Bumi Rumah Kita Bersama Menjerit Kesakitan-Sebuah Refleksi Ekologis

Bumi rumah kita bersama merupakan tempat tinggal bersama karena dari padanyalah kita hidup. Namun kita lihat dan sadari bersama, saat ini bumi kita mengalami kesakitan (Bdk. Laudatosi: Art. 2. hal.1). Hal tersebut, dapat dilihat banyak terjadinya pencemaran udara, terjadi masalah air, kerusakan tanah, dan kehancuran aneka ragam hayati, itu dilakukan oleh kita manusia yang hidup di tengah bumi ini.  Sikap dan cara macam ini  melecehkan ‘dia’ saudari kita atau bumi kita. Ia “mengeluh dalam sakit bersalin“ (Roma. 8: 22). Karena sikap kita yang menganggap bahwa kitalah pemilik dan penguasa sehingga seenaknya menjarahnya.

Sejak awal penciptaan,  Allah  telah menciptakan bumi itu baik adanya (Lih. Kej. 1: 13), bahkan itu menjadi surga bagi kehidupan  manusia pertama (Adam dan Hawa) dan semua makhluk hidup  yang tinggal di dalamnya yaitu tumbuh-tumbuhan dan binatang. Situasi macam itu juga menjadi impian sekaligus juga cita-cita yang harus kita ciptakan pada bumi kita saat ini. Kesadaran macam inilah harus dibangkitkan dan dihidupkan berkat daya Roh kudus dalam diri kita masing-masing. Tetapi kesadaran itu, telah musnah dirusak oleh egoisme yang menjadi penyakit pada nurani (hati), nalar (pikiran) dan naluri (kehendak) kita.

         Sikap egois mendorong kita melakukan eksploitasi terhadap alam sehingga alam menjadi rusak. Tindakan merusak alam adalah dosa (Laudatosi. Art. 8. Hal. 6). Selain itu, kita manusia dengan kreatifitas dan kuasa dengan teknologi yang canggih mendorong kita melakukan eksperimen terhadap alam untuk memenuhi keinginan kita. Kita menjadi manusia antroposentris yang melihat bumi sebagai objek yang dapat difungsikan untuk memenuhi kebutuhan kita sebagai subjek tanpa mempertimbangkan dampak dan resikonya. Di sinilah krisis ekologis terjadi karena kita manusia menggunakan teknologi dan kuasa hanya kepentingan dan kebutuhan kita semata.

         Persoalan ekologis menjadi kecemasan dan duka kita bersama karena kita berada dan hidup satu bumi rumah kita bersama. Kita tidak bisa lari dari kenyataan ini, dan kita tidak bisa saling mempersalahkan satu dengan lainnya tetapi bagaimana kita memikirkan bersama tentang masa depan bumi kita ini. Memang kita hidup di saat ini namun perlu diingat bagaimana dengan generasi yang akan datang. Melihat kenyataan ini kita dipanggil dan disadarkan untuk duduk bersama berbicara dan memikirkan tentang langkah-langkah dan aksi yang dapat kita lakukan demi keselamatan bumi rumah kita bersama. Ini merupakan tanggung jawab kita bersama tidak mengenal siapa pun tetapi untuk kita semua yang tinggal dan menetap di bumi ini,  menjadi tugas, peran, dan tanggung jawab bersama bagi bumi ini.

            Kesadaran akan tanggung jawab terhadap bumi rumah kita bersama perlu di didik dalam diri kita masing-masing agar didikan tersebut melahirkan suatu gaya hidup baru bagi kita. Gaya hidup baru inilah boleh kita sebutkan sebuah pertobatan ekologis. Melalui pertobatan ekologis semua orang sampai pada kesadaran untuk memelihara dan menciptakan bumi sebagai rumah kita bersama. Di sinilah kita membangun  keharmonisan antara kita dan lingkungan.   Oleh karena itu, marilah kita mewujudkan nasehat ini : “…Marilah kita menikmati hal-hal baik yang masih ada, dan bergegas menggunakan alam seperti di masa muda” (Keb.2:6).

Sdr. Matius Yerikho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × two =