Renungan Harian Kelana Sabda, Rabu 14 Oktober 2020

Injil 11:42-46

Yesus Mengecam Orang-Orang Farisi Dan Ahli-Ahli Taurat

 

Para saudara yang dikasihi Tuhan, setiap persaan yang muncul dalam diri kita, tentu memiliki sebab dan akibat. Dalam diri kita sering timbul rasa marah, rasa senang, rasa malu dan  berbagai macam perasaan lain. Perasaan- perasaan itu terjadi karena perbuatan dan tindakan yang  kita lakukan. Perbuatan kita itu menetukan situasi dan kondisi ketenangan lingkungan hidup.  Kita berbuat baik dalam lingkungan hidup, berarti kita telah menciptakan kedamaian dan ketenangan lingkungan hidup. Begitupun sebaliknya, kita berbuat tidak adil atau mementingkan diri sendiri dan  tidak mempedulikan  orang lain, itu berarti kita telah meciptakan kekacauan yang pastinya akan mempengaruhi ketenangan diri sendiri dan orang lain.

Para saudara yang dikasihi Tuhan, dalam bacaan Injil yang telah kita dengarkan, dikisakan kepada kita tentang, Yesus merasa marah melihat perlakuan atau perbuatan “orang-orang Farisi dan alhi-ahli taurat”. Yesus merasa marah dan mengecanm orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat karena perbuatan mereka. Mereka menciptakan suasana lingkungan hidup tidak ramah, dengan perbuatan dan perlakuan mereka sendiri. Yesus, mengatakan  mereka  munafik karena orang Farisi dan ahli-ahli taurat itu sangat raji menyuru dari pada disuru. Mereka sangat rajin menerima hormat dan pelayanan, tetapi mereka sendiri tidak mau menghormati dan memberi pelayanan. Sehingga dengan keras Yesus melawa sikap dan tindakan mereka yang sudah melenceng dari apa yang menjadi harapan banyak orang.

Para saudara yang dikasihi Tuhan.  Yesus mengecam orang Farisi tentuh ada alasan yakni Ia ingin supaya tercipta kedamaian dan keserasian hidup. Tercipta suatu himpunan atau perkumpulan manusia yang hidup atas landasan cinta kasih. Masing-masing anggotanya merasakan sukacita, kedamaian dan kesabaran, tempat orang menemukan kedamaian, kebaikan dan kesetiaan. Para saudara yang dikasihi Tuhan, sukacita, kedamaian,kesabaran dan kesetiaan, hanya akan terjadi kalau kita membiarkan seluruh perbuatan atau pekerjaan kita dibimbing

Pace e bene,

Sdr. Kaspar, OFM

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × five =