Kematian Sebagai Jalan Kerendahan Hati
“Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik, yaitu satu tanah air surgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” (Ibr 11:13-16)
Apa yang ditulis dalam Kitab Suci ini adalah fakta bahwa dunia yang kita huni saat ini hanyalah tempat persinggahan bagi kita, bukan tempat tinggal yang sesungguhnya.
Sering kali dalam kehidupan, kita mengalami peristiwa kematian yang membuat kita bertanya-tanya kapan giliran kita tiba. Pertanyaan ini muncul pertama-tama karena pengalaman pribadi—kepergian orang-orang terdekat yang kita kasihi. Namun, pertanyaan ini hanya akan muncul dari mereka yang sungguh memahami keberadaannya sebagai manusia dan memiliki iman yang teguh pada kasih serta kemurahan Allah. Kematian adalah kenyataan mutlak yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun.
Dalam lingkungan keluarga, kita telah berhadapan dengan kehilangan. Di rumah sakit, kita menyaksikan banyak pasien yang meninggal akibat berbagai penyakit. Di jalanan, suara sirene ambulans menjadi tanda bahwa ada seseorang yang telah “dipanggil pulang” oleh Tuhan. Semua ini mengingatkan kita bahwa dunia ini bukan milik kita sepenuhnya. Kitab Suci mengatakan, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun… ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijak.” (Mzm 90:10, 12). Hidup adalah anugerah yang diberikan Allah secara cuma-cuma, dan kita dipanggil untuk menggunakannya dengan bijaksana.
Amor Fati
Sebagai manusia, kita terus belajar bagaimana menjalani kehidupan dan bagaimana menghadapi kematian. Seneca berkata, “Hidup yang tidak dapat ditelaah tidak layak untuk dijalani.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya refleksi dalam hidup. Hidup adalah perjalanan panjang menuju tujuan luhur, dan perjalanan ini harus dimaknai sebaik mungkin agar kita benar-benar mengenali siapa diri kita.
Orang yang takut akan kematian sesungguhnya menolak kodratnya sebagai manusia. Mencintai hidup berarti juga mencintai kematian sebagai bagian dari rencana Tuhan. Refleksi, kontemplasi, dan meditasi adalah jalan yang mendekatkan kita kepada Allah, membantu kita mengenali diri yang sejati, dan menerima hidup dengan penuh syukur (Amor Fati). Mereka yang bijaksana akan melihat hidup sebagai kesempatan untuk mencari makna sejati dan menerima bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah sementara: “Apa gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.” (Pkh 1:3-4).
Dalam menghadapi kematian, banyak orang kudus menunjukkan sikap iman yang luar biasa. Santo Fransiskus dari Assisi, misalnya, memahami bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sebuah perjalanan, dan manusia adalah musafir serta perantau. Yesus sendiri memberi teladan dalam menghadapi kematian-Nya. Di Taman Getsemani, Ia menerima kenyataan bahwa Ia akan dibunuh dengan menyiapkan diri melalui doa dan berserah kepada Bapa-Nya (Mat 26:36-46; Mrk 14:32-42; Luk 22:39-46). Dari teladan Yesus, kita belajar bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang memiliki keterbatasan, tetapi dikasihi-Nya dengan sempurna (Imago Dei).
Yesus mengingatkan kita bahwa rumah kita yang sejati ada di “seberang” sana. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan yang sementara. “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal… sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” (Yoh 14:2-3).
Memento Mori
Mengingat kematian membuat seseorang menjadi rendah hati. Kita bukanlah pemilik dunia ini seutuhnya; semua yang ada di dunia ini akan berlalu, dan kita pun akan meninggalkannya. Meskipun kita tidak tahu bagaimana keberadaan kita sebelum lahir, kita memiliki gambaran tentang kehidupan kekal yang akan datang. Itulah kerinduan terdalam manusia—berjumpa dengan Allah yang adalah Bapa kita. Seperti yang dikatakan Santo Agustinus, “Hanya satu yang kuminta dari-Mu ya Tuhan, agar aku boleh tinggal di rumah-Mu seumur hidupku.” Kematian adalah takdir yang akan dialami oleh setiap manusia.
Orang yang sungguh memaknai hidup sebagai anugerah Tuhan akan mengarahkan hidupnya pada hal-hal yang bermakna dan luhur. Dengan fokus yang senantiasa tertuju kepada Allah, ia akan menjalani hidup dengan penuh makna dan mengabaikan hal-hal yang tidak bernilai kekal. “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya datang.” (Mat 24:46). “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Mat 24:44).
Menjalankan tugas dan panggilan hidup dengan penuh kasih adalah jaminan keselamatan kita. Titik tolak dari semuanya adalah kasih—kasih kepada diri sendiri, kepada sesama, dan kepada seluruh ciptaan. Dalam sebuah perbincangan dengan seorang pemuda, kami berbagi tentang panggilan hidup kami masing-masing. Percakapan itu tidak bersifat formal, tetapi mendalam. Inti dari pembicaraan tersebut adalah bahwa hidup bukan soal apa yang kita miliki
Penulis : Sdr. Sever
Editor : Admin
