life as dialog 3

 St. Fransiskus:

suatu sikap untuk menjangkau, menerima dan berdialog dengan semua orang

 Kiranya jelas anakronistis untuk berbicara tentang dialog ekumenis pada zaman Fransiskus. Pertama karena pada zaman itu Reformasi belum memecah belah Kekristenan Barat, dan walaupun Timur dan Barat sudah terpisah oleh skisma lebih dari 150 tahun  hal itu belum dilihat sebagai pemisahan definitif. Benar bahwa selama masa hidup Fransiskus (tahun 1204) pencaplokan Konstantinopel oleh tentara Perang salib dan institusi imperium Latin hampir membuat skisma itu tak dapat dijembatani lagi. Tak ada bukti yang menunjukkan bahwa Fransiskus, atau anggota dari dunia Katolik saat itu menyadari apa yang sedang terjadi.

Walaupun dalam Dunia Katolik terdapat kecondongan dan gerakan heresi, termasuk kaum Waldenses dan Kaum Katar (yang pada hakikatnya bukan Kristen) yang mengancam kesatuan Gereja, sikap terhadap kelompok ini bukan sikap dialog tetapi tekanan atau represi.

Walaupun benar juga orang dapat menganggap Fransiskus tidak tahu tentang percekcokan Kristen Barat dan Timur yang pada saat itu semakin buruk, dia bukan tidak tahu akan adanya kaum heresi yang lebih kurang ada di mana-mana, dan yang terhadap mereka sudah disiapkan tekanan bersenjata, seperti dalam kasus kaum Albigensis. Tetapi jika mau mencari tahu sikap yang dia inginkan ada pada saudara-saudara dina pada tulisan aslinya, kita tidak akan menemukan sebutan atau rujukan yang eksplisit. Satu-satunya pengecualian,  yang paling penting, merujuk pada “Kaum Sarasehan dan Kaum tak Beriman lainnya”.

Karena dialog berarti menyiapkan seluruh keberadaan orang: menyiapkannya melalui cara melihat, mendengar, berbicara, cara menemui orang dan menyambut tetangga dengan ramah, sebagaimana adanya dia, keyakinannya, tindakannya, dan tetap berharap mempertahankan relasi reprositas (kesalingan atau timbal balik).

Jadi kita harus dengan teliti menganalisis apa yang dia tulis tentang relasi manusiawi umumnya, dan juga kasus-kasus tertentu, khususnya menilai tentang cara yang dia tulis  secara berlebihan. Tanpa menggunakan kata dialog, yang memang bukan bagian dari vokabularinya, kita akan menemukan sikap dasar  yang menjadi dasar dari dialog.

Bagaimana seharusnya bersikap terhadap orang lain?

Ada dua teks umum yang menggambarkan cara dimana para saudara dianjurkan untuk bersikap dalam kelompoknya atau dalam hubungan dengan orang lain.

(1) Hendaklah semua saudara menjaga diri, agar tidak memfitnah dan bertengkar mulut; (2)sebaliknya hendaknya mereka berusaha menjaga keheningan, selama Allah menganugerahi mereka rahmat untuk itu. (3)Janganlah mereka berselisih di antara mereka sendiri atau dengan orang lain, tetapi hendaknya mereka berusaha menjawab dengan rendah hati, dengan mengatakan: Aku ini hamba yang tidak berguna. (AngTBul 11 1-3)

(9) Lagipula hendaklah mereka sopan dan bersikap temah lembut terhadap semua orang; (10)janganlah mereka menghakimi dan menghukum. (AngTBul 11:9-10)

Terinspirasi oleh anjuran dari Surat-surat Pastoral (2Tim 2,14.23.24; Tit 3,2) yang dia kutip, peringatan-peringatan di atas menyentuh inti dari dialog yang sejati. Dengan mengetahui tempat-tempat yang pada saat itu terjadi polemik dan pertengkaran, yang berusaha memperlihatkan kepada lawan bahwa dia salah dan kita benar (ordo-ordo baru para Pengkhotbah telah memilih “debat” (disputatio”) sebagai cara untuk menobatkan orang Kathar), kita dapat melihat bahwa Fransiskus bertindak berlawanan dengan sikap itu. Daripada mendesak orang lain sampai mereka diam, dia sebaliknya berusaha untuk tinggal diam dan mendengar, sambil memberikan kesaksian kepada pihak lain “kebesaran hati yang sempurna”, dengan menempatkan dirinya bukan sebagai seorang guru yang menonjolkan diri dan menguasai, tetapi sebagai orang yang melayani.

Dengan cara yang mirip teks lain menggambarkan cara di mana para saudara harus “pergi ke tengah dunia”:

10 Aku pun menganjurkan, menasihatkan dan mengajak saudara-saudaraku dalam Tuhan Yesus Kristus agar sewaktu bepergian di dunia, janganlah mereka berselisih, bertengkar mulut dan menghakimi orang lain; 11 tetapi hendaklah mereka itu murah hati, suka damai dan tidak berlagak, lembut dan rendah hati, sopan santun dalam berbicara dengan semua orang, sebagaimana pantasnya. (AngBul 3:10-11)

Apa yang diusulkan di sini adalah sikap batin, yaitu kebaikan hati – menginginkan orang lain baik – dan keramahtamahan, yang merupakan salah satu dari wajah kerendahan hati.  Menjadi “menyenangkan” dan “mencintai” dalam relasi-relasi kita, dengan memperlihatkan rasa hormat kepada semua orang dan memperlakukan mereka dengan hormat. Sikap-sikap demikian dengan jelas menyisihkan semua penilaian negatif, proselitisme atau bahasa yang agresif yang berasal dari penilaian yang negatif itu.

Pendekatan Praktis

Prinsip-prinsip umum tentang cara bersikap diterapkan oleh Fransiskus dalam sejumlah  contoh-contoh yang khusus.

Kebaikan hati, menjangkau semua orang, keramahan, yang sudah dibicarakan sebelumnya, terarah kepada semua orang, baik atau jahat.

(14) Siapa pun yang datang kepada mereka, entah kawan atau lawan, pencuri atau penyamun, haruslah diterima dengan ramah. (AngTBul 7:14)

Cinta yang autentik, akar dari setiap pertemuan interpersonal sejati, tidak selektif; ia menjangkau setiap orang sebagaimana adanya, apa pun sikap dan pikiran mereka tentang kita. Dialog tidak menyingkirkan  seorang pun, dan tidak ditanggalkan ketika berhadapan dengan kesulitan, bahkan ketika menghadapi seorang musuh, seorang pencopet, perampok. Dialog mencoba yang tidak mungkin.

Pada pokok tentang bimbingan rohani para calon untuk hidup injili yang diusulkan dalam Anggaran Dasar, Fransiskus meminta mereka yang bertanggung jawab untuk menerima para calon dengan baik hati, “dengan ramah”, untuk mendorong mereka dan untuk dengan hati-hati menjelaskan kepada mereka arti hidup ini (AngTBul 2,2.3), sementara Anggaran Dasar dari ordo lain memberi tekanan pada kekerasan dan kesulitan-kesulitan  yang menanti mereka.

Juga tidak kalah menarik mencatat cara Para Saudara harus bersikap kepada orang-orang yang tingkahnya, dari penampilannya, berlawanan dengan Injil yang Fransiskus dan Para Saudara profesikan. Kita tahu bahwa orang yang berpikir bahwa ia ada di pihak yang benar secara spontan bereaksi dengan melemparkan penilaian pada orang yang berpikir berbeda, dengan mencemooh mereka, dan dengan menganggap dirinya lebih tinggi dari mereka:

17 Mereka kunasihati dan kuajak, agar jangan menghina dan menghakimi orang-orang yang dilihatnya mengenakan pakaian yang halus dan berwarna-warni, menikmati makanan dan minuman yang enak-enak; tetapi lebih baik setiap orang menghakimi dan menghina dirinya sendiri. (AngBul 2:17)

Kita tak akan pernah tahu siapa orang lain sesungguhnya atau mengapa mereka hidup menurut cara yang mereka ambil. Allah sendiri dapat membaca hati mereka, yang mungkin lebih pantas dan lebih baik dari hati kita, walaupun kenyataan bahwa kita berpuasa dan berpakaian kasar dan kotor. Menghindar untuk mengadili orang secara  apriori merupakan awal dari semua dialog yang benar.

Suratnya kepada Minister menggambarkan, secara paradoksal dan kadang-kadang dengan ungkapan yang berlebihan, cara yang seharusnya kita menjangkau orang lain:

“… siapapun yang memasang halangan bagimu, entah itu saudara-saudara sendiri atau orang lainnya, bahkan senadainya mereka memukulmu, haruslah kaunilai sebagai rahmat….kasihilah mereka yang berbuat demikian kepadamu. Janganlah engkau menginginkan sesuatu yang lain dari mereka, selain sebanyak yang dianugerahkan Tuhan kepadamu. Dalam hal itulah engkau harus mencintai mereka dan tidak boleh menginginkan bahwa mereka menjadi orang Kristen yang lebih baik. … Kalau ada seorang saudara di dunia ini yang berbuat dosa, betapa banyak pun dosa yang diperbuatnya itu, maka sekali-kali jangan sampai terjadi bahwa ia, setelah bertemu dengan engkau, pergi tanpa mendapat belas kasihanmu, kalau ia meminta belas kasihan” (SurMin 2,5-7,9)

Surat yang terkenal ini ada untuk menghadapi situasi di mana tampak tidak ada bentuk-bentuk reprositas (kesalingan), dan tidak ada kesiapan untuk dialog. Semuanya tampak diblok, selain satu-satunya pintu, satu-satunya jalan keluar, yang membuka harapan: penerimaan orang lain tanpa syarat, yang bisa terjadi berkat kerahiman yang tak terbatas dan dalam beberapa hal tak terduga, yang hanya datang dari Allah sendiri. Untuk bisa memulai dan mengusahakan dialog, kita harus siap mengetuk panjang dan keras pada pintu, dengan sabar, dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan,  terutama ketika perlu waktu lama sebelum orang membukanya.

“Pergilah ke tengah Kaum Muslimin dan Orang tak beriman lainnya”

Teks yang paling dekat dengan dialog antar agama sebagaimana kita mengerti sekarang ini adalah teks dimana Fransiskus berbicara tentang kehadiran para saudara di dunia Islam. Apa yang sekarang diartikan dengan “orang tak beriman lainnya”, tidak gampang untuk diketahui (AngTBul 16; AngBul 12).

Sementara lebih dari 100 tahun orang Kristen barat terlibat dalam perang untuk agresi, penaklukan, pertahanan diri, melawan kaum sarasen, Fransiskus, yang ketika dia masih muda juga menginginkan untuk bergabung dengan tentara perang salib, bertobat terhadap Injil perdamaian dan memang dia pergi ke salah satu perang salib di Mesir tetapi dengan cara yang sungguh-sungguh berbeda untuk setia dan dengan intensi tunduk dalam pikirannya.

Pengalaman atas pertemuannya yang penuh damai dan dialognya dengan sultan dapat dilihat pembacaan di antara penjelasannya tentang bentuk-bentuk kehadiran Injil yang ia maksudkan dengan “di antara kaum tak beriman”.

 Cara yang satu ialah: tidak menimbulkan perselisihan dan pertengkaran, tetapi hendaklah mereka tunduk kepada setiap makhluk insani karena Allah dan mengakui bahwa mereka orang Kristen. (AngTBul 16:6)

Ini bukan suatu pendekatan yang aktif  dalam menjangkau orang lain dan memulai dialog dengan mereka. Teks ini lebih memperlihatkan cara yang paling baik dan paling injili untuk bergerak ke tengah mereka untuk bisa diterima oleh mereka. Ini berarti bahwa mereka  tidak berdebat, tidak terlibat dalam pertengkaran tetapi “tunduk”: keinginan yang rendah hati untuk masuk ke dalam masyarakat yang ada, dalam struktur lain, sebagai pelayan, sebagai orang kecil, dan tidak sebagai guru yang mencoba untuk melepaskan diri mereka dari yang lain. Ini terjadi pada zaman di mana beberapa Konsili melarang orang Kristen untuk melayani orang tak beriman.

Tetapi ini bukan suatu ajakan untuk hidup di bawah tanah sebagai orang Kristen anonim. Kita mesti tunduk pada setiap penguasa, tetapi harus juga meminta kebebasan untuk mengakui dan menghayati iman kita sendiri. Karena setiap dialog yang asli menuntut setiap orang untuk mempertahankan siapa dan apa dirinya, dengan keyakinannya dan dengan caranya dia bertindak.

Itulah sebabnya Santo Fransiskus sendiri menyatakan bahwa “ketika mereka melihat bahwa itu menyenangkan Tuhan”, atau dengan kata lain ketika situasinya tepat dan waktunya pas, para Saudara dapat mewartakan Sabda Allah. Ketika para saudara sudah cukup dekat dengan orang tak beriman dan diterima oleh mereka dialog dapat mulai, di mana setiap pihak yang terlibat dapat mengungkapkan siapa/apa mereka, apa yang mereka miliki di dalamnya, dan apa yang mereka inginkan dari pihak lain?

Kesimpulan

Walaupun beberapa teks yang ditulis oleh Fransiskus ini tidak secara langsung menyebut gagasan tentang dialog sebagaimana kita mengertinya sekarang ini, mereka tetap menyediakan dasar yang kuat untuknya. Mereka memperlihatkan dasar-dasar yang selalu merupakan pokok pembicaraan: menjangkau orang lain dengan kebaikan hati, dengan kelemah-lembutan dan kerendahan hati, dan tanpa tekanan atau keinginan untuk menguasai, dan tanpa menakutkan siapa pun, tetapi lebih  menyiapkan diri untuk melayani mereka. Bahkan ketika orang lain tampak tidak bisa didekati atau dengan jelas menentang cara saya menghayati kehidupan saya dan keyakinan tempat saya berdiri, saya tidak pernah berhenti mencoba untuk menemui mereka, tetapi selalu dengan sabar menunggu waktu yang tepat. Nama yang Santo Fransiskus berikan kepada ordonya – Saudara Dina, anggota keluarga, sahabat dan orang paling kecil, pelayan, dengan jelas meringkas program ini, dan barangkali menjelaskan mengapa dia dan pengikutnya berdiri kokoh  sebagai simbol dialog.

 

 

Dan sekarang tentang kita:

  1. Mengapa Fransiskus menjadi patokan utama dalam dunia ekumenis, sekalipun dia hidup pada zaman dimana tidak ada dialog dan gerakan ekumenis
  2. Mengapa sikap tunduk dan mendengarkan membuka jalan bagi dialog? Bisa kan Anda memikirkan contoh konkret, baik yang mendukung maupun yang berlawan?
  3. Apa anjuran konkret yang ditawarkan Fransiskus untuk evangelisasi bagi dunia sekarang ini?
  4. Revisi dan tinjauan ulang seperti apa yang kita perlukan berkaitan dengan menyambut orang lain dalam persaudaraan kita, jika kita membandingkannya dengan apa yang dibuat St. Fransiskus?