Minggu I Prapaskah

Minggu I Prapaskah

1 Maret 2020

 Yesus adalah model dan kekuatan bagi hidup pertobatan kita

Yesus “menguduskan masa tobat dengan puasa selama 40 hari, dan dengan mengalahkan semua bujukan si penggoda yang lama, Ia mengajarkan kita untuk mengalahkan bujukan dosa, supaya keitka merayakan misteri paskah dengan roh yang baru, kita dapat sampai pada paskah abadi” (prefasi)

Yesus berdoa, berpuasa dan mengalahkan cobaan-cobaan

Injil hari ini menyajikan peristiwa penting dalam kehidupan Yesus, yaitu percobaan Yesus di Padang Gurun. Dia dicoba berkaitan dengan tiga pujaan manusia, yang demi hal itu  manusia begitu gampang mengorbankan imannya, yaitu: kenikmatan materi, kesombongan dan kuasa; Dia menunjukkan kepada kita sarana agar kita dapat keluar  sebagai pemenang: doa, mati raga, Sabda Tuhan. Cobaan terhadap Yesus, oleh Mateus dan Lukas, ditempatkan  dalam hubungan dengan cobaan yang dialami oleh umat terpilih selama “masa puasa” empat puluh tahun di padang gurun; jawaban Yesus memuat ungkapan yang diambil dari Kitab Ulangan. Di mana Israel jatuh, di situ Kristus menang.

Usulan dari setan untuk mengubah batu menjadi roti mengingatkan kita akan omelan Bangsa Israel berkaitan dengan makanan: Allah kemudian menanggapinya dengan menganugerahkan manna yang mengagumkan, yang bagi kita orang Kristen merupakan simbol makanan rohani, Ekaristi.  Israel mencoba Allah di Massa di padang gurun untuk mendapat mukjizat yang spektakuler. Yesus menolak mencobai Allah karena hal itu hanya untuk mencari kepuasan  rasa sombong. – Kenyataan bahwa Yesus menolak kerajaan di dunia ini, dengan menekankan bahwa kuasa hanya milik Allah dan hanya Dia saja disembah, mengacu pada Bangsa Israel yang demi kepentingan tertentu dan  sensasi, jmau menyembah dewa-dewa palsu.

 

Refleksi praktis:

  • Selama Masa Puasa, Roh Kudus menghantar setiap orang dari kita dan seluruh Gereja ke padang gurun, untuk menempatkan diri menghayati misteri paskah. Roh yang lain muncul untuk mengganggu retret agung tahunan kita. Yesus juga mau mengajarkan juga tentang adanya cobaan iblis yang selalu muncul… Kita semua adalah orang berdosa: dalam refleksi selama masa puasa, “mata kita terbuka dan kita tahu bahwa kita telanjang” (karena dosa, ketidaktaatan, di hadapan Allah; Kej 3:7 ss). Tetapi ketaatan Yesus terjadi sedemikian rupa sehingga “dimana dosa bertambah banyak, di situ karunia berlimpah-limpah” (Rom 3:12-9).
  • Kita harus percaya. Sekarang Gereja sering mengulang kata-kata Mazmur: “Tuhan menaungi engkau dengan sayapNya dan di bawah lengan-Nya engkau menemukan perlindungan. Kesetiaan-Nya akan menjadi perisai baja” (Mzm 90). Allah memang sudah menyelamatkan kita dari air bah dunia ini dengan bahtera baptisan dan telah mengikat suatu perjanjian kehidupan  dengan kita  (Kej 9,8-5).  Jadi kita membaharui pengakuan iman kita kepada Allah, dan dia akan membebaskan  kita dari kedinaan kita, dari kesengsaraan dan penindasan”. Kristus Tuhan kaya bagi orang yang memohon kepadaNya: kita akan selamat dan tidak akan tinggal terus dalam kesedihan” (Ul 26:4-10)
  • Melalui “perjuangan puasa” kita akan setiap hari menarik kekuatan baru dari mendengarkan Sabda Allah, khususnya selama perayaan ekaristi, dimana Kristus pada saat yang sama adalah Sabda dan Roti Kehidupan, lebih dari pada saat lain.

Qolloquio: “Ya Tuhan, kami telah disegarkan dengan roti surgawi yang menguatkan iman kami, meneguhkan harapan kami dan mengobarkan kasih kami. Ajarlah kami untuk merasa lapar akan Kristus, roti yang hidup dan benar, dan semoga kami mampu hidup dari setiap Sabda yang keluar dari mulut-Mu…” (Doa sesudah Komuni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen + 15 =