Renungan Harian Kelana Sabda, Minggu 1 November 2020

Injil Matius 5:1-12a.

KEBAHAGIAAN

Kita memiliki konsep kebahagiaan sendiri. Konsep kebahagiaan yang kita miliki bersifat praktis, nyata, real, dalam bentuk materi dan tidak abstrak. Kita mengatakan bahagia ketika memiliki banyak uang, memiliki mobil, motor, memiliki handphon, jaringan internet yang baik, rumah mewah, banyak lahan, hewan peliharaan yang banyak, hasil panen yang berlimpa ruah dan memiliki banyak teman. Kalau kita tidak memiliki hal-hal itu maka bukan kebahagiaan. Kita akan marah, jengkel, putus asa dan gelisah ketika kita hidup dalam kemiskinan, keterbatasan, kesedihan dan penderitaan. Semua kekurangan material itu kita lihat sebagai masalah besar yang menghambat kebahagiaan kita. Kita mengalami kegelisahan, hati gusar dan cepat-cepat mencari solusi untuk mengatasinya.
Namun, Yesus memiliki konsep kebahagiaan yang lain. Konsep kebahagiaan yang berlawanan dengan konsep kebahagiaan kita. Yesus mengatakan, “mereka yang berbahagia ialah orang yang hidup miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang mempunyai Kerajaan Surga”. Konsep kebahagiaan Yesus bersifat abstrak. Pertama-tama Yesus tidak berbicara tentang kebahagiaan yang bersumber dari kebutuhan jasmani atau kebutuhan sehari-hari manusia yang berlimpa ruah, akan tetapi kebahagiaan yang tercipta karena hubungan relasi yang intin dan rutin dengan Tuhan dalam kehidupan setiap hari. Kebahagiaan dan Kerajaan Allah itu tercipta ketika orang menerima Allah sebagai sumber hidup dan juruselamat dalam hidupnya serta membangun relasi yang tak kunjung putus.
Kebahagiaan milik semua orang, entah orang kaya ataupun orang miskin. Orang miskin yang dalam keadaan kemiskinan dan kemalangannya, namun tidak mencintai kebenaran Allah dan tidak mengandalkan Tuhan dalam hidupnya maka orang miskin yang demikian tidak akan mengalami/memiliki kebahagiaan. Kebahagiaan akan menjadi milik orang kaya apabila dalam kekayaan itu ia tetap mencintai Allah dan kebenaran-Nya. Jadi, Allah tidak menyediakan kebahagiaan untuk orang miskin saja atau untuk orang kaya saja tetapi Ia menyediakan kebahagiaan bagi orang yang miskin di hadapan Allah dan mencintai kebenaran-Nya.
Hari ini, Gereja Katolik seluruh dunia merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Semua Orang Kudus yang berbahagia di surga adalah orang-orang seperti kita yang masih berziarah di bumi ini. Mereka menikmati kebahagiaan di dalam Kerejaan Allah, karena selama hidup di dunia mereka sungguh-sungguh hidup miskin dihadapan Alla; mencintai Allah dan kebenaran-Nya. Kita yang masih berziarah di bumi ini diajak untuk senantiasa mencintai Allah dan kebenaran-Nya. Dalam situasi suka ataupun duka, dalam keadaan miskin ataupun kaya hendaknya kita andalkan Tuhan, karena hanya dengan demikian hidup kita berkenan di hati Allah dan pada akhirnya kita menjadi pemilik kebahagiaan dan Kerajaan Allah.

Sdr. Alpius Alpen Mujijau, OFM

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − 3 =