Peresmian Gereja Entrop

Gereja: Persekutuan yang mempersatukan

bukan mencerai-beraikan

Oleh Daniel Lau, OFM

Minggu, 26 Januari 2020 merupakan hari yang penuh dengan kegembiraan dan menjadi sebuah sejarah yang baru bagi umat Stasi Santo Agustinus Entrop- Paroki Santo Petrus dan Paulus Argapura, Jayapura. Umat Stasi Santo Agustinus merasa bahagia karena mereka telah menyelesaikan sebuah upaya kerja sama mereka. Kerja sama mereka itu adalah pembangunan gereja yang baru dan itu telah selesai. Gedung gereja yang baru itu diresmikan pada hari ini  (Minggu, 26/1) oleh Bapak Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, dan dihadiri oleh Walikota Jayapura, Drs. Benhur Tomi Mano.

Dari sejarah singkat, gereja Stasi Santo Agustinus Entrop yang lama dibangun pada 1997 dan diresmikan pada 28 Agustus 1997 dengan mengambil nama Pelindung Santo Agustinus karena bertepatan dengan peringatan Santo Agustinus. Umat Stasi Santo Agustinus Entrop semakin banyak dan gedung gerejanya kecil maka umat Entrop bersama Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Argapura, Pastor Paulus Tumayang Tandilintin OFM meminta izin kepada Bapa Uskup Jayapura untuk merenovasi gedung gereja yang lama. Namun dalam perjalanannya bukan merenovasi melainkan membangun gedung gereja yang baru, kata Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Argapura Pastor Paul Tumayang OFM dalam sambutannya.

Pastor Paroki dan Pengurus Stasi akhirnya membentuk panitia Pembangunan dan gedung gereja lama dibongkar. Upacara peletakkan batu pertama dilakukan pada Februari 2017 dan yang meletakkan batu pertama adalah Walikota Jayapura, Drs. Benhur Tomi Mano. Proses pembangunan gedung gereja yang baru menghabiskan kurang lebih 2 tahun. Dana yang digunakan untuk proses pembangunan berkisar Rp 4,6 Milyar. Dana itu diusahakan oleh umat dengan sumbangan wajib dari umat stasi dan juga penggalangan dana dari berbagai suku yang ada di Stasi Entrop. Selain sumbangan dan penggalangan dana yang dilakukan oleh umat, ada juga  bantuan dari para donatur, Walikota Jayapura, dan juga tokoh-tokoh Katolik yang bekerja di bidang Pemerintahan dan Swasta. Gedung Gereja yang baru berukuran Panjang 28 meter dan Lebar 17 meter dengan daya tampung sekitar 500 umat.

Upacara peresmian dihadiri oleh Bapak Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, Walikota Jayapura, Drs. Benhur Tomi Mano, Pihak Bank BRI, Biarawan/wati, para donatur, dan juga umat Stasi Entrop. Acara peresmian diawali dengan pengguntingan pita oleh Walikota Jayapura, dan penyerahan kunci dari Panitia Pembangunan kepada Bapak Uskup dan diteruskan kepada Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Argapura, sebagai sang gembala Paroki Argapura. Sesudah upacara pengguntingan pita dan pembukaan pintu gereja dilanjutkan dengan perayaan ekaristi bersama yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM dan didampingi oleh Pastor Paroki dan Pater Ivan Simamora, OFMCap.

Dalam homilinya, Bapak Uskup memulai dengan teks Bacaan Kedua dari Minggu Biasa ketiga. Teks bacaan itu adalah I Kor. 1:10-13.17. Bapak Uskup mengatakan bahwa Paulus menulis surat ini dengan menyampaikan satu kekecewaan dan teguran sekaligus. Karena umat di Korintus mengalami perpecahan dan terbagi-bagi. Masing-masing memiliki tokoh idola. Ada jemaat yang mengatakan mereka dari golongan Apolos dan ada juga yang mengatakan mereka dari golongan Kefas (Petrus). Ada juga yang mengatakan dari golongan Paulus dan ada pula yang mengatakan mereka dari golongan Kristus. Maka Paulus bertanya: “Apakah Kristus itu terbagi-bagi?”

Paulus mengatakan demikian karena di dalam jemaat terdapat pengkhotbah-pengkhotbah yang ulung, ada pewarta-pewarta Injil. Ada Apolos dan juga ada Petrus yang datang mewartakan Kristus. Jemaat yang mendengarkan pewartaan bukan mendengarkan tentang Kristus tetapi menilai pribadi-pribadi yang berkotbah. Apolos diketahui sebagai ahli pidato, karena itu pembicaraannya diterima oleh jemaat. Paulus bukan pribadi yang ahli pidato dan ia mengajarkan pokok-pokok ajaran dengan serius dan bukan pribadinya yang diajarkan. Maka jemaat mulai membandingkan pribadi-pribadi pewarta dan lebih menerima bentuk pengajaran dari Apolos dan ini menjadi masalah yang serius bagi Paulus karena jemaat mulai terbagi-bagi. Maka Paulus menginginkan umat bersatu, hidup rukun dan bukan terbagi-bagi karena alasan sepele. Yesus Kristus adalah satu bukan terbagi-bagi.

Gambar 1. Bapak Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM dan Walikota Jayapura, Drs. Benhur Tomi Mano menekan tombol sirene sebagai tanda bahwa Gereja Stasi Santo Agustinus Entrop telah resmi yang disaksikan oleh Pastor Paroki dan umat serta tamu undangan yang hadir.

Perpecahan umat kristiani telah terjadi sejak zaman Rasul Paulus karena alasan-alasan duniawi. Sikap tidak bersatu di dalam Gereja terus terjadi hingga Gereja Reformasi. Ada yang mengklaim dirinya sebagai golongan Martin Luther, ada yang mengklaim dirinya sebagai golongan Calvin dan sebagainya. Perpecahan ini berdampak juga ketika penyebaran Injil dari wilayah Eropa (Belanda) ke tanah Papua. Ada pembagian wilayah dalam penyebaran Injil di tanah Papua (daerah misi). Untuk Misi (Katolik) wilayah penyebaran Injilnya di wilayah Selatan dan pegunungan sedangkan untuk Zending (Protestan) wilayahnya di daerah Utara dan Pantai. Tujuan pembagian wilayah ini agar tidak terjadi perpecahan dalam kekristenan di Papua. Sejarah ini menjadi pemicu juga bagi kelompok Kristen untuk mengklaim masing-masing sebagaik kelompok yang benar dan kelompok yang lain menjadi musuh, misalnya terorisme. Hal ini bertentangan dengan Misi Kristus. Misi Kristus ialah agar semua umat bersatu. Karena itu, umat harus menjaga kesatuan dan kerukunan di komunitas kristiani dan juga membangun kesatuan dengan umat yang beragama lain.

Bapak Uskup menambahkan bahwa Yesus dalam melaksanakan tugas pewartaan Injil, juga memilih 12 rasul. Dua belas rasul yang dipilih mewakili 12 suku bangsa Israel dengan tujuan memelihara kesatuan sebagaimana dalam Perjanjian Lama keduabelas suku ini bersatu dibawah pimpinan Musa dan sekarang gereja dibawah pimpinan dua belas rasul dengan Sang Gembala Agungnya adalah Yesus Kristus. Tujuannya adalah umat melihat, percaya, memelihara kesatuan dan kerukunan serta kedamaian. Itulah iman kita. Iman yang diajarkan oleh Yesus Kristus yaitu kesatuan, kerukunan, dan bersaudara. Dengan demikian kita menjadi satu yang disebut Gereja. Gereja yang dipahami sebagai bangunan harus dipahami juga sebagai Umat Allah. Karena itu, Bapak Uskup mengharapkan agar umat Stasi Entrop yang telah membangun gereja ini tetap bersatu. Sebab, situasi saat ini adalah situasi yang penuh dengan perpecahan dan konflik. Misalnya di tempat lain ada pembangunan gereja belum selesai karena ada percekcokan entah percekcokan antara panitia pembangunan dengan pastor paroki, atau percekcokan antara panitia dengan umat setempat. Pada bagian akhir homili Bapak Uskup menegaskan kembali bahwa kesatuan yang telah dibangun oleh umat sejak awal pembangunan gereja tetap dipertahankan dan bukan hanya kesatuan untuk pembangunan gereja secara fisik tetapi juga kesatuan untuk pembangunan secara rohani (iman umat).

Seusai perayaan ekaristi dilanjutkan dengan acara pembunyian sirene sebagai tanda resminya gereja dan penandatanganan prasasti oleh Bapak Uskup Jayapura dan Walikota Jayapura. Acara peresmian diteruskan dengan sambutan-sambutan yang diselingi dengan tarian dari Toraja dan juga tarian dari Manggarai. Sambutan pertama dari Pastor Paroki. Sambutan kedua dari Walikota Jayapura dan sambutan terakhir dari Bapa Uskup Jayapura. Dalam sambutannya Pastor Paroki mengucapkan terimakasih banyak kepada umat Stasi Entrop yang sudah bekerja sama membangun gereja hingga selesai dan juga mengucapkan terimakasih kepada para donatur yang telah membantu pembangunan gedung gereja Santo Agustinus Stasi Entrop. Di akhir sambutan pastor paroki juga menyampaikan permintaan dari Umat Stasi Entrop kepada Walikota yaitu berkaitan dengan perbaikan jalan menuju gereja. Walikota mengabulkan permintaan dari umat Stasi Entrop dengan memberikan sumbangan juga berupa uang sebesar Rp 250 juta pada saat memberikan sambutannya. Bapa Uskup juga dalam sambutannya mengucapkan terimakasih banyak kepada Walikota yang sudah memberikan sumbangan dan bersedia hadir dalam peresmian gereja Santo Agustinus- Entrop. Acara pemberkatan dan peresmian gereja diakhiri dengan makan siang bersama dan bergoyang bersama.

 

Gambar 1. Bapak Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM dan Walikota Jayapura, Drs. Benhur Tomi Mano menekan tombol sirene sebagai tanda bahwa Gereja Stasi Santo Agustinus Entrop telah resmi yang disaksikan oleh Pastor Paroki dan umat serta tamu undangan yang hadir.

Gambar 2. Penandatanganan Prasasti oleh WaliKota Jayapura, Drs. Benhur Tomi Mano

Gambar 3. Penandatangan Prasasti oleh Bapak Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × one =