Renungan Harian Kelana Sabda, Kamis 5 November 2020

Injil Lukas, 15:1-10

Membantu yang Berdosa untuk Bertobat

Dalam bacaan injil hari ini, Yesus menyampaikan suatu perumpamaan tentang domba yang hilang. Latar belakang munculnya perumpaan ini bermula dari pernyataan atau protes dari orang-orang farisi dan ahli taurat terkait dengan pemungut cukai dan orang berdosa yang datang mendengarkan Yesus ketika ia sedang mengajar. Kedekatan orang berdosa dan pemunggut cukai yang menerima dan makan bersama Yesus membuat orang farisi dan ahli taurat ini tidak terima sehingga mereka mengatakan bahwa ia menerima orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.
Sikap dan perkataan orang Farisi dan ahli taurat dalam bacaan injil hari ini, mereka mempersoalkan kepantasan para pemungut cukai yang datang kepada Yesus. Bagi orang Farisi dan ahli taurat, pemungut cukai adalah sampah masyarakat yang seharusnya dihindari. Mereka tidak pantas diajar dan Yesus juga tidak pantas makan bersama mereka. Ironisnya, para pemungut cukai dan orang berdosa itu mendekati Yesus untuk mendengarkan firman Tuhan; sedangkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat justru sering mendekati Yesus dengan maksud mencari kesalahan atau mengkritik Yesus.
Di sini kita dapat melihat dua sikap dan pandangan yang berbeda antara Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Yesus berpandangan bahwa “akan ada kesukaan besar di surga apabila seorang berdosa bertobat”. Sedangkan , orang Farisi dan ahli Taurat berpandangan sebaliknya, bahwa “akan ada kesukaan besar di surga apabila seorang berdosa diberantas dari hadapan Allah.” Ini merupakan dua pandangan yang sangat berbeda.
Dalam bagian ini Yesus menegur orang Farisi dan ahli Taurat tentang pemikiran teologi mereka yang sudah jauh melenceng dari Ajaran Allah. Yesus berkeberatan dengan orang Farisi dan ahli Taurat itu melalui perumpamaan tentang “Domba yang Hilang”. Melalui perumpamaan ini Yesus mau menunjukkan apa yang ada di hati Allah terhadap para pemungut cukai dan orang-orang berdosa.
Siapakah yang dimaksud dengan “domba yang hilang”? Nabi Yesaya berkata: “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, . . . ”. (Yes 53:6). Kita semua adalah domba sesat itu. Atau paling tidak, pernah menjadi domba sesat. Jika seekor domba tersesat maka dia berada dalam bahaya besar. Jika tak ada pertolongan, maka dapat dipastikan dia akan binasa. Bukankah ini juga menggambarkan situasi diri kita. Kita membutuhkan pertolongan dari pihak lain.
Perhatikanlah perumpamaan ini. Ketika ada satu domba yang hilang, maka sang gembala-lah yang dengan aktif mencari sampai menemukan domba yang hilang itu. Posisi aktif ada di tangan sang gembala, bukan pada si domba. Begitu juga dengan kita, Allah-lah yang menemui kita. Keselamatan kita ada “hanya” karena kasih karunia Allah, bukan hasil kerja manusia. Kita harus menghargai anugerah keselamatan yang Tuhan berikan.
Para bsaudara yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Siapakah kita sampai Allah mau mencari saya tiada habis-habisan? Bukankah kita juga pernah memberontak dan merasa jemu hidup bersama Sang Gembala. Akibatnya, kita tak berdaya dalam kekotoran, tanpa harapan, dan tanpa masa depan. Bukankah Sang Gembala dapat mengganti diri kita dengan domba-domba lain yang jauh lebih baik? Siapakah kita, sehingga Ia mau terus mencari kita? Bahkan, demi menemukan kita, Allah berjuang habis-habisan. Dia telah mengorbankan anak-Nya yang tunggal demi saudara dan saya.
Melalui perumpamaan ini, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Dia bersedia makan bersama orang-orang yang terpinggirkan, baik secara sosial maupun rohani. Sikap Kaum Farisi dan ahli Taurat, seharusnya membuat kita mengoreksi diri: Sebagai murid Yesus Kristus, bagaimana sikap kita selama ini terhadap orang yang kita anggap berdosa dan terpinggirkan?
Perumpamaan ini mengingatkan kita sebagai murid Yesus Kristus, agar tidak mengulangi kesalahan kaum Farisi dan ahli Taurat. Mereka berhasil membuat hukum dan aturan Taurat menjadi segala-galanya, namun meninggalkan jiwa dari Sang pembuat hukum dan aturan Taurat itu sendiri, yaitu Allah yang penuh kasih. Allah mengasihi kita, dan Dia mau kita mengasihi sesama kita. Walau melaksanakan kasih tidak semudah mengucapkannya, tapi kita tahu bahwa: Allah telah mengutus Yesus untuk menyelamatkan yang terhilang dan berdosa, dan Yesus telah memberikan kita Roh Kudus untuk mengerjakan keselamatan yang kita peroleh di dalam-Nya dengan mencari dan membawa pulang yang terhilang.

Pace e bene,

Sdr. Vincen, OFM

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + 18 =