Perayaan Ekaristi Kaul Perdana dan Pembaruan Kaul di Aula Sedang St. Clara Sentani “Meneguhkan Kesetiaan Mengikuti Kristus dalam Semangat Santo Fransiskus”

Sentani, 2 Agustus 2026 – Sukacita dan syukur memenuhi keluarga besar Persaudaraan St. Fransiskus Duta Damai Papua dalam perayaan Misa Kaul Perdana bagi dua saudara, Sdr. Yohanis Carol Teniwut dan Sdr. Eferardus Angwarmas, serta Pembaruan Kaul bagi sembilan belas saudara. Perayaan Ekaristi yang berlangsung di Aula St. Clara Sentani pada pukul 10.00 WIT dipimpin oleh Minister Provinsi, Sdr. Aloysius Gonsaga rusmadji, OFM , didampingi oleh Sdr. Wllhelmus lreneus Gonsallt Saur, OFMdan Sdr. Dominggus Kaki, OFM. Hadir pula para saudara OFM, umat beriman, serta keluarga kedua saudara yang mengikrarkan Kaul Perdana.

Perayaan berlangsung dalam suasana penuh syukur, sukacita, dan persaudaraan. Bagi kedua saudara yang mengikrarkan Kaul Perdana, hari ini menjadi tonggak penting setelah menyelesaikan masa novisiat dan menjalani proses pembinaan serta penegasan panggilan. Bagi sembilan belas saudara yang memperbarui kaul, perayaan ini menjadi kesempatan untuk kembali meneguhkan kesetiaan kepada Kristus dan memperbarui komitmen untuk menghidupi semangat Injil menurut teladan Santo Fransiskus.

Sabda Nabi Yesaya, “Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah” (Yes. 55:1), menjadi undangan Allah yang menyentuh kehidupan setiap orang. Manusia selalu mencari sesuatu yang dapat memuaskan dahaga hatinya. Harta, keberhasilan, jabatan, maupun kenyamanan tidak mampu memenuhi kerinduan terdalam manusia. Hanya Allah yang dapat memberikan kepuasan sejati. Karena itu, panggilan hidup religius bukan terutama tentang apa yang ditinggalkan, tetapi tentang Siapa yang ditemukan, yaitu Kristus yang menjadi sumber dan tujuan hidup.

Dalam terang Kitab Hukum Kanonik, Kanon 573 §2, hidup religius diwujudkan melalui pengikraran nasihat Injili kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan. Ketiga kaul ini merupakan satu bentuk penyerahan diri kepada Kristus. Kemurnian berarti menyerahkan hati kepada Kristus, sehingga hati menjadi bebas untuk mengasihi Allah dan sesama. Kemiskinan berarti menyerahkan keterikatan pada harta, hidup sederhana dan menggunakan segala sesuatu demi pelayanan. Ketaatan berarti menyerahkan kehendak kepada Allah, dengan mengikuti Kristus yang taat kepada Bapa. Ketiga nasihat Injili ini diatur lebih lanjut dalam Kanon 599, 600, dan 601, sedangkan Kanon 598 menegaskan bahwa setiap tarekat mengatur cara menghayatinya sesuai dengan Konstitusi dan kekhasan masing-masing.

Karena itu, Kaul Perdana yang diikrarkan oleh Sdr. Yohanis Carol Teniwut dan Sdr. Eferardus Angwarmas bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari kehidupan baru sebagai religius. Setelah menjalani masa novisiat, mereka kini secara publik menyerahkan diri kepada Allah melalui tiga kaul. Kanon 654 KHK menegaskan bahwa melalui profesi religius, seorang anggota menerima kewajiban untuk menghayati ketiga nasihat Injili melalui kaul publik, dikuduskan kepada Allah dan diterima dalam kehidupan tarekat. Kaul karena itu bukan hanya kata-kata yang diucapkan di depan altar, tetapi harus menjadi cara hidup yang nyata dalam doa, persaudaraan, pelayanan, penggunaan harta, penerimaan tugas, dan kesediaan untuk terus dibentuk oleh Tuhan.

Perjalanan menuju Kaul Perdana itu sendiri tidak terjadi secara tiba-tiba. Kanon 646 KHK menjelaskan bahwa novisiat merupakan masa untuk mengenal panggilan Allah secara lebih mendalam, mengalami cara hidup tarekat, membentuk hati dan pikiran sesuai dengan semangat tarekat, serta menguji niat dan kesesuaian calon. Karena itu, satu tahun novisiat yang telah dijalani kedua saudara merupakan bagian penting dari perjalanan panggilan mereka. Di dalamnya terdapat doa, pembinaan, pendampingan, pergumulan, pengalaman hidup persaudaraan, dan proses penegasan untuk semakin yakin bahwa jalan hidup yang dipilih sungguh merupakan panggilan Tuhan.

Sabda Rasul Paulus, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” (Rm. 8:35), menjadi kekuatan bagi setiap orang yang memilih hidup bakti. Hidup dalam kaul tidak selalu mudah. Ada tantangan, kelemahan, kesalahpahaman, kegagalan, dan berbagai pergumulan. Namun kesetiaan kepada panggilan tidak terutama bergantung pada kekuatan manusia, melainkan pada kasih dan rahmat Kristus. Ketika seorang religius tetap berakar pada Kristus, ia akan selalu menemukan kekuatan untuk bangkit, memperbaiki diri, dan melanjutkan perjalanan.

Dalam Injil tentang lima roti dan dua ikan (Mat. 14:13–21), kita melihat bahwa sesuatu yang tampaknya kecil dan sederhana dapat menjadi berkat besar ketika diserahkan kepada Yesus. Demikian pula kehidupan seorang religius. Kita mungkin memiliki keterbatasan, kelemahan, dan kekurangan, tetapi ketika seluruh hidup diserahkan kepada Tuhan, Ia dapat menggunakannya untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Kaul adalah penyerahan seluruh hidup: hati, kehendak, waktu, tenaga, kemampuan, bahkan kelemahan kita kepada Kristus.

Pembaruan kaul bagi sembilan belas saudara pun memiliki makna yang sama. Pembaruan kaul bukan sekadar mengulangi janji yang pernah diucapkan, tetapi menjadi kesempatan untuk memperbarui cinta kepada Kristus dan kesetiaan kepada panggilan. Setiap kali kaul diperbarui, seorang saudara dipanggil untuk melihat kembali perjalanan hidupnya: apakah ia masih setia dalam doa, masih mencintai persaudaraan, masih hidup sederhana, masih terbuka terhadap ketaatan, dan masih memberikan dirinya dengan sukacita dalam pelayanan. Pembaruan kaul menjadi kesempatan untuk kembali berkata kepada Tuhan, “Tuhan, inilah aku. Bentuklah aku dan gunakanlah hidupku menurut kehendak-Mu.”

Pada akhirnya, tiga kaul bukanlah tiga beban, melainkan tiga jalan untuk semakin menyerupai Kristus: kemurnian sebagai hati yang dipersembahkan kepada Kristus, kemiskinan sebagai hidup yang sederhana dan bebas demi Kristus, serta ketaatan sebagai kehendak yang diserahkan kepada Kristus. Dalam semangat Santo Fransiskus, ketiganya hendaknya diwujudkan dalam kehidupan persaudaraan, kesederhanaan, pelayanan, kasih kepada orang miskin, dan pewartaan damai.

Semoga Sdr. Yohanis Carol Teniwut dan Sdr. Eferardus Angwarmas tetap setia dalam Kaul Perdana yang telah mereka ikrarkan, dan semoga sembilan belas saudara yang memperbarui kaul semakin diteguhkan dalam panggilannya. Kiranya seluruh Persaudaraan St. Fransiskus Duta Damai Papua terus menjadi tanda kasih Kristus, pembawa damai, persaudaraan, sukacita Injil, dan harapan bagi Gereja serta masyarakat, khususnya di Tanah Papua.

Penulis            : Admin

Editor             : Admin

Previous Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 5 =