Ekopastoral Br Eli

BIBIT PINANG UNTUK MEMILIKI TANAH

Bruder Eli Logo OFM berusaha mengembalikan lagi rasa memiliki tanah sendiri bagi masyarakat Komoro  dengan menyiapkan pelbagai bibit buah untuk tanah kosong masyarakat. Sebagai bagian dari program koperasi Bintang Laut milik Keuskupan Timika, program ini dimulai tahun 2010 di paroki Emmanuel Mapurjaya – Timika untuk mengimbangi usaha perikanan yang sudah lama dikembangkan dalam koperasi ini.

Usaha ini berawal dari keprihatinan Sdr. Eli atas masyarakat Komoro. Sebagai bangsa peramu orang Komoro belum terbiasa untuk mengolah tanah sehingga ikatan mereka dengan tanah semakin longgar. Kecondongan ini berakibat fatal. Sekarang tanah mereka gampang dijual dengan sangat murah sehingga tanah di sekitar tempat tinggal mereka sudah dibeli oleh pendatang. Mereka semakin tersingkir tanpa tanah.

Sebelum masalah menjadi parah Br Eli tergerak untuk memulai program ekopastoral. Dekat gereja terdapat tanah nganggur seluas 200 x 300 m. Ia memulai dengan pengolahan pupuk kompos tahun 2012, baik pupuk cair maupun padat setiap 6 bulan. Pupuk padat diolah melalui proses fermentasi dedaunan dalam 3 ruang. Di tengah tiga ruang ini terdapat sumur 4 meter berdiameter 75 cm untuk menampung pupuk cair 1.100 – 1.500 liter. Pupuk ini kemudian dibagikan kepada kelompok tani atau dipakai sendiri. Dari pupuk ini tanah di sekitar paroki  menjadi kebun percontohan untuk ditanami pisang dewa, pisang ambon, pisang nona dan pisang kapal, nenas, sirsak, ramuan, jahe, bawang kalimantan dan lain-lain.

Mengembalikan lagi rasa memiliki tanah

Usaha sdr Eli mendapat sambutan dari Keuskupan Timika. Sudah lama Gereja bergumul dengan masalah kehilangan tanah dari suku asli di pesisir pantai selatan Papua. Banyak tanah kosong dijual murah karena tanah itu tak diolah tanpa isi. Mengisi kebun dengan tanaman bukan perkara gampang bagi suku peramu yang tidak biasa mengolah tanah kosong. Mengajar masyarakat peramu untuk bercocok tanam memerlukan langkah strategis yang sesuai dengan dinamika kehidupan mereka. Bruder Eli berpendapat bahwa tidak tepat menawarkan kepada mereka cara bercocok tanam yang menuntut kerja tiap hari. Dari sini muncul ide pengadaan ribuan bibit tanaman jangka panjang seperti  pengadaan 6000 bibit pinang di stasi Kipuka dan Nawaripi, pengadaan 2000 koker bibit durian, alpokat, 150 pohon nangka daging dan 400 koker sirsak, bagi kelompok binaan.  Di beberapa tempat pinang sudah bisa dipanen dan ini menarik banyak masyarakat untuk mulai menanami tanah mereka dengan tanaman buah jangka panjang. Dengan ini rasa memiliki tanah mulai bertumbuh lagi dan kecondongan untuk menjualnya semakin berkurang. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + 6 =