Renungan Harian Kelana Sabda, Rabu 24 Maret 2021

Bacaaan: Dan 3:14-20.24-25.28; Yoh 8:31-41

Kesetiaan Kepada yang Benar

Para saudara yang terkasih perihal bacaan pertama sebagaimana dikisahkan oleh Kitab Daniel, tentu memuat suatu mukjizat, keajaiban, dan juga suatu hal di luar penalaran kita. Tepat ketika raja Nebukadnezar meminta dengan menyatakan kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego bahwa jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?”  Melalui pernyataan itu Abednego dan kedua sahabatnya justru tak mengindahkannya dengan menjawab Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja. Hal itu membuat raut wajah raja Nebukadnezar geram terhadap Abednego dan kedua sahabatnya itu, hingga memutuskan membakar mereka di perapian menyala, hingga sementara itu Azarya berdoa, katanya Keputusan-keputusan benar telah Kaujalankan dalam segala sesuatunya yang Kau datangkan atas diri kami dan atas kota suci nenek moyang kami, yaitu Yerusalem. Sungguh, sesuai dengan keadilan dan kebenaran telah Kaudatangkan semuanya itu oleh sebab segala dosa kami! Kisah kecil ketiga sahabat pada kitab Daniel ini merupakan sebuah cuplikan keajaiban Allah atas kepasrahan hambanya Sarakh, Mesakh, dan Abednego pada titah raja Nebukadnezar. Walau demikian mengapa itu disebut keajaiban, karena didalamnya ada seutas doa dari Azarya, di mana dengan kerendahan hatinya ia mengakui dosa dari diri manusiawi serta riwayat nenek moyang terdahulu, sebagaimana perikop Daniel yang kita renungkan pada hari ini meletakkan doa tersebut di akhir ayat.

Tak luput pula pada bacaan Injil Yohanes sebagaimana kita renungkan pada hari ini, tentang perdebatan Yesus dengan orang-orang Yahudi perkara turunan Abraham dan kedatangan Anak Allah demi kemerdekaan atas dosa. Pernyataan awal yang Yesus berikan memuat suatu respon tak menarik dari orang-orang Yahudi. Mereka menyatakan bahwa “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Dengan tegas Yesus pun menjawab “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.’’ Begitulah rupa soal turunan Abraham dan Kemerdekaan dosa dari sang Anak Allah, menuai banyak pernyataan hingga sampai pada sebuah upaya untuk membunuh Yesus, tepat ketika Yesus menyatakan tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham.

Para saudara yang terkasih, dua perikop bacaan ini memuat suatu nilai ketakwaan dalam rupa kesetiaan kepada yang benar. Mulai dari Kitab Daniel menggambarkan kepasrahan hamba terhadap murka dari raja Nebukadnezar dan Injil Yohanes memaparkan kisah Yesus dengan penegasannya terkait hamba dosa serta kemerdekaan dari Anak Allah, keduanya merupakan suatu letak pengangkatan nilai setia, tepat ketika Daniel memberi rupa hamba yang pasrah dari tiga sahabatnya itu, dan Yesus mengangkat itu dengan memberi suatu landasan kemerdekaan atas perhambaan dosa. Inilah letak perbedaan yang patut menjadi permenungan kita bersama, bahwa hamba seperti apakah kita di zaman ini? sudahkah kita mengangkat diri kita dari perhambaan dosa? Secara garis besar pada pekan sengsara ini, sudah seharusnya hal tersebut timbul pada hati kita untuk bermenung secara lebih mendalam, agar kita melampaui seluruh diri kita dari seluruh kategori sebagaimana kita tempatkan pada bilik hidup kita. Secara jujur perlulah kita hidup dengan memberi sebagai hamba yang tulus, tanpa perhitungan. Mengabdi dengan setia serta takwa untuk bersimpuh secara rendah hati, hal itulah merupakan suatu pengangkatan kita dari hamba dosa. Sehingga kita pun dapat dipersatukan bersama dengan-Nya dalam kehidupan kekal.

Pace e bene,

Sdr. Febri, OFM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + 1 =