METANOIA DALAM SEMANGAT FRANSISKAN: PERJALANAN MENUJU MANUSIA BARU

Menghayati Nilai-Nilai Kefransiskan

Waimo – Raja Empat

Pengantar

Retret ini hadir sebagai undangan bagi kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk keseharian, dan masuk ke dalam ruang perenungan yang lebih dalam tentang siapa diri kita sebagai pengikut Santo Fransiskus dari Asisi. Dalam keheningan Raja Empat yang megah, kita diajak untuk tidak hanya beristirahat secara jasmani, tetapi juga untuk memperbarui diri secara rohani.

Bapa Serafik, Santo Fransiskus dari Asisi, adalah seorang manusia biasa yang mengalami perjumpaan luar biasa dengan Tuhan. Dari seorang pemuda penuh ambisi dan kesenangan duniawi, ia bertransformasi menjadi rasul kemiskinan, perdamaian, dan kasih universal. Perjalanan hidupnya adalah cermin yang memantulkan kembali kepada kita pertanyaan mendasar: apakah kita sungguh-sungguh menghidupi nilai-nilai yang kita akui sebagai warisan rohani kita?

Retret ini menawarkan sembilan nilai pokok kefransiskanan yang saling berkaitan erat satu sama lain, yaitu: pertobatan, persaudaraan, kemiskinan dan kesederhanaan, kepedulian terhadap sesama, cinta akan lingkungan, kerendahan hati, sukacita, doa dan kontemplasi, serta pengampunan. Kesembilan nilai ini bukan sekadar konsep teologis yang dingin, melainkan cara hidup yang hangat dan konkret, yang telah diteladankan oleh Fransiskus dalam setiap langkah hidupnya.

Semoga momen retret ini menjadi titik balik yang memperdalam panggilan kita, memperkuat semangat persaudaraan kita, dan memperbarui komitmen kita untuk menjadi pembawa damai, kasih, dan sukacita di tengah dunia yang semakin membutuhkan saksi-saksi nyata dari Injil.

Rakuman Materi

Berikut adalah ringkasan singkat dan jelas dari kesembilan nilai kefransiskanan yang menjadi inti dari retret ini, sebagaimana dihayati oleh Yesus Kristus dan diteladankan secara konkret oleh Santo Fransiskus dari Asisi.

1. Pertobatan (Metanoia)

Pertobatan dalam tradisi Kristiani bukan sekadar penyesalan emosional, melainkan metanoia — perubahan pikiran dan hati yang menyeluruh, yang menghasilkan buah nyata dalam perilaku sehari-hari. Kisah Anak yang Hilang (Luk. 15) menggambarkan tiga tahapan pertobatan yang indah: menyadari kondisi diri, memutuskan untuk kembali kepada Bapa, dan menerima penerimaan Tuhan yang penuh kasih.

Bagi Fransiskus, pertobatan adalah perjalanan yang terus-menerus, bukan peristiwa satu kali. Titik baliknya adalah saat ia memeluk seorang penderita kusta — orang yang paling ia takuti dan jijiki. Dalam pelukan itu, ia menemukan wajah Kristus. Pertobatan Fransiskan berarti keluar dari diri sendiri, melepaskan kepemilikan, dan memperluas kasih hingga merangkul seluruh ciptaan.

2. Persaudaraan (Fraternitas)

Yesus mewujudkan persaudaraan yang melampaui batas darah, suku, dan agama. Ia meruntuhkan sekat kelas sosial dengan makan bersama pemungut cukai, menyapa perempuan Samaria di sumur Yakub, membasuh kaki para murid-Nya, dan memeluk Zakheus yang dicemooh masyarakat. Bagi Yesus, saudara adalah siapa pun yang melakukan kehendak Bapa (Mat. 12:50).

Fransiskus menghidupi nilai ini secara radikal: ia memeluk orang kusta, menyebut matahari sebagai ‘Saudara Matahari’ dan bulan sebagai ‘Saudari Bulan’. Persaudaraan Fransiskan melampaui batas manusia dan merangkul seluruh alam semesta sebagai satu keluarga besar yang berasal dari Allah yang sama.

3. Kemiskinan dan Kesederhanaan

Kemiskinan bagi Yesus adalah sikap batin — ketergantungan total kepada Tuhan (anawim). Yesus mengajarkan bahwa harta dapat membelenggu hati dan menjadi penghalang untuk mengikuti Tuhan secara total. Bagi Fransiskus, kemiskinan adalah kebebasan rohani. Ia ‘menikahi’ kemiskinan — bukan sebagai beban, melainkan sebagai kekasih yang membebaskannya untuk mencintai Allah dan sesama tanpa penghalang.

Kemiskinan eksternal (materi) harus diiringi dengan kemiskinan internal (kerendahan hati). Tanpa kerendahan hati, kemiskinan hanya menghasilkan kepahitan. Dengan kerendahan hati, kemiskinan menjadi ruang di mana Allah bekerja secara penuh. Bagi Fransiskus, menjadi miskin berarti melepaskan dominasi atas alam dan memandang semua ciptaan sebagai saudara.

4. Perdamaian

Perdamaian menurut Yesus berakar pada konsep Ibrani Shalom — keutuhan dan relasi yang benar dengan Allah, sesama, dan diri sendiri. Yesus tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Bahkan di atas kayu salib, Ia berdoa: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka.’ Perdamaian-Nya adalah buah dari kasih yang radikal.

Fransiskus merumuskan perdamaian dalam tiga ungkapan: salam ‘Pax et Bonum’ (Damai dan Kebaikan), doa ‘Jadikanlah aku pembawa damai-Mu’, dan tindakan nyata ketika ia menemui Sultan Malik al-Kamil di tengah Perang Salib dengan semangat dialog, bukan konfrontasi. Bagi Fransiskus, damai dimulai dari dalam diri, lalu meluap keluar dalam pengampunan dan penghormatan kepada seluruh ciptaan.

5. Kepedulian terhadap Sesama

Yesus mengajarkan kepedulian tanpa batas melalui perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati dan perintah-Nya untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Ia mengidentifikasikan diri-Nya dengan orang yang paling terpinggirkan: ‘Apa yang kamu lakukan kepada salah satu dari yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku’ (Mat. 25:40).

Fransiskus menghidupi kepedulian ini secara konkret saat ia mencium tangan seorang penderita kusta. Saat itu, rasa jijik berubah menjadi kemanisan jiwa. Ia menyadari bahwa dalam diri orang yang paling terpinggirkan, ada wajah Tuhan yang sedang menyamar. Sejak saat itu, ia tidak melayani dari ‘atas ke bawah’, tetapi dari persaudaraan yang setara.

6. Cinta akan Lingkungan

Kisah Fransiskus yang berkhotbah kepada burung-burung di Lembah Spoleto dan mendamaikan ‘Serigala Gubbio’ dengan warga kota adalah simbol teologis yang mendalam. Serigala yang ganas dijinakkan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan dialog dan empati — Fransiskus menyadari bahwa perilaku agresifnya dipicu oleh kelaparan, bukan kejahatan murni.

Fransiskus melihat seluruh ciptaan sebagai keluarga besar yang berasal dari Sang Pencipta yang sama. Dalam Kidung Saudara Matahari (Canticle of the Sun), ia memuji Allah melalui matahari, bulan, angin, air, dan bahkan kematian sebagai sesama saudara dan saudari. Cinta akan lingkungan bagi Fransiskus bukan sekadar kepedulian ekologis, melainkan ungkapan kasih teologis kepada Sang Pencipta.

7. Kerendahan Hati

Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai ‘lemah lembut dan rendah hati’ (Mat. 11:29). Inkarnasi-Nya sendiri adalah tindakan pengosongan diri (kenosis) yang terbesar: Tuhan yang Mahakuasa memilih menjadi manusia yang terbatas, bahkan mati di kayu salib demi kasih-Nya kepada manusia.

Fransiskus merangkum kerendahan hati dalam petuahnya: ‘Siapakah manusia di hadapan Allah, demikianlah ia adanya dan tidak lebih.’ Ia menamakan persaudaraannya Ordo Fratrum Minorum — Saudara-saudara Dina. Menjadi ‘yang kecil’ berarti menolak kekuasaan dan jabatan, menempatkan diri sejajar dengan sesama ciptaan, dan menjadikan pelayanan sebagai identitas hidup.

8. Sukacita Sejati

Dalam kisah perjalanan musim dingin menuju Portiuncula bersama Saudara Leo, Fransiskus mengajarkan bahwa sukacita sejati bukan terletak pada mukjizat, pujian, atau keberhasilan pelayanan. Sukacita sejati adalah saat seseorang ditolak, dihina, dan kedinginan — namun tetap menanggungnya dengan sabar dan damai batin demi kasih kepada Kristus.

Yesus mengajarkan hal yang sama dalam paradoks Ucapan Bahagia: mereka yang berdukacita, miskin di hadapan Allah, dan dianiaya justru adalah orang yang berbahagia. Sukacita ini bukan emosi sesaat, melainkan keputusan spiritual yang berakar pada kesatuan dengan Allah — buah Roh yang tetap ada di tengah penderitaan sekalipun.

9. Doa dan Kontemplasi

Bagi Yesus, doa adalah nafas hidup dan ekspresi kesatuan yang tak terputuskan dengan Sang Bapa. Ia sering menyingkir ke tempat yang sunyi untuk berdoa, bahkan sepanjang malam. Doa-Nya bukan ritual kewajiban, melainkan relasi cinta yang hidup dengan Bapa-Nya.

Fransiskus menghidupi doa dengan intensitas yang mengagumkan. Dalam Uraian Doa Bapa Kami, ia mengontemplasikan setiap kata dengan kedalaman yang luar biasa. Ia bahkan berhenti di tengah perjalanan saat merasakan kunjungan Roh Kudus, dan membiarkan rahmat itu memenuhi dirinya. Tanpa doa, ia yakin, jiwa akan menjadi kering dan kehilangan semangat untuk hal-hal yang surgawi.

10. Pengampunan

Yesus menempatkan pengampunan sebagai syarat mutlak hubungan manusia dengan Tuhan. Ia mengajarkan pengampunan tanpa batas — ‘tujuh puluh kali tujuh kali’ — dan melampaui standar keadilan timbal balik dengan memerintahkan untuk mengasihi dan mendoakan mereka yang menganiaya kita.

Fransiskus menghayati pengampunan sebagai jalan menuju kedamaian sejati. Saat seorang pria yang pernah menghinanya datang kembali, Fransiskus tidak membalasnya dengan kebencian. Ia berkata dengan lembut: ‘Saudaraku, semoga Tuhan memberimu damai. Jika aku pernah menyakitimu, maafkanlah aku.’ Pengampunan itu mengubah hati si pengejek menjadi sahabatnya. Bagi Fransiskus, ‘dengan memberi kita menerima, dengan mengampuni kita diampuni.’

Refleksi

Setelah menyelami kesembilan nilai kefrancisikan ini, kita diajak untuk berhenti sejenak dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan berikut menyentuh lubuk hati kita yang paling dalam. Refleksi bukan untuk menghasilkan jawaban yang indah, tetapi untuk membuka ruang jujur antara kita dan Tuhan.

Pertanyaan Refleksi

  1. Pertobatan
  • Apa saja yang harus saya ubah terus-menerus dalam hidupku dan apakah sudah ada perkembangan?
  • Apakah ada hal-hal yang tidak saya sadari dan mesti saya ubah dalam hidupku?
  1. Persaudaraan
  • Apakah saya hadir sebagai saudara yang menyatukan atau menceraikan?
  • Apakah saya menjadi saudara yang menyebarkan kasih dan kebaikan, atau kebencian dan kehancuran dalam komunitas?
  1. Perdamaian
  • Apakah saya seorang fransiskan yang membawa damai atau perselisihan di tempat pelayananku?
  • Apakah damai sejati atau sekadar ‘cari aman’ yang saya ciptakan?
  1. Kemiskinan dan Kesederhanaan
  • Kemiskinan manakah yang saya hayati: kemiskinan materi atau kemiskinan roh?
  • Bagaimana saya mengaplikasikan kemiskinan sebagai seorang Fransiskan dalam keseharian?
  1. Kepedulian terhadap Sesama
  • Semangat empati seperti apakah yang saya praktikkan sebagai seorang Fransiskan selama ini?
  • Bagaimana dampaknya bagi diriku dan bagi orang-orang yang ku layani?
  1. Cinta akan Lingkungan
  • Apakah sebagai seorang Fransiskan saya sungguh-sungguh mencintai lingkungan hidupku?
  • Bagaimana saya mewujudkan cinta itu dalam tindakan nyata sehari-hari?
  1. Kerendahan Hati
  • Apa pemahamanku tentang kerendahan hati dan sejauh mana aku sungguh menghidupinya?
  • Bagaimana saya bersikap rendah hati dalam komunitas, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari?
  1. Sukacita
  • Apakah ada hal yang menghalangi sukacita sejati dalam hidupku?
  • Sebagai pengikut Fransiskus, apakah sukacita sejati mempengaruhi cara saya melayani?
  1. Doa dan Kontemplasi
  • Apakah doa dan relasiku dengan Tuhan sungguh-sungguh mempengaruhi pelayananku secara spiritual?
  • Apakah ada semangat kontemplasi dalam hidupku, atau saya lebih banyak menyibukkan diri untuk aktivitas belaka?
  1. Pengampunan
  • Apakah saya memiliki kemampuan dan kerelaan untuk mengampuni orang yang menyakitiku?
  • Apakah ada pengalaman yang membuatku sulit mengampuni? Apa yang menghalangi?

 Penutup

Retret ini bukan tentang menjadi sempurna. Fransiskus sendiri tidak pernah mengklaim kesempurnaannya — ia selalu menyebut dirinya sebagai pendosa yang paling hina. Namun justru dalam kerendahan hatinya itulah Allah bekerja dengan sangat luar biasa.

Nilai-nilai Kefransiskanan yang kita renungkan bukanlah hukum yang membebani, melainkan jalan kebebasan. Pertobatan membebaskan kita dari belenggu dosa. Persaudaraan membebaskan kita dari kesepian. Kemiskinan membebaskan kita dari kecemasan. Pengampunan membebaskan kita dari kepahitan. Dan sukacita adalah tanda bahwa kebebasan itu sungguh-sungguh kita hayati.

Kita diutus kembali ke ladang pelayanan kita — ke Waimo, ke Raja Empat, ke komunitas kita masing-masing — bukan sebagai orang yang sempurna, tetapi sebagai orang yang telah dijamah oleh kasih Tuhan. Seperti kata Fransiskus kepada para saudaranya:

“Mulutmu menyatakan damai, tetapi pastikan hatimu memilikinya dalam jumlah yang lebih besar.”

Semoga retret ini menjadi benih yang terus bertumbuh dalam diri kita, menghasilkan buah-buah kehidupan yang nyata: kasih yang konkret, perdamaian yang aktif, dan sukacita yang memancar kepada setiap orang yang kita jumpai.

Pax et Bonum.

 

Editor    : Admin

Penulis : Admin

 

Previous Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − twenty =