Renungan Kelana Sabda, Rabu 20 Desember 2023

Nubuat Tentang Sang Penyelamat

Hari Biasa Khusus Adven
Yes. 7:10-14Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6Luk. 1:26-38.
BcO Yes. 48:1-11.
Warna Liturgi Ungu

Penantian kedatanggan seorang Penyelamat bangsa Israel sanggat dirindukan oleh bangsa Israel sendiri. Kedatanggan ini rupanya sudah diramalkan dan dinubuatkan oleh para nabi dalam perjanjian lama, salah satunya adalah Nabi Yesaya sebagaimana dalam bacaan pertama

Pada bacaan pertama, digambarkan bahwa nabi Yesaya hadir sebagai penggantara Tuhan untuk mennyatakan suatu tanda kepada bangsa Israel. Tanda apakah itu? Kita dapat melihat bahwa yang dimaksudkan oleh Yesaya adalah suatu nubuat tentang kelahiran atau kedatanggan Imanuel dari seorang perawan. Wahyu keselamatan dalam perjanjian lama ini kemudian memperoleh penggenapannya dalam perjanjian baru. Jika dilihat, pewahyuan ini terjadi akibat sikap keluargga Daud yang dalam kata “melelahkan” berarti membebani. Sebagaimana Nabi Yesaya berkata “Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Inilah salah satu kecenderunggan kita manusia. Hidup membebani diri sendiri dan orang lain. Kita terkadang binggung dengan arah hidup kita. Meminta bantuan kepada Tuhan. Kemudian, menjadikan doa sebagai bentuk pelarian.

Puncak pewahyuan yang telah dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama mendapat penggenapanya dalam diri Yesus Kristus. Namun sebelum kelahiran itu, tentu ada sebuah dialog iman yang terjadi antara dua tokoh penting dalam sejarah iman kita. Kita dapat melihat bagaimana penginjil Lukas mengisahkan secara jelas percakapan itu. Bunda Maria hadir sebagai tokoh iman yang sejati. Kenapa demikian? Puncak dari dialog iman ini ialah keikut sertaan Maria dalam sejarah keselamatan umat manusia. Penyerahan diri secara total yang Maria tunjukan adalah kunci iman kita “sesunguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Sungguh suatu penyerahan dan kepercayaan yang total.

Bacaan-bacaan pada hari ini sama-sama bernubuat tentang Kelahiran. Konteks  Perjanjian Lama, adalah Allah-Yesaya-Ahas. Perjanjian baru, Allah-Gabriel-Maria. Isi nubuat “Kelahiaran”. Maksudnya ialah nubuat kelahiran Imanuel terpenuhi dalam diri Yesus. Peristiwa dialog Malaikat dan Maria adalah peristiwa iman. Jadi berimanlah dengan total, sebab sejarah iman kita adalah bukan suatu sejarah yang fiktif. Dengan demikian kita diundang supaya mencontohi iman Maria. Percaya bukan karena takut atau atas dasar perasaan manusiawi kita, melainkan percaya karena kita sadar dan tahu bahwa kekuatan terbesar kita adakah rahmat dari Tuhan yang terwujud melalui peristiwa kelahiran Yesus Tuhan kita yang akan kita sambut nanti. (GR)

Pace e bene

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + 1 =