Renungan Harian Kelana Sabda, Kamis, 28 Mei 2020

Yohanes, 17:20-26

Bersatu dengan Bapa seperti Kristus

 

Kita sering mendengar sebuah ungkapan ‘’Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’’. Ungkapan yang begitu singkat, namun memiliki makna yang mendalam bila diwujudkan dan dihayati dalam kehidupan setiap orang. Tatkala hidup dalam persatuan memiliki kekuatan yang dasyat, sebab di dalamnya saling mendukung, menguatkan dan menciptakan kedamaian hidup antara satu sama lain. Ketika orang menghayati persatuan itu, ia pun menerima perbedaan, kekurangan serta mampu menerima siapa saja dalam kehidupannya. Hal ini pun perlunya didasari sikap menerima diri kehadiran orang lain dan mampu merangkul dalam hidup bersama dengan saling memahami setiap tindakan yang diperlihatkan oleh orang lain. Bersatu juga tidak cenderung membentuk kelompok-kelompok tertentu, atau orang-orang yang terasa nyaman dalam hidup kita, melainkan kita mampu menerima dan merangkul siapa pun dalam setiap perjalanan hidup kita. Apabila sikap membeda-bedakan itu selalu hadir dalam diri kita, maka secara perlahan persatuan itu akan runtuh bahkan akan menjadi tidak kuat untuk mempertahankan hubungan persatuan itu. Bersatu dengan orang lain, tidak dimaksudkan juga digunakan sebagai sebuah kesempatan untuk membalas dendam dan memerangi kehidupan orang lain. Melainkan menciptakan kedamaian dan kerukunan hidup yang dirasakan dalam hidup bersama.

Yesus kembali mengingatkan kita dalam bacaan Injil hari ini dengan menginginkan umat-Nya tetap bersatu di dalam Allah yang kita imani. Yesus telah bersatu dengan Bapa-Nya dalam seluruh perjalanan hidup-Nya. Harapan Yesus terungkap dalam doa-Nya, agar umat-Nya kembali bersatu dalam setiap perjalanan hidupnya. Yesus menghendaki selain kita bersatu dengan Allah tetapi juga bersatu dengan sesama manusia yang kita jumpai dalam kehidupan kita. Sebagai orang beriman, kita diharapkan memiliki persatuan dengan Kristus melalui sikap dan tindakan kita sehari-hari. Bagaimana kita mampu menanamkan semangat doa-doa kita dan selalu mendekatkan diri kita terhadap-Nya. Hal ini seringkali kita lalaikan dalam kehidupan kita, sehingga kita merasa terpisah dari-Nya. Kehidupan doa itu akan menjadi renggang dan rapuh sebab hal-hal duniawi yang selalu memergoki di dalam diri kita. Kita kurang mempertahankan persatuan dengan Allah sendiri. Akhirnya hidup kita runtuh dan terasa hampa, tak ada kekuatan di dalam kehidupan kita. Untuk itu, sikap yang mesti kita pertahankan adalah membangun persahabatan secara terus menerus, entah itu dalam situasi sulit maupun menggembirakan hidup kita.

Selain bersatu dengan Kristus, kita pun harus mampu menghidupan persatuan dengan sesama kita. Persatuan yang tidak menimbulkan perselisihan dan dendam antara satu sama lain, melainkan menciptakan kedamaian terhadap orang lain. Setiap perjumpaan kita mestinya membuahkan hasil yang baik kepada orang lain. Apabila kita melihat orang lain sedang dalam penderitaan dan mengalami kesulitan dalam hidupnya, maka kita harus hadir dan memberikan peneguhan serta memberikan motivasi baru dalam hidupnya. Ketika sikap itu terus dibangun, orang lain pun akan merasakan kekuatan dan hubungan persatuan semakin kuat dan tak terpisahkan antara satu sama lain.

Pace e bene,

Sdr. Afri Papak, OFM

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 + 10 =