Renungan Harian Kelana Sabda, Minggu 27 September 2020

Injil Matius,  21:28-32

Ampunilah Sesamamu

Mengampuni bukanlah perkara mudah. Mulut kita bisa saja dengan cepat meluncurkan kata-kata pengampunan atau dengan mudah memberi maaf, tetapi sering kali dendam masih terus saja tesimpan rapih dalam hati yang terlanjur luka. Seperti ditegaskan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, semangat untuk mengampuni dalam diri kita hendaklah berjumlah “tujuh puluh kali tujuh kali”. Artinya tidak terbatas dan tidak terhingga atau tidak berkesudahan. Jika mengeluh bahwa hal itu terlalu berat untuk dilaksanakan atau nyaris tidak mungkin, harapan kita mengingat bahwa kita adalah makluk yang lemah. Dalam kelemahan itulah kita menjadi makluk yang rajin berbuat dosa. Tentu saja makin lama dosa itu akan membeni dalam diri kita, sampai akhirnya kita sangat membutuhkan pengampunan dosa. Pengampunan itu dating dari Allah terlebih khusus dan sesama pada umumnya. Karena itu mengampuni dan diampuni sebenarnya adalah suatu kerinduan setiap manusia.

Tentu dengan menggunakan hitungan “tujuh puluh kali tujuh kali” Yesus tidak pernah memaksudkan untuk memerikan pengampunan dalam arti kuantitas saja. Dalam mengampuni diperlukan juga penekanan pada unsur kualitas. Misalnya, apakah kita hanya mau membari maaf bagi mereka yang melalukan kesalahan atau dosa yang kecil? Bagaimana kalau kita berhadapan sama mereka yang sering menyakiti hati kita dengan sedemikian parahnya? Apakah kita juga mampu memberikan maaf kita kepada mereka? Kepada mereka yang mungkin memiliki niat yang buruk atau ingin mencelakakan diri kita, apakah kita mampu memberi kata maaf dari mulut kita? Kalau menurut kata-kata Yesus, sebesar dan seberapa apa pun dosa yang telah terjadi, kita harus dengan rela memberikan kepada mereka pengampunan. Dasarnya adalah yang sudah diungkapkan, yaitu mengampuni dan diampuni, yang adalah suatu kerinduan bersama umat manusia. Oleh karena itu, marilah berlatih memberikan ampun kepada orang lain yang bersalah kepada kita.

Doa “Bapa Kami” itu sebenarnya ajakan agar kita dapat melihat diri untuk saling mengampuni. Dengan mudah mengampuni, kita juga dengan mudah memohon ampun kepada Allah dengan sikap tobat. Dengan demikian, kualitas hidup kita akan makin meningkat.

Pace e bene,

Sdr. Sever, OFM

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − 3 =