuah ekspedisi keagamaan ke sebuah daerah yang gambarannya masih kabur bagi yang bersangkutan (….hlm XV). Karya misi di Nieuw – Guinea bukanlah karya misi pertama dari para Fransiskan Belanda, tetapi merupakan sebuah karya misi yang dengan semangat antusianisme yang luar biasa besar telah mereka terima. Misi ini sering mereka ditampilkan bagaikan misi kebanggaan para Fransiskan.

            Cerita mengenai misi para Fransiskan di daerah yang waktu itu bernama Nederlands Niuew-Guinea, dimulai dengan adanya sepucuk surat pendek yang ditulis oleh Provinsial Misionaris Hati Kudus. Pater Nico Verhoeven, pada 23 November 1935 kepada Pater Paulus Stein, Kustos (Vice Provinsial) dari Fransiskan Belanda yang menggantikan Provinsial yang sedang sakit, Pater Honoratus Caminada (…hlm 3)

            Pada 29 Januari 1937 tibalah di Jawa keenam orang misionaris untuk Niuew-Guinea itu. Perkenalan mereka pada dunia Hindia Belanda sangat menakjubkan mereka. Dunia baru itu memang mempesona, tetapi karya misi sebagaimana dijalankan oleh para saudara mereka di sana, agak mengecewakan. Mereka melihat bahwa reksa jiwa yang dijalankan oleh Fransiskan-fransiskan Belanda itu pertama-tama diarahkan pada orang-orang Eropa. Bagi mereka hal itu bukanlah karya missioner (…hlm 57-58).

            Dari Batavia, para pendatang baru ini menuju ke Makasar dan Ambon, mereka berlayar dengan kapal ke Tual di Kei Kecil. Berdekatan dengan stasi pusat dari misi MSC di Langgur. Mereka diterima dengan sangat hangat dan ramah tamah. Dengan berbagai music dan nyanyian para misionaris baru ini dijemput di pelabuhan oleh umat beriman. Dari sana mereka dengan prosesi menuju gereja untuk menyanyikan ‘Te Deum’ meriah (….hlm 48).

Dari Tual mereka menyebar, dengan pembagian sbb:

  1. Pimpinan Van Egmond pergi dengan Vugts ke Ternate, yang akan berfungsi sebagai pusat misi yang baru ini.
  2. Moors dan Vendrig ditentukan untuk Manokwari.
  3. Sdr. Louter dan Tetteroo berangkat ke Kaimana

Pada 18 maret 1937 mereka yang terakhir ini menginjakkan kakinya di niuew-guinea. Karena itu, tanggal ini dipandang sebagai titik permulaan kehadiran fransiskan di Papua. Dari Kaimana pergilah Louter dan Tetteroo ke Fakfak, tepatnya di Gewirpe, sebuah desa yang terletak setengah jam berjalan kaki dari Fakfak.

Keempat yang lain via Ambon tiba di Ternate pada 20 Maret. Dari sana Moors dan Vendrig berlayar terus ke Manokwari. Demikianlah kelompok itu tersebar dalam daerah yang begitu luas dan mereka pun memulai pekerjaan mereka  dalam situasi yang sama sekali berlainan. Mereka tidak lama tinggal berenam saja. Masih dalam tahun yang sama, ditunjuk tiga orang misionaris baru, dua orang diantaranya baru saja ditahbiskan, Adelphus van Leeuwen dan Auxilius Guikers serta seorang pater yang sedikit lebih tua: Jucundinus Frankenmolen. Dia ini telah melewatkan beberapa tahun menjadi pastor pembantu dan mengajukan diri untuk bekerja di misi yang baru ini. Setelah melewatkan waktu yang singkat tinggal di Jawa, di mana mereka antara lain belajar bahasa Melayu dari Oscar Cremers, tibalah mereka pada akhir 1937, juga di Ternate  (…..hlm 58-59)

 RIWAYAT SINGKAT HIDUP MISIONARIS PERDANA

Philip Tettero

Lahir di Den Hoorn 07-2-1912.  Novisiat 1929; Profesi Sementara 1930; Profesi Meriah 1933; ditahbiskan imam 1936. Dia adalah salah seorang anggota kelompok pertama yang mulai bermisi di Irian Jaya. Tempat dan Karya: Tiba di Irian 18-3-1937; pastor di Babo 1937-1947: diinternir Jepang 1942-1945; Wembi 1948 -1951; Pastor di Arso 1951-1953; di Abepura sebagai Sekretaris dari Mgr. Cremers 1953-1955; Hollandia- Haven sebagai pastor 1955-1958; Pastor di Jayapura 19631967; di Enarotali 1967-1970; Diyai 1975-1978; 1979-1984 ia melakukan asistensi di berbagai tempat seperti: Moanemani, Mabilabol dan Admisibil serta Sentani; 1987 ia ke Nabire menetap di sana hingga 25 Agustus 1991. Awal 1992 ia kembali ke Belanda. Meninggal dunia di Warmond, Belanda dalam usia 94 tahun pada tanggal 1512-2006.

Nerius Louter

Meninggalkan dunia di Warmond, Belanda 24 November 1982 dalam usia 80 tahun, sebagai Fransiskan 61 tahun, sebagai imam 54 tahun. datang di Irian Jaya tahun 1937, bersama dengan Sdr. Saturninus van Egmond, Filip Tetteroo, Bas Vendrig, Fulco Vugts dan Zeno Moors sebagai kelompok misionaris Fransiskan yang pertama di Irian Jaya. Setelah berkarya di Irian Jaya selama 30 tahun, pada tahun 1966 kembali ke Belanda. Tempat dan karya: Mulai bekerja di Fak-Fak. Pada permulaan perang dunia II ditawan oleh tentara Jepang beberapa tahun. Setelah perang ia dipercayakan mengelola pendidikan guru untuk sekolah-sekolah di kampong di pedalaman. Ia membuka pusat pendidikan itu di sebuah lembah. Di sekolah dan di asrama ia dilihat sebagai ‘bapa’, baik oleh para guru, karyawan, maupun oleh anakanak didiknya. Ia adalah seorang yang berwibawa. Ia mendirikan sekolah pertama untuk pendidikan guru pria, tetapi kemudian juga untuk wanita. Tahun 1966 ia kembali ke negeri Belanda, tepat 30 tahun setelah ia tiba di Irian Jaya.

Saturninus van Egmond

Lahir di Belanda 9 November 1893. Masuk Novisiat.. (Belum diketahui). Tiba di Indonesia tahun 1937 untuk menjadi misionaris di Irian Jaya dan Maluku. Setelah 8 tahun berkelana di beberapa tempat di Irian Jaya dan Maluku mewartakan Kabar Gembira, pada 1945 ia kembali ke Belanda. Pada 2 Januari 1987 ia meninggal dunia di Katwijk, Belanda dalam usia 93 tahun, 74 tahun sebagai Fransiskan. Tempat dan karya: Pada tahun 1937 ia menetap di Ternate, menjadi Superior Regularis pertama. Ia sempat mendirikan gereja, sekolah dan rumah bagi Suster-suster dari Heerlen, yang sampai saat ini masih berkarya di Irian Jaya. Waktu Perang Dunia II, tahun 1942 ia masuk kamp di Ambon. Ketika terluka parah, ia dipindahkan ke kamp di Pare pare. Karena kekurangan vitamin, matanya menderita sakit, dan rupanya penyakit mata tersebut dideritanya seumur hidup.

Fulco Vugts

Lahir di Bokhoven, Belanda 23 Februari 1911. Masuk Novisiat 7 September 1929 di Hoogcruts. Ditahbiskan 22 Maret 1936. Tiba di Indonesia 24 Januari 1937. Meninggal dunia di Jakarta 6 Oktober 1978, dalam usia 67 tahun, 49 tahun sebagai Fransiskan, sebagai imam 42 tahun. Tempat dan karya: Tahun 1937 di Ternate. Tahun 1939 di Tobelo, tugas di sini berat, sebab umat tinggal jauh satu sama lain. Tahun 1941 di Manokwari. Tahun 1942 di Ambon, Makasar, dan Pare-pare. Tanggal 1 April 1942 ia ditangkap dan masuk tahanan Jepang di Ambon bersama sekitar 500 orang Eropa lain. Kemudian dipindahkan ke Sulawesi di mana mereka sangat menderita. Tahun 1945 setelah dibebaskan ia mulai bertugas lagi di Ternate, di pulau Morotai dan kota Tobelo. Tahun 1947 ia dipindahkan ke Jayapura (Hollandia) dan bekerja sebagai prokurator misi dan pastor Jayapura. Tahun 1948 cuti ke Belanda, setelah kembali dari cuti tidak berkarya lagi di Irian Jaya

Zeno Moors

Meninggal dunia di Groningen, Belanda 18 Maret 1955, dalam usia 45 tahun, sebagai Fransiskan 25 tahun. Datang pertama kali di Indonesia tahun 1937. Ketika kesehatannya terganggu setelah keluar dari camp di Pare -pare, ia pulang ke Belanda untuk berobat. Pada tahun 1947 kembali ke Indonesia.  Setelah berkarya selama tiga tahun, karena alasan kesehatannya terpaksa ia kembali ke Belanda pada tahun 1950. Tempat dan karya: Ia termasuk kelompok Fransiskan pertama yang berkarya di Irian Jaya. Tahun 1937 bertugas di Manokwari. Tahun 1941 bertugas di Halmahera. Ketika tentara Jepang datang, ia ditawan oleh Jepang di Camp Pare-pare. Setelah keluar dari camp, karena kesehatannya terganggu ia pulang ke Belanda. Tahun 1947 kembali ke Indonesia dan bertugas sebagai pastor di Ternate dan sebagai sekretaris Uskup Jayapura.

Sebastianus Vendrig

Lahir di Woerden, Belanda, 23-11-1910. Masuk Novisiat tahun 1931. Profesi Meriah tahun 1939. Tiba di Irian  Jaya pada tahun 1937. Karena sakit saudara kita ini kembali ke Belanda tahun 1966. Pada tanggal 22-12-1995 meninggal dunia di Weert, Belanda dalam usia 85 tahun, 64 tahun sebagai Fransiskan. Tempat dan karya:  Saudara ini termasuk kelompok  saudara yang pertama yang datang ke Irian Jaya. Ia bekerja di Ternate (pusat persaudaraan pertama), Manokwari, Wembi/Arso Abepura, Sorong, Fak-Fak, Biak, dan Jayapura. Pada tahun 1962, sebagai pendahulu dari Sdr. Henk Blom, ia  membangun biara St. Fransiskus APO.

Frans van Leeuwen

Lahir di Den Haag, Belanda 08-12-1909; Novisiat 1930; Profesi Meriah 1934; ditahbiskan imam 1937. Tempat dan Karya:  Pastor di Babo 1937-1938; Fakfak 1939-1942; diinternir Jepang 1942-1945; pastor di Sorong 1947-1950; Paniai 1950-1951; Sorong 1953-1956; Hollandia, Dok V 1957-1959; Biak 1959-1962; Sentani 1966-1968; Abepura 1969-1971; Biak 1971-1974; Sentani 1973-1974; Doom/ Sorong 1977-1980. tahun 1982 kembali ke Belanda, meninggal dunia pada tanggal 05 Juli 1999 di Warmond.

 

Auxilius Guikers

Meninggal dunia di Ransiki, 16 April 1942 dalam usia 31 tahun, sebagai Fransiskan 11 tahun, sebagai imam 5 tahun. Datang di Irian Jaya Desember 1937, berkarya di Irian Jaya 4 tahun 4 bulan. Tempat dan karya: Mulai Desember 1937 ditugaskan di Fak-Fak selama satu tahun. Kemudian di Manokwari. Pada tanggal 16 April 1942 ia dibunuh oleh tentara Jepang, ditusuk dengan bayonet. Jenazahnya dibuang ke laut, namun oleh hempasan gelombang jenazah tersebut terlempar kembali ke pantai, kemudian beberapa orang pemuda memberanikan diri untuk menguburkannya.

Jucundinus Frankenmolen

Meninggal dunia di Alverna, Belanda 3 Juli 1983 dalam usia 78 tahun, sebagai Fransiskan 58 tahun. Tiba di Irian Jaya tahun 1937, setelah berkarya selama 10 tahun, pada tahun 1948 kembali ke Belanda. Tempat dan karya: Tahun 1937 di Jayapura ia mulai tugas pastoralnya di antara para kolonis yang tinggal di pantai utara Irian. Meskipun misi katolik dilarang membuka pos baru oleh pemenrintah. Namun Sdr. Yucundinus mendapat izin untuk mulai berkarya di daerah Keerom, sebab misionaris protestan tidak berani masuk ke daerah tersebut. Waktu perang dunia II Sdr. Yucundinus ditawan oleh Jepang. Tahun 1948 ia kembali ke negeri Belanda.

Dengan membaca dan menyimak kisah perjalanan hidup  mereka dengan segala perjuangan dan semangat, kita juga perlu bertanya pada diri kita masing-masing. Sebab, kita para saudara dina adalah buah dari karya misi perdana. Untuk itu, pertayaan refleksi bagi kita, apa niat dan motivasi yang harus saya lakukan untuk melanjutkan karya misioner mereka, di tanah Papua setelah 86 tahun?

 

Editor : Admin

Penulis : Sdr. Wilhelm W. Bungan, OFM

 

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × four =