Ibadat Penerimaan Prapostulan di Kapela Gubio Sentani

Sentani, Minggu, 16 Agustus 2026 — Suasana penuh syukur dan sukacita di Kapela Gubio, Prapostulan Sentani, pada Minggu sore, 16 Agustus 2026. Pada pukul 18.30 WIT dilaksanakan Ibadat Penerimaan bagi dua saudara, yaitu Sdr. Ananias Kaladana dan Sdr. Telianus Mirip, yang diterima untuk mengawali perjalanan panggilan mereka dalam persaudaraan Fransiskan.

Ibadat sore tersebut dipimpin langsung oleh Minister Provinsi, Sdr. Aloysius Gonsaga Rusmadji, OFM. Perayaan dihadiri oleh para saudara dari Komunitas Novisiat La Verna, Komunitas Antonius Padua, Komunitas JIPC, dan Komunitas Grecio KSFL. Kehadiran berbagai komunitas tersebut menjadi tanda dukungan persaudaraan bagi kedua saudara yang sedang memasuki tahap baru dalam proses pembinaan dan penghayatan panggilan mereka.

Dalam penegasan renungan singkat, bacaan yang diambil dari Thomas dari Celano. Riwayat Hidup yang Pertama & Riwayat Hidup yang Kedua (Sebagian). Terjemahan P.J. Wahjasudibja, OFM. Jakarta: SEKAFI, Oktober 1981. Cetakan II, Juni 1984, hlm. 116–117. Dalam tulisan tersebut mengangkat kisah Santo Fransiskus dan Sdr. Bernardus, sebagaimana diceritakan dalam kisah awal hidup Fransiskus. Bernardus datang kepada Fransiskus untuk meminta nasihat mengenai bagaimana seseorang harus melepaskan harta miliknya dan mengikuti jalan kesempurnaan. Fransiskus tidak memberikan jawaban berdasarkan pemikiran atau kehendak pribadinya. Ia justru mengajak Bernardus untuk bersama-sama datang ke gereja, membuka Kitab Suci, dan meminta petunjuk langsung dari Kristus melalui Injil.

Dari Injil mereka menemukan tiga petunjuk penting: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin” (Mat 19:21); “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan” (Luk 9:3); dan “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya” (Mat 16:24). Bernardus kemudian menerima dan melaksanakan petunjuk tersebut tanpa menunda-nunda. Bertolak dari kisah tersebut, Minister Provinsi menegaskan kepada kedua saudara: “Santo Fransiskus menerima Sdr. Bernardus dengan bimbingan berdasarkan Injil, maka para saudara silakan mengikuti dan mendengarkan Sdr. Bartolomeus Urapmabin sebagai orang yang hidup berdasarkan Injil.”

Karena itu, penerimaan  kedua saudara bukan sekadar sebuah acara formal, melainkan sebuah langkah iman untuk semakin mendengarkan Tuhan dan membiarkan diri dibentuk oleh Injil. Keduanya diajak untuk memiliki hati yang terbuka, rendah hati menerima bimbingan, serta belajar hidup dalam persaudaraan.

Kisah Bernardus juga memperlihatkan bahwa panggilan membutuhkan keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang lama dan memasuki kehidupan yang baru. Bernardus tidak berhenti pada keinginan untuk mengikuti Fransiskus, tetapi berani menerjemahkan Injil ke dalam tindakan nyata. Demikian pula kedua saudara yang diterima diharapkan tidak hanya mengetahui Injil, tetapi sungguh-sungguh hidup berdasarkan Injil.

Dalam konteks pembinaan Fransiskan, sikap mendengarkan menjadi sangat penting. Mendengarkan Tuhan melalui Injil, mendengarkan para pembimbing, dan mendengarkan saudara-saudara dalam persaudaraan merupakan bagian dari proses menemukan kehendak Allah. Oleh karena itu, nasihat Minister Provinsi agar para saudara mengikuti dan mendengarkan Sdr. Bartolomeus Urapmabin sebagai magister yang akan membimbing kedua saudara tersebut untuk hidup berdasarkan Injil dan belajar dari kesaksian hidup, bukan hanya dari kata-kata.

Ibadat sore tersebut akhirnya menjadi kesempatan bagi seluruh komunitas untuk kembali menyadari bahwa jalan Fransiskan adalah jalan Injil. Sebagaimana Fransiskus membimbing Bernardus dengan membawa dia kepada Kristus dan Injil, demikian pula setiap saudara dipanggil untuk terus menemukan Kristus sebagai pusat hidupnya.

Penerimaan kedua saudara tersebut menjadi awal dari sebuah perjalanan baru: perjalanan untuk belajar melepaskan diri, menyangkal diri, mendengarkan Tuhan, hidup dalam persaudaraan, dan semakin sungguh mengikuti Kristus menurut semangat Injil. Semoga Sdr. Ananias Kaladana dan Sdr. Telianus Mirip mampu menjalani tahap panggilan ini dengan hati yang rendah hati, setia, dan terbuka terhadap bimbingan, sehingga kehidupan mereka semakin menjadi kesaksian bahwa Injil sungguh dapat menjadi jalan hidup.

 

Penulis            : Admin

Editor             : Admin

Previous Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 4 =