Renungan Kelana Sabda, Kamis 07 Desember 2023

Rumah Diatas Batu Karang

Nikolaus
Yes. 25:6-10aMzm. 23:1-3a,3b-4,5,6Mat. 15:29-37.
BcO Yes. 5:1-7
Warna Liturgi Ungu

Setiap manusia tentu menginginkan kehidupan yang bahagia. Tidak ada satupun yang ingin hidupnya menderita. Alasan ini yang kemudian membuat manusia terus mengusahakan cara untuk dapat mencapai hidup yang bahagia itu. Namun, kerap kali jalan yang kita pilih adalah pilihan yang tidak tepat. Artinya, kita telah melepaskan dasar hidup yang menjadi pegangan hidup yakni, Tuhan.

Bacaan Injil hari ini ingin menghantar kita pada permenungan tentang dasar (jalan) hidup yang harus dipilih. Penginjil Lukas menggambarkannya dalam dua macam dasar. Mendirikan rumah di atas batu (kuat/tidak roboh) dan mendirikan rumah di atas pasir (rubuh/rusak). Pertanyaannya adalah mana yang harus dipilih dan bagaimana caranya? Tentu yang harus kita pilih sebagai jalan hidup adalah rumah yang didirikan di atas batu. Cara kita untuk dapat mendirikannya adalah dengan, “mendengar perkataan-Nya dan melakukannya”. Cara yang begitu sederhana namum dalam prakteknya sulit dijalankan.

Saudara dan saudari, mencapai hidup yang bahagia tidaklah mudah. Kita akan terus diperhadapkan dengan masalah-masalah yang tiada habisnya dan begitu kompleks. Karena itu dasar hidup kita harus diletakkan pada dasar batu agar kuat. Batu itu adalah Allah sendiri. Inilah pegangan dalam menjalani kehidupan.

Saudari dan saudara, kuncinya hanyalah kemampuan untuk mendengar dan melakukan kehendak Bapa dalam seluruh hidup. Yakinlah dalam iman bahwa kebahagiaan akan datang selama kita terus berpegang dan meletakkan seluruh hidup hanya pada Tuhan. (MY)

Pace e bene

 

 

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen + 8 =