Renungan Harian Kelana Sabda, Sabtu 5 September 2020

Injil Lukas, 6:1-5

“Cinta Kasih Adalah Dasar Semangat Hidup Orang Kristen”

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Orang-orang Farisi memang begitu berpegang teguh pada tata tertib yang berlaku, mentaati dan melaksanakan apa yang tertulis apa adanya, tanpa memperhatikan semangat atau jiwa tata tertib tersebut. Dasar dan tujuan pembuatan dan pemberlakuan tata tertib adalah cintakasih, dengan kata cintakasih mendasari atau mengatasi tata tertib. Yang utama dan pertama-tama dihayati dan dilaksanakan adalah cinta kasih. Di pihak lain, Yesus menegaskan sebaliknya. “Putra manusia adalah tuan atas hari Sabat” (Luk.6:5). Artinya, Yesus mengangkat harkat dan martabat manusia. Pada prinsipnya harkat dan martabat manusia jauh lebih tinggi dari pada segala aturan dan hukum. Hendaknya segala peraturan dan hukum seharusnya mengangkat dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan kita; bukan sebaliknya.

Penginjil Lukas dengan tegas mengemukakan bahwa Hukum Allah itu dibuat atas dasar belas kasih bukan untuk sebuah displin yang radikal. Penginjil juga memperlihatkan contoh yang digunakan Yesus untuk memberi jawaban atas kelicikan orang Farisi. Kisah Raja Daud; Daud melanggar hukum untuk sebuah kebaikan, yaitu memberi makan karena kelaparan; yang ditekankan disini adalah cinta dan belas kasih agar seseorang hidup. Yesus mau mengajarkan kepada setiap pengikutnya, untuk berbelas kasih kepada sesama; bukan berarti Yesus mengajarkan kita agar tidak patut terhadap hukum, yang ingin disampaikan ialah hukum bukan saja membentuk sebuah kedisiplinan, namun harus didasari oleh belas kasihan dan cinta kasih, maka dari itu, jangan karena hukum, kita biarkan orang menderita, karena disini yang di tekankan adalah kebaikan dan belas kasih.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Apa yang bisa kita buat? Yesus ingin menegaskan kepada kita, dalam bertindak, jangan kita membutakan mata dan hati atas pernderitaan sesama karena takut dikritik, diejek dan dimusuhi mereka yang sombong, angkuh, dan radikal. Buatlah sesuatu yang baru, agar tindakan kemanusiaan kita menjadikan kita harapan dan cahaya hidup bagi semua orang. Jangan takut berbuat baik untuk membantu sesama. Jadilah pribadi yang melihat aturan sebagai bagian dari hidup yang mendatangkan kebahagian.

Pace e bene,

Sdr. Berto Namsa, OFM

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − 15 =