Renungan Harian Kelana Sabda, Senin 13 April 2020

Bacaan I : Kis. 2:14,22-32

Bacaan Injil : Mat. 28:8-15

Ketidakpuasan yang Tidak Menguntungkan

Sikap kurang puas itu wajar. Kurang puas dalam arti ia belum mencapai seperti apa yang diharapkannya. Misalnya ketidakpuasan dalam hal studi. Ketika melihat prestasi orang lain dapat dikatakan baik, tentunya orang lain akan lebih berusaha agar mencapai lebih dari apa yang di cita-citakannya. Dalam konteks ini, dapat dilihat ketidakpuasan antara berhasil atau gagal yang dialami oleh seseorang. Dan tentunya seseorang merasa tidak puas, tetapi dibalik usaha dan giatnya akan memperoleh keuntungan dan manfaat bagi dirinya ke arah yang berguna bagi dirinya sendiri. Hal inilah yang seringkali dikatakan tidak puas tetapi akhirnya puas setelah ada sebuah usaha dan kerja keras yang diperolehnya.

Dalam bacaan Injil digambarkan bahwa imam-imam kepala seakan-akan merasa tidak puas ketika Yesus dikabarkan bangkit. Mereka berunding dan hendak mengatakan bahwa Yesus telah dicuri oleh murid-Nya. Mereka tidak puas kalau Yesus bangkit. Yang ada dalam pikiran mereka bahwa nantinya kuasa yang mereka miliki tiada artinya. Dalam kehidupan kita pun seringkali terjadi bahwa kita merasa tidak puas dengan sesuatu atau seseorang. Adakalanya tidak puas karena ada orang yang dalam kehidupannya lebih berpengaruh dalaam hidup kita. Kita malah menjadi cemburu, dan berusaha mencederai kehidupan orang lain, ketimbang kita bangkit dan berusaha agar arah dan tujuan hidup kita menjadi lebih baik. Marilah kita terus berjuang untuk perkembangan hidup kita, daripada selalu bersikap tidak puas dengan apa yang baik yang Tuhan kerjakan dalam diri orang lain.

Pace e Bene,

Sdr. Afrianus Papak, OFM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 5 =