Renungan Hari Raya Jumat Agung, Jumat 10 April 2020

Renungan Jumat Agung

 

Para saudara yang terkasih dalam Kristus….

Hari ini kita menyaksikankKisah piluh dan sakitnya Sang Anak yang hidup bagaikan sang durjana tanpa memiliki induknya. Taman Getsemani menjadi tempat berdoanya Yesus, namun saat itu menjadi sebuah fragmen di mana anak manusia harus diserahkan kepada sang penguasa kejahatan. Sebelumnya, ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, ia disambut dengan sorak-sorakan ‘’Hosana Putera Daud’’. Namun kini sorak semarai kembali membising dengan  teriakan ‘’salibkanlah Dia…salibkanlah Dia…’’. Yesus yang telah memberikan segala-galanya kepada manusia yang Ia miliki, seakan-akan tak ada artinya dan hilang seketika. Yudas bersama dengan sepasukan prajurit akhirnya berhasil menangkap Yesus. Namun, Yesus tahu akan tiba waktunya terhadap diri-Nya itu. Ia harus menyelesaikan perjalanan hidupNya. Yesus tidak membela diriNya dengan perdebatan yang panjang, namun Ia berusaha untuk menyelesaikan perjalananNya dengan hati yang tegar hanya untuk menebus dosa umatNya. Ia ingin memberikan diriNya pada puncak kasih penebusan sampai tuntas. Ia menyerahkan diriNya dengan rajaman para prajurit hingga bilur-bilur itu membekas pada tubuhNya. Perjalanan itu cukup melelahkan. Jatuh, bangun, jatuh lagi dan bangun lagi, dan terus berjalan hingga pada tempat Ia di salibkan.

Para saudara yang terkasih…  

Sebuah ungkapan pengharapan di atas kayu salib, Eli….Eli…lama sabahtani. DarahNya terus mengalir membasahi tubuhNya, tombak itu telah menyengat dadaNya. Ia merasa sendirian. Murid-muridNya seakan-akan hilang lenyap, tak satu pun yang berani membela dan menemaiNya. Harapan satu-satunya ialah pada BapaNya di Surga. Ia ingin menunjukkan seluruh diriNya untuk penebusan dosa dan keselamatan umat manusia. Di atas kayu salib pun, Ia mengatakan ‘’sudah selesai’’. Pertanda bahwa penyerahan diriNya secara total kepada umatNya untuk menyelesaikan apa yang dikehendaki oleh BapaNya. Ia telah mneyelesaikan misi Allah dengan ketaatan dan kesetiaan tanpa takut dan ragu. Hidup dan karyaNya telah menyelamatkan dan membebaskan banyak orang. Yesus memberikan diriNya sampai tuntas hingga wafat di kayu salib. Salib tanda hina sekaligus tanda keselamatan.

Para saudara yang terkasih….   

Dalam kehidupan kita, tidak luput dengan salah dan dosa. Namun kadangkala salah dan dosa itu terjadi ketika kita menjauh dariNya dan berjalan berdasarkan kehendak kita sendiri. Seringkali kita kurang taat dan setia pada kehendakNya. Kita cenderung memberontak dan menyerah, tanpa mempedulikan dampak yang terjadi pada diri kita sendiri dan orang lain. Kita juga tidak luput dengan pengalaman jatuh, bangun, gelisah, takut dan merasa cemas dengan perjalanan hidup kita. Kita juga mungkin merasa ditinggalkan ketika pengalaman pahit telah menimpa hidup kita. Namun kita yakin, kita terus berjalan bersamaNya dan diberikan kelegaan, bila kita berharap dan berpegang teguh pada kehendakNya. Kita pun mestinya semakin taat dan setia memikul salib hidup kita pada puncak keselamatan hidup kita. Kita juga disadarkan olehNya agar terus melihat dan menyelamatkan siapaun yang ada di sekitar kita. Semoga demikian. Amin.

Pace e Bene,

Sdr. Afrianus Papak, OFM

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − five =