Renungan Hari Raya Kamis Putih, Kamis 9 April 2019

Renungan Kamis Putih

Pengantar:

Kita sering mengenang masa lalu kehidupan kita dan membuat kita merasa ingin mengulang kembali masa itu. Kenangan masa lalu bisa menjadi secara rohani bisa dilihat sebagai “peringatan” Allah memulai karya baik dalam hati manusia dan tetap menyelesaikan karya itu. Perayaan Paskah bagi orang Yahudi merupakan tanda bahwa Allah tetap membimbing dan membebaskan umatNya. Allah membebaskan mereka dari perbudakan menuju tanah terjanji, dimana hubungan dengan Allah bisa dijamin dengan penuh kemerdekaan. Dalam bacaan II, mengutip kesaksian Rasul Paulus tentang perayaan ekaristi yang menjadi tradisi kuno dalam kehidupan jemaat kristen. Ekaristi menjadi kenangan akan apa yang terjadi pada diri Yesus dan para muridNya menjelang akhir hidupNya. Ekaristi juga menjadi peringatan agar para murid mengamalkan hidupnya seperti Yesus sendiri. Dalam bacaan Injil, Yohanes tidak hanya berbicara tentang Paskah melainkan sikap Yesus dalam pelayanan kasih yang menjadi landasan sikap para muridNya.

Renungan:

Para saudara yang terkasih dalam bacaan I, kita mendengar tentang Allah menyuruh orang Hibrani yang diam di Mesir meninggalkan tempat mereka dianiaya. Mereka merayakan upacara Paska pada malam keberangkatan mereka. Perayaan tahunan Yahudi ini merupakan peringatan akan pembebasan Israel dari perbudakan Mesir. Seperti umat Yahudi dalam merayakan Paskah mengenangkan perbudakan yang dimusnahkan oleh Allah dalam pembebasan, demikian pula kita orang Kristen merayakan Paskah untuk memperingati Paskah Yesus, bahwa “Ia telah beralih dari dunia ini kepada Bapa.” Peringatan akan pengenangan ini terungkap dalam anamnesis, doa yang diucapkan dalam Doa Syukur Agung. Umat Kristiani merayakan perjamuan ini untuk memperingati sengsara, wafat, pemakaman, dan kebangkitan Tuhan. Itulah makna perjamuan itu. Perjamuan Paskah mengandung dua unsur yaitu persatuan umat dalam memperingati peralihan Yesus dari dunia ini kepada Bapa-Nya dan juga menantikan kedatangan Tuhan, menanti dengan aktif, dengan berbuat baik, dengan hidup seturut kehendak Bapa.

Para saudara yang terkasih, dalam bacaan II kita mendengar tentang umat di Korintus merayakan ekaristi yang sama dengan perjamuan agape (santapan kasih). Perjamuan ini sering menimbulkan perselisihan, perpisahan di antara umat, karena orang kaya berkumpul di lingkungan meja makan mereka sendiri dan membiarkan orang lain berada dalam kekurangan. Untuk menghentikan kebiasaan itu, Rasul Paulus sebagai pembina jemaat yang bertanggungjawab mengingatkan umat tentang arti ekaristi dalam kehidupan kekristenan. Ia menunjukkan ada hubungan yang erat antara ekaristi dan persekutuan hidup Gereja, antara tubuh sakramental (orang yang mengambil bagian dalam ibadat sakramen) dan tubuh mistik (orang yang dipersatukan dalam hidup Kristus karena iman).

Para saudara yang terkasih, dalam bacaan Injil Penginjil Yohanes menceritakan tentang pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Yesus. Ada dua bagian besar pada pembasuhan kaki ini: Peristiwa pembasuhan kaki dan ajaran bagi para murid. Dari peristiwa perjamuan malam terakhir ini ada dua tokoh mendapat perhatian khusus yaitu Yudas Iskariot dan Petrus. Yudas Iskariot hadir dalam pesta perpisahan itu. Yudas yang telah dirasuki oleh semangat jahat, telah siap pula dengan rencananya sendiri. Ia mengkhianati Gurunya dan menjualnya. Perjamuan malam terakhir merupakan perjamuan kenangan akan Yesus sekaligus mengingatkan para murid bahwa satu dari mereka ternyata mampu mengkhianati Guru mereka. Cinta Kasih Kristus yang murni tidak terlepas dari pengkhianatan. Pengkhianatan itu datang dari “dalam”. Sedangkan Petrus ditampilkan sebagai murid yang percaya akan kekuatan sendiri, hingga kerap bertindak “sembrono” mengakibatkan pengalaman pahit baginya. Petrus bagaimana pun situasinya masih mampu mengarahkan diri kepada gurunya. Ini merupakan gambaran sikap yang harus dipupuk dalam kehidupan kristiani kita. Petrus masih memiliki kekurangan, cacat yang memang sering berbahaya, bahkan bisa dianggap gagal. Namun dengan kekuatan Kristus ia berani dan bersedia membangun hidupnya kembali dengan terarah pada Yesus Kristus sebagai Sang Guru.

Para saudara yang terkasih, selain kedua tokoh di atas, ada tokoh yang lebih menjadi perhatian penuh yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus dalam pesta perpisahan ini tidak meninggalkan pesan-pesan dengan pidato yang panjang lebar, melainkan meninggalkan “peringatan” cinta kasih dalam suatu tindakan nyata. Dengan demikian Para Rasul memiliki sebuah gambaran nyata dari tindakan cinta kasih itu dalam pengabdian mereka terhadap sesama. Tindakan itu adalah Yesus membasuh kaki para muridNya; sebuah tugas pelayanan yang juga mewujudnyatakan cinta kasih. Ia memberikan sebuah tugas pelayanan yang hendaknya dilaksanakan oleh para Rasul sebagaimana Ia mengatakan: “Aku telah memberikan teladan bagimu, supaya kamu juga berbuat sama seperti  yang telah Kuperbuat kepadamu”. Inilah yang menjadi hukum baru bagi kehidupan Para Rasul.

Para saudara yang terkasih, Kita selalu berkumpul untuk merayakan Ekaristi. Namun pada hari ini kita merayakan dengan memberikan satu tekanan khusus yaitu kita merayakan Ekaristi untuk mengenang Tuhan Yesus pada malam Ia dikhianati. Tanda cinta kasihNya Ia nyatakan dalam Perjamuan terakhir dengan murid-muridNya, diberikanNya pula dalam sengsara dan wafatNya yang tergabung dalam perjamuan terakhir. Maka setiap kali kita berkumpul untuk merayakan perjamuan Tuhan, “kita mewartakan kematian Tuhan sampai kedatanganNya. Sikap perjamuan itu secara istimewa dinyatakan pada malam ini dengan pembasuhan kaki. Dengan membasuh kaki para muridNya Yesus mengajarkan kepada kita bahwa tugas sebenarnya adalah melayani. Sebagai murid-murid Yesus maka hendaknya kita saling melayani. Hendaknya kita melatih diri dalam cinta kasih terhadap sesama dalam lingkungan komunitas, dan dimana pun kita berada dengan melayani. Kita dipanggil Tuhan menjadi pengikutNya untuk berbuat seperti yang telah Ia perbuat kepada para muridNya karena panggilan kita adalah menjadi pelayan (menjadi saudara dina berarti menjadi hamba bagi semua orang).

Pace e Bene,

Sdr. Daniel Lau, OFM

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 2 =