Renungan Harian Kelana Sabda, Selasa 6 Februari 2024

Membangun Kesuciaan  hati  dan Tubuh 

Perayaan Wajib Paulus Miki
1Raj. 8:22-23,27-30Mzm. 84:3,4,5,10,11Mrk. 7:1-13;
BcO Kej 41:55-42:26
Warna Liturgi Merah

 Dalam bacaan pertama kita mendengar tentang raja Salomo membangun Rumah Allah atau bait suci. Bait Allah itu dibangun dengan kayu pilihan terbaik dan batu berharga.  Karena Allah adalah yang terbaik dan mengatasi segala yang berharga di dunia ini. Refleksi untuk kita dari bacaan pertama ini adalah kita sebagai kediaman Allah yang hidup, mesti membangun kediaman Allah dengan nilai-nilai hidup yang bersifat kebajikan; seperti bersikap lemah lembut, saling menghormati antar sesama, hidup dalam terang Sabda Tuhan dan terutama kita harus menaruh hormat yang kepda Allah sendiri.

Dalam bacaan Injil berbicara tentang kisah Yesus bersama dengan orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi berpandangan bahwa kebersihan tubuh fisik itu melambangkan kesucian hati. Namun Yesus menentang kebiasaan yang keliru ini. Yesus berkata; “kesehatan fisik dan kebersihan tubuh tidak menjamin keselamatan kekal. Kata lain dari perkataan Yesus ini, bahwa mana mungkin manusia membangun bait Allah yang kekal dan kudus dengan bahan yang rapuh dan mudah rusak. Bahan yang mudah rusak itu seperti kemarahan, kesombongan dan yang paling di kecam oleh Yesus yakni hati yang kotor yang ditampilkan oleh orang-orang Farisi. Yesus mengatakan kepada mereka; kamu harus bersih di dalam dan juga di luar tubuh. Suci di dalam dan bersih di luar itulah anak-anak Allah. Dengan begitu, meski kita masih di dunia ini, toh akan memandang hidup itu yang adalah Allah sendiri.

Hidup adalah Tuhan sendiri. Hidup itu telah Tuhan nyatakan melalui Yesus sendiri dan sekarang ada bersama kita adalah Sabda-Nya yang ada dalam kitab Suci. Maka, para saudara dan saudari dengan teguran mendidik dari kitab Suci ini, marilah kita lebih mendekatkan diri kepada Sabda Tuhan. Untuk mendekati Tuhan yang lebih utama adalah kesucian hati kita dan kedua ialah kebersihan tubuh jasmani kita. Sebab bangaimanapun juga kita sekarang hidup dalam tubuh dan dalam kerapuhan ini kita harus mampu untuk memandang hidup kekal itu. Semoga Tuhan memberkati kita, agar kita selalu hati Suci.

Pace e Bene

 

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × 2 =