Ulasan Materi Ret-Ret tentang “Peziarah Harapan” Oleh P. Don Wea, Pr dan Refleksi Sebagai Seorang Fransiskan
Retret tahunan dengan tema “Peziarah Harapan” menjadi sebuah momen istimewa untuk merenungkan kembali arti perjalanan hidup kita sebagai religius maupun sebagai pribadi beriman. Retret bukan hanya sekadar berhenti sejenak dari rutinitas, melainkan sebuah undangan Allah agar kita masuk ke dalam keheningan, menata ulang hati, dan menemukan kembali arah panggilan kita. Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian, penderitaan, dan berbagai pergulatan, retret ini hadir sebagai kesempatan untuk menyalakan kembali api pengharapan yang mungkin mulai redup dalam perjalanan kita.
Sebagai orang beriman, terlebih sebagai saudara Fransiskan, kita dipanggil untuk menyadari identitas kita sebagai homo viator—manusia peziarah yang berjalan menuju Allah, Sang Sumber Hidup. Perjalanan ini tidak pernah mudah: ada rintangan, luka, dan kelelahan yang kerap membuat langkah terasa berat. Namun justru di sanalah kita belajar untuk mengandalkan Kristus, Peziarah Sejati, yang berjalan mendahului kita dan tetap setia mendampingi kita. Dengan demikian, retret bukan hanya ruang untuk beristirahat, melainkan juga sebuah sekolah kehidupan yang meneguhkan iman, melatih kesabaran, serta memperbarui semangat pelayanan.
Tema “Peziarah Harapan” juga berakar kuat pada konteks nyata kehidupan umat, khususnya di tanah Papua. Di sana, harapan bukan sekadar konsep rohani, melainkan daya hidup yang menolong umat bertahan di tengah kemiskinan, konflik, dan luka sosial. Harapan Kristiani menjadi nyata ketika kita hadir mendampingi, menguatkan, dan berbagi kasih. Dengan cara inilah kita dipanggil untuk menjadi saksi harapan, bukan dengan kata-kata besar, tetapi dengan tindakan sederhana yang memancarkan wajah Kristus.
Dalam bingkai Tahun Suci 2025, pengharapan ditegaskan sebagai identitas Gereja universal. Semboyan Spes non confundit—“Pengharapan tidak mengecewakan” (Rm 5:5)—menjadi pijakan untuk melangkah maju. Harapan tidak pernah berhenti pada angan-angan kosong, tetapi berakar pada janji Allah yang setia, terwujud dalam Kristus yang bangkit, dan dikuatkan oleh Roh Kudus. Bagi para Fransiskan, pengharapan ini diterjemahkan dalam hidup sederhana, persaudaraan sejati, serta keberanian untuk berjalan bersama mereka yang terluka dan tersisih.
Pengantar refleksi ini hendak menegaskan bahwa perjalanan iman kita adalah sebuah peziarahan penuh pengharapan. Setiap langkah, baik di puncak kegembiraan maupun di lembah penderitaan, memiliki makna jika dijalani bersama Allah. Melalui rangkuman dan refleksi pribadi yang tersaji setelah ini, kita diajak untuk masuk lebih dalam ke dalam pengalaman retret, agar tidak berhenti hanya sebagai wacana, tetapi sungguh menjadi kekuatan yang meneguhkan langkah kita sebagai peziarah pengharapan dalam Kristus
PENDAHULUAN
Retret adalah sebuah anugerah istimewa—saat di mana kita berhenti sejenak dari kesibukan, menanggalkan rutinitas, dan masuk ke dalam keheningan untuk mendengarkan bisikan Roh Kudus. Bagi para saudara Fransiskan, khususnya di tanah Papua, retret bukanlah kegiatan biasa. Ia adalah undangan Allah untuk kembali kepada sumber hidup: Kristus, Alfa dan Omega, awal sekaligus tujuan perjalanan kita.
Hidup sebagai religius dan misionaris di Papua penuh dengan tantangan. Kita berjalan bersama umat yang terluka oleh kemiskinan, ketidakadilan, dan konflik, tetapi sekaligus diperkaya oleh semangat juang dan pengharapan mereka. Dalam pergulatan itu, kita sendiri kadang merasa letih, kehilangan arah, atau bahkan bertanya: “Masih sanggupkah saya melangkah lebih jauh?” Retret menjadi ruang untuk menemukan kembali arah, meneguhkan panggilan, dan memperbarui semangat sebagai tanda pengharapan bagi dunia.
Retret juga adalah sebuah peziarahan jiwa. Kita meninggalkan karya sehari-hari, masuk ke dalam perjalanan batin, dan menelusuri kembali jalan hidup yang telah dilalui—baik sukacita maupun luka, keberhasilan maupun kegagalan—seraya mencari jejak kaki Allah yang setia mendampingi kita. Dalam perjalanan ini, kita diajak bersikap rendah hati, berani dipimpin Roh, dan rela dibentuk kembali seperti tanah liat di tangan Sang Penjunan.
Tahun Suci 2025 mengingatkan kita pada identitas kita sebagai “Peziarah Pengharapan”. Harapan bukanlah ilusi, melainkan janji Allah yang pasti: “Pengharapan tidak mengecewakan” (Rm 5:5). Bersama seluruh Gereja universal, kita berjalan menyalakan api pengharapan, khususnya di tanah Papua yang kaya budaya namun penuh luka. Justru di sanalah Kristus hadir, meneguhkan dan menyala di tengah penderitaan.
Bagi Fransiskus dari Assisi, hidup beriman berarti menjadi saudara bagi semua dan peziarah di dunia. Hidup Fransiskan mengajarkan kesederhanaan, persaudaraan, dan keterbukaan untuk diutus ke pinggiran. Sebagai saudara Fransiskan, kita dipanggil untuk menjadi sahabat bagi yang menderita, jembatan antarbudaya, serta saksi harapan bagi dunia yang sering kehilangan arah.
Selama beberapa hari retret ini, kita diundang untuk:
- Menemukan kembali Kristus sebagai sumber pengharapan,
- Menghidupi identitas sebagai saudara peziarah,
- Membaca realitas Papua dalam terang iman,
- Dan memperbarui semangat persaudaraan dalam pelayanan.
Mari kita memasuki retret dengan hati terbuka, membiarkan Roh Kudus menyalakan kembali api yang mungkin mulai redup. Kita datang bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk umat dan tanah Papua yang kita layani.
Akhirnya, kita serahkan peziarahan ini kepada Maria, Bintang Harapan, yang selalu menuntun langkah kita menuju Kristus. Bersama teladan Santo Fransiskus, semoga retret ini menjadi kesempatan bagi kita untuk semakin setia berjalan sebagai peziarah harapan, yang hadir di tengah umat dengan doa, persaudaraan, dan pelayanan yang penuh kasih.
HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI PEZIARAH HARAPAN
Hidup manusia adalah sebuah ziarah—perjalanan tanpa henti menuju Allah, sumber dan tujuan hidup. Gereja menyebut manusia sebagai homo viator (manusia peziarah), yang selalu bergerak dari satu pengalaman ke pengalaman lain, baik suka maupun duka, namun tidak pernah sendirian karena Allah selalu menyertai.
Kitab Suci penuh dengan kisah ziarah: Abraham menuju tanah terjanji, Musa dan Israel di padang gurun, Yesus menuju Yerusalem, hingga murid-murid Emaus yang berjumpa kembali dengan harapan. Ziarah mencerminkan identitas Gereja—umat yang berjalan menuju Kerajaan Allah.
Yesus sendiri adalah Peziarah Sejati: datang dari surga, berjalan di tengah manusia, lalu kembali kepada Bapa. Hidup-Nya menjadi jalan keselamatan dan teladan bagi kita untuk tidak tinggal diam, melainkan selalu bergerak menyapa dan menyelamatkan.
Ziarah bukan wisata, tetapi perjalanan rohani. Setiap langkah membawa makna: keheningan untuk mendengar Allah, kesederhanaan untuk kembali pada yang pokok, kebersamaan dengan sesama, kontemplasi ciptaan, serta solidaritas dengan para migran dan pengungsi. Ia menjadi “sekolah kehidupan” yang mengajarkan kesabaran, pengorbanan, pertobatan, dan sukacita batin.
Tujuan akhir ziarah bukanlah tempat kudus semata, melainkan pelukan Allah. Setiap persinggahan hanyalah jeda menuju rumah Bapa. Inilah miniatur hidup Kristiani: doa, pertobatan, kebersamaan, dan pengharapan akan keabadian, sebagaimana semboyan Yubileum 2025: Spes non confundit — “Pengharapan tidak mengecewakan” (Rm 5:5).
Dengan demikian, ziarah adalah metafora kehidupan Kristiani: kita adalah umat yang berziarah, Gereja yang berjalan, tubuh yang bergerak menuju perjumpaan kekal dengan Kristus, Sang Peziarah Sejati.
ZIARAH : PERJALANAN FISIK, BATIN, DAN ALEGORIS
Ziarah dalam tradisi iman Kristiani bukan sekadar perjalanan menuju tempat suci, melainkan sebuah pengalaman rohani yang menyeluruh. Kitab Suci menegaskan bahwa hidup kita di dunia adalah peziarahan menuju “kota yang akan datang” (Ibr 13:14).
Ziarah memiliki tiga dimensi yang saling melengkapi:
- Ziarah Fisik – langkah nyata menuju tempat suci untuk mengalami perjumpaan dengan Allah, sebagai wujud tobat, syukur, dan devosi.
- Ziarah Batin – perjalanan doa, meditasi, dan kontemplasi yang membuka hati pada kehadiran Allah, bahkan tanpa harus berpindah tempat.
- Ziarah Alegoris – seluruh hidup dipahami sebagai perjalanan menuju Allah, di mana setiap langkah sehari-hari menjadi bagian dari ziarah iman.
Dalam Perjanjian Lama, Abraham, Israel dalam Eksodus, dan mazmur-mazmur ziarah menampilkan gambaran umat Allah sebagai pendatang yang selalu berjalan bersama Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri tampil sebagai peziarah sejati—hidup-Nya menuju Yerusalem dan berpuncak pada misteri salib dan kebangkitan. Gereja pun dipanggil menjadi komunitas peziarah yang berjalan menuju kepenuhan dalam Kerajaan Allah.
Ziarah tidak hanya memperdalam relasi dengan Allah, tetapi juga menumbuhkan persaudaraan, misi, dan kepedulian sosial-ekologis. Ia menjadi latihan rohani yang mengajarkan kesetiaan, solidaritas, serta tanggung jawab untuk merawat sesama dan ciptaan.
Akhirnya, ziarah Kristen adalah perjalanan iman, harapan, dan kasih—sebuah peziarahan bersama Kristus, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6). Setiap langkah kita adalah bagian dari perjalanan menuju Yerusalem baru, di mana Allah berdiam bersama umat-Nya.
SEKILAS TENTANG TEOLOGI ZIARAH
Teologi ziarah menegaskan bahwa ziarah bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan pengalaman iman yang mendalam. Ziarah memiliki dasar alkitabiah, teologis, dan kontekstual, yang membantu umat memahami Kitab Suci, mengalami perjumpaan rohani, serta menanggapi situasi nyata.
Allah sendiri adalah Rekan Seperjalanan yang berziarah bersama ciptaan-Nya. Dalam sejarah Israel, Allah mendampingi umat-Nya dari penindasan menuju pembebasan. Yesus Kristus adalah Peziarah Sejati yang hidup-Nya penuh dengan perjalanan: menjadi pengungsi, berjalan kota ke kota, menyembuhkan, membebaskan, hingga puncaknya di salib Golgota.
Ziarah dipahami sebagai sakramen geografi—perjumpaan iman dengan Kristus dalam ruang, waktu, dan sejarah. Puncaknya adalah Ekaristi, saat umat menyatukan hidup dengan Kristus. Mengikuti jejak Kristus berarti memikul salib, menolak egoisme, dan berjalan bersama mereka yang menderita. Ziarah sejati adalah ziarah kasih, keadilan, dan solidaritas, di mana Gereja hadir sebagai tanda harapan di dunia.
KITA ADALAH PEZIARAH HARAPAN
Harapan adalah nafas hidup manusia yang memberi arah dan kekuatan untuk bertahan menghadapi penderitaan serta ketidakpastian. Tanpa harapan, manusia mudah menyerah dan kehilangan makna hidup.
Santo Fransiskus dari Asisi menjadi teladan peziarah harapan. Ia memilih hidup sederhana, menyerahkan diri kepada Allah, dan menyebut dirinya serta saudara-saudaranya sebagai peziarah di dunia. Spiritualitas ini mengajarkan hidup dalam kesederhanaan, keterbukaan pada Allah, serta berjalan bersama sesama dalam iman.
Sebagai Fransiskan di Papua, kita dipanggil untuk melihat hidup sebagai ziarah iman, berjalan bersama umat di tengah keterbatasan dan tantangan. Peziarahan bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga proses spiritual yang meneguhkan iman, menyucikan diri, dan memperdalam makna hidup.Harapan berperan penting dalam perjalanan ini, sebagaimana dikatakan oleh Paus Benediktus XVI: “Kita diselamatkan dalam pengharapan”. Teori C.R. Snyder menjelaskan bahwa harapan memiliki dua unsur utama:
- Pathway thinking: kemampuan merancang jalan menuju tujuan.
- Agency thinking: motivasi untuk bertekun meski menghadapi rintangan.
Peziarahan juga menumbuhkan kerendahan hati, keterbukaan pada pengalaman baru, serta memperkuat relasi dengan komunitas dan iman kepada Allah. Harapan realistis yang berpadu dengan usaha nyata mencegah kekecewaan dan menjaga semangat untuk terus maju. Akhirnya, hidup sebagai peziarah harapan berarti menerima hidup sebagai perjalanan yang penuh tantangan sekaligus kesempatan. Setiap langkah menjadi momen untuk bertumbuh, belajar, dan semakin dekat pada penyelenggaraan Allah.
BELAJAR PADA TOKOH-TOKOH BIBLIS
Materi ini menampilkan teladan iman dari Hana dan pengajaran Paulus dalam Surat Titus sebagai inspirasi peziarah harapan.
- Hana: Sosok Peziarah Harapan
Hana, seorang nabi perempuan lanjut usia, hidup dalam doa, puasa, dan penantian Mesias (Luk 2:36–40). Meski pernah mengalami duka kehilangan, ia tetap setia berpengharapan. Dari hidupnya kita belajar:
- Peziarah harapan tidak berhenti berjalan meski hidup penuh ketidakpastian.
- Peziarah harapan selalu mencari kehendak Allah melalui doa dan kesetiaan.
- Peziarah harapan peka terhadap kehadiran Allah bahkan dalam hal-hal sederhana.
- Peziarah harapan bersaksi tentang kasih dan janji Allah, menguatkan sesama.
- Teologi Pengharapan Paulus dalam Surat Titus
Paulus menegaskan bahwa pengharapan hidup kekal adalah inti iman Kristiani. Harapan ini:
- Berakar pada janji Allah yang setia sejak kekekalan (Tit. 1:2).
- Digenapi dalam Kristus dan dijalani dalam kasih karunia (Tit. 3:7).
- Akan mencapai kepenuhannya pada kedatangan Kristus kedua kali (Tit. 2:13).
Harapan ini bersifat historis, kristologis, pneumatologis, dan eskatologis: sudah dialami sekarang, namun masih menantikan kepenuhan di masa depan.
- Aplikasi dalam Spiritualitas Fransiskan di Papua
Teologi pengharapan Paulus diterjemahkan dalam karya Fransiskan di Papua:
- Menjadi saksi harapan di tengah realitas sulit.
- Menghidupi dinamika “sudah dan belum” dengan rendah hati.
- Setia dalam kasih karunia dan pelayanan sederhana.
- Membawa sukacita Injil di tengah penderitaan umat.
- Merawat ciptaan sebagai tanda pengharapan ekologis.
- Membangun persaudaraan sejati sebagai rumah pengharapan.
Dengan demikian, Hana dan Paulus sama-sama menegaskan bahwa pengharapan Kristiani bukanlah sikap pasif, melainkan perjalanan aktif: berjalan, berdoa, mencari, bersaksi, dan menantikan janji Allah yang pasti digenapi.
TEOLOGI PENGHARAPAN DALAM KITAB RATAPAN
Kitab Ratapan lahir dari pengalaman pahit bangsa Israel saat Yerusalem hancur, Bait Allah runtuh, dan umat dibuang ke tanah asing. Meski penuh keluhan dan tangisan, kitab ini bukan sekadar ratapan tanpa arah, melainkan doa iman yang mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah akhir, melainkan pintu menuju pertobatan dan pemulihan.
Pokok-pokok Pengharapan dalam Kitab Ratapan:
- Kesetiaan Allah yang Tidak Berubah – Kasih setia-Nya tak berkesudahan dan selalu baru setiap pagi (Rat. 3:22–23).
- Pengharapan yang Ditandai Ketaatan – Harapan sejati menuntut kesabaran, ketaatan, dan pencarian Allah (Rat. 3:25).
- Kebaikan Allah yang Tidak Berkesudahan – Allah digambarkan sebagai Bapa/Ibu penuh kasih yang tak pernah melupakan umat-Nya (Yes. 49:15).
- Pengampunan Allah yang Memerdekakan – Penderitaan disadari sebagai akibat dosa, namun Allah yang menghukum juga adalah Allah yang mengampuni, memulihkan, dan memberi hidup baru.
Pesan Utama:
- Murka Allah hanya sementara, kasih setia-Nya kekal adanya.
- Penderitaan dapat menjadi jalan menuju pemulihan.
- Harapan sejati lahir dari kesetiaan Allah, bukan dari kekuatan manusia.
- Pengampunan Allah membuka kebebasan sejati dan hidup baru dalam Kristus.
Aplikasi bagi Hidup:
Kitab Ratapan mengajak kita berani jujur dalam penderitaan, melihat kesetiaan Allah yang selalu baru, menghidupi ketaatan dan kesabaran, bersyukur atas kebaikan-Nya, serta mengalami pemulihan lewat pengampunan. Dengan demikian, penderitaan tidak memadamkan pengharapan, melainkan memurnikannya.
PENGARAPAN DALAM KITAB AMSAL
Materi ini membahas makna harapan menurut Kitab Amsal 23:18: “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Harapan dipandang sebagai kekuatan rohani yang menuntun manusia di tengah ketidakpastian hidup. Tanpa harapan, iman menjadi kering, kasih layu, dan hidup kehilangan arah.
Beberapa sumber Kitab Suci yang memperdalam makna harapan antara lain:
- Mazmur 130: doa penuh penantian akan Tuhan.
- Roma 5:3–5: penderitaan melahirkan ketekunan dan pengharapan yang tidak mengecewakan.
- Lukas 24:13–35: perjalanan ke Emaus, di mana Kristus memulihkan harapan para murid.
Dalam spiritualitas Fransiskan, harapan hadir melalui:
- Santo Fransiskus yang tetap bersyukur dalam penderitaan.
- Santa Klara yang menaruh seluruh hidup pada Kristus yang miskin dan tersalib.
- Kehadiran saudara-saudari Fransiskan di tanah misi sebagai tanda pengharapan bagi umat kecil.
Ilustrasi eksperimen Curt Richter menunjukkan bahwa harapan memberi daya untuk bertahan melampaui batas. Demikian pula, iman pada Allah yang setia membuat manusia tidak mudah menyerah.
Harapan sejati bukan sekadar optimisme, melainkan iman yang berakar pada Allah. Rasul Paulus mengajarkan untuk bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan tekun dalam doa (Rm 12:12). Harapan dalam Tuhan menghasilkan sukacita, kesabaran, dan ketekunan.
Bagi saudara Fransiskan, harapan adalah panggilan untuk menjadi saksi sukacita Injil di tengah dunia yang penuh kegelapan. Kitab Ibrani 6:19 menyebut harapan sebagai “jangkar yang kuat dan aman bagi jiwa.”
Pesan reflektif: Harapan adalah identitas kita sebagai peziarah pengharapan. Ia bukan hanya optimisme, tetapi iman akan kesetiaan Allah yang menjadi cahaya di tengah kegelapan, jangkar di tengah badai, dan kekuatan di tengah kelemahan.
REFLEKSI ATAS MAZMUR 130
Mazmur 130, dikenal sebagai de profundis (“dari kedalaman”), adalah doa yang lahir dari pergulatan dan penderitaan. Pemazmur berseru dari jurang terdalam hidup, namun tetap percaya bahwa Allah mendengar dan kasih setia-Nya tak pernah gagal. Doa ini mengajarkan kejujuran di hadapan Allah, kesabaran dalam menanti, dan harapan yang berakar pada Allah, bukan pada diri sendiri.
Mazmur ini menginspirasi para saudara Fransiskan di Papua yang hidup di tengah berbagai “kedalaman” umat: kemiskinan, keterbatasan pendidikan, konflik sosial, dan penderitaan lainnya. Mereka dipanggil untuk menjadi penjaga harapan seperti pengawal malam yang menanti fajar, tetap setia meski hasil belum terlihat.
Harapan Kristiani berbeda dari harapan duniawi karena bersumber pada kebangkitan Kristus. Harapan ini tidak mengecewakan sebab berakar pada kasih Allah. Ziarah iman juga bukan perjalanan pribadi, melainkan bersama komunitas, Gereja, dan sesama umat. Sebagai peziarah harapan, kita dipanggil untuk berjalan bersama, menopang yang rapuh, dan mewartakan Kristus yang bangkit sebagai fajar yang pasti datang.
Refleksi
Dalam hidup, setiap orang pasti mengalami “jurang kedalaman” – entah berupa luka batin, keraguan, atau penderitaan. Kita sendiri pun pernah merasakan saat-saat gelap ketika doa hanya bisa berupa seruan sederhana: “Tuhan, tolonglah aku.” Namun pengalaman itu justru membuat relasi kita dengan Tuhan semakin nyata, karena dari kerapuhan itulah lahir pengharapan.
Seperti penjaga yang menanti fajar, kita belajar percaya bahwa terang pasti datang. “Fajar” yang kita nantikan adalah pemulihan, jalan keluar dari kesulitan, dan damai batin yang hanya Tuhan bisa berikan. Beberapa kali kita menyaksikan kesetiaan Allah yang tidak mengecewakan, bahkan ketika jalan terasa buntu, selalu ada cara baru yang Ia bukakan.
Harapan duniawi sering cepat pudar, tetapi harapan Kristiani memberi kekuatan untuk bertahan. Itu sebabnya kita ingin terus menjaga agar harapan saya berakar pada Allah, bukan pada kekuatan diri sendiri.
Dalam perjalanan iman, kita juga tidak sendirian. Ada keluarga, komunitas, dan sahabat-sahabat rohani yang menemani sebagai sesama peziarah harapan. Kini, tantangannya adalah bagaimana kita sendiri bisa menjadi pembawa harapan bagi orang lain: hadir untuk mendengarkan, menyalakan semangat, dan menjadi tanda kecil bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita.
TEOLOGI PENGHARAPAN JURGEN MOLMANN
Teologi Pengharapan menurut Jürgen Moltmann menegaskan bahwa iman Kristen berorientasi ke masa depan yang dijanjikan Allah. Allah adalah “Allah masa depan” yang membimbing umat melalui janji-Nya dan menghadirkan pembaruan. Karena itu, harapan bukan hanya bagian dari eskatologi, melainkan dasar seluruh iman Kristen, yang menggerakkan Gereja untuk terlibat aktif dalam dunia nyata.
Moltmann sendiri mengalami penderitaan perang, lalu menemukan iman melalui Kitab Suci. Dari pengalaman itu lahir gagasannya bahwa pengharapan sejati berakar pada salib dan kebangkitan Kristus. Salib menunjukkan solidaritas Allah dengan manusia yang menderita, dan kebangkitan memberi kepastian bahwa penderitaan tidak sia-sia, melainkan jalan menuju hidup baru.
Pengharapan yang realistis bukan mimpi kosong, melainkan kekuatan yang bekerja “di sini dan sekarang” untuk melawan ketidakadilan, membela yang tertindas, dan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah. Gereja dipanggil untuk menjadi jemaat pengharapan, bukan hanya bagi dirinya sendiri, melainkan bagi dunia, dengan aksi nyata demi keadilan, perdamaian, dan kehidupan bersama.
Dalam konteks Papua, pengharapan ini diwujudkan melalui spiritualitas Fransiskan: berjalan bersama masyarakat, membela yang lemah, menjaga ciptaan, dan menjadi peziarah pengharapan yang menyalakan cahaya Kristus di tengah penderitaan.
TEOLOGI PENGHARAPAN PAUS FRANSISKUS
Teologi Pengharapan Paus Fransiskus menegaskan bahwa pengharapan bukan sekadar optimisme, melainkan kebajikan teologal yang bersumber dari Allah yang setia. Harapan lahir dari Sabda, dipelihara dengan doa, dikuatkan dalam Ekaristi, dan diwujudkan dalam kasih yang nyata. Gereja dipanggil untuk “bergerak keluar”, baik dalam pembaruan internal (ad intra) maupun menghadapi persoalan publik (ad extra), termasuk kemiskinan, lingkungan, dialog antaragama, dan keadilan sosial.
Dasar biblis pengharapan terlihat dalam nubuat Yesaya, inkarnasi Kristus, surat-surat Paulus, hingga kebangkitan Yesus sebagai puncak harapan. Sumber pengharapan berasal dari Allah Bapa, Kristus, dan Roh Kudus, sedangkan objeknya adalah keselamatan kekal dan surga. Jalan menuju pengharapan ditempuh dengan mendengarkan Sabda, merenungkan Kitab Suci dan tanda zaman, serta doa.
Buah pengharapan terwujud dalam penghargaan martabat manusia, solidaritas, subsidiaritas, kepedulian ekologis, serta semangat dialog dan perdamaian. Paus Fransiskus menekankan Ekaristi, doa, pendampingan, kerendahan hati, dan tindakan nyata sebagai sarana menghadirkan pengharapan di tengah dunia.
Refleksi
Sebagai seorang Fransiskan kita menyadari bahwa bagian hidup kita yang paling membutuhkan terang pengharapan Kristiani adalah saat menghadapi kecemasan dan ketidakpastian masa depan. Harapan menguatkan kita untuk melihat masa depan bukan sebagai ancaman, melainkan janji Allah yang setia. Panggilan Gereja sebagai “rumah sakit lapangan” menuntun kita untuk hadir bagi sesama yang terluka, dengan sikap mendengarkan, mendampingi, dan menghibur.
Doa menjadi “sekolah harapan” bagi kita. Melalui doa, kita belajar menyerahkan kelemahan, menemukan kekuatan, dan merasakan pelukan kasih Allah. Tantangan terbesar bagi kita adalah bagaimana mewartakan harapan di tengah penderitaan sosial, ekonomi, dan budaya, karena sering kali saya merasa tidak berdaya. Namun, saya belajar bahwa pengharapan sejati tumbuh bukan dari solusi instan, melainkan dari keberanian berjalan bersama sesama.
Dalam realitas perbedaan, kita ingin menjadi jembatan persaudaraan dan perdamaian dengan membuka diri, mendengarkan, dan menghargai setiap pribadi. Langkah kecil yang dapat kita lakukan adalah memberi waktu untuk mendengarkan orang lain, menguatkan yang lemah, menjaga lingkungan, dan membangun doa bersama. Kita percaya, tindakan sederhana ini dapat menjadi cahaya pengharapan yang nyata di tengah komunitas tempat saya diutus.
TEOLOGI PENGHARAPAN PAUS BENEDIKTUS XVI – SPE SALVI FACTI SUMUS
Dokumen Spe Salvi (2007) karya Paus Benediktus XVI menegaskan bahwa kita diselamatkan dalam pengharapan (Rm 8:24). Harapan Kristen bukan pelarian dari dunia, melainkan kekuatan yang membentuk, mengubah, dan meneguhkan manusia untuk semakin serupa dengan Kristus. Harapan memberi arah dan makna hidup, memungkinkan orang beriman tetap bertahan di tengah penderitaan, perang, ketidakadilan, dan krisis.
Benediktus XVI menekankan bahwa harapan sejati hanya berakar pada Allah yang mengasihi sampai tuntas melalui salib dan kebangkitan Kristus. Tanpa Allah, semua harapan manusia rapuh dan berakhir kosong. Dengan iman, janji Allah tentang hidup kekal sudah mulai hadir dalam hidup sekarang, dan harapan menuntut ketekunan serta keberanian untuk tetap bersaksi di tengah tantangan.
Harapan Kristen tidak berhenti pada harapan-harapan kecil, melainkan terarah pada Harapan Agung, yaitu Allah sendiri yang menjanjikan kehidupan sejati. Harapan ini memampukan orang beriman untuk berbuat kasih, membangun kehidupan bersama, dan menjadi saksi Kerajaan Allah di dunia.
Maria disebut sebagai Bunda Pengharapan: dengan “ya”-nya pada Kabar Sukacita, ia menghadirkan Sang Harapan ke dunia. Dalam suka dan dukanya bersama Yesus hingga di kaki salib, Maria tetap teguh dalam iman. Ia menjadi teladan bagi Gereja dan umat beriman untuk berjalan sebagai peziarah pengharapan, tetap setia menatap Kristus Sang Terang Sejati.
TEOLOGI PENGHARAPAN MENURUT SANTO FRANSISKUS ASISI
Materi ini menegaskan bahwa pengharapan adalah anugerah ilahi yang meneguhkan hati manusia untuk percaya pada janji Kristus, sekaligus menjadi kekuatan melawan keputusasaan. Menurut Santo Fransiskus Asisi, pengharapan adalah kebajikan teologis yang mengarahkan hati pada Allah dan tujuan akhir manusia: hidup kekal bersama-Nya.
Pengharapan tidak hanya memberi daya tahan menghadapi penderitaan, tetapi juga menumbuhkan kerinduan akan Surga, mendorong tindakan kasih nyata, dan selalu terkait erat dengan iman serta kasih. Hidup miskin dan sederhana menjadi jalan untuk menaruh seluruh pengharapan hanya pada Allah.
Dalam konteks Papua, pengharapan berarti berani berjalan bersama umat dalam kesederhanaan, menanggung tantangan dengan iman, serta membagikan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Para Fransiskan dipanggil untuk menjadi peziarah pengharapan: hadir sebagai saudara, saksi keteguhan, pembawa damai, dan tanda kasih Allah bagi umat kecil.
Akhirnya, pengharapan sejati tidak berhenti pada keyakinan batin, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kristus yang bangkit adalah sumber dan tujuan segala harapan, yang memberi kekuatan untuk terus melangkah menuju hidup kekal.
BERJALAN BERSAMA SEBAGAI PEZIARAH HARAPAN
Materi ini menegaskan bahwa ziarah iman bukanlah perjalanan pribadi, melainkan perjalanan bersama dalam persekutuan umat Allah. Sejak zaman Israel hingga Gereja perdana, perjalanan iman selalu dijalani dalam kebersamaan, ditopang oleh firman Tuhan dan Roh Kudus. Kisah murid Emaus mengingatkan bahwa Kristus hadir dalam kebersamaan, sedangkan Santo Fransiskus menegaskan persaudaraan sebagai anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia. Dalam kehidupan Fransiskan, persaudaraan berarti saling menopang, menguatkan, dan menjadi tanda kehadiran Kristus di dunia.
Konteks Papua menegaskan nilai konkret perjalanan bersama, baik secara rohani maupun fisik, ditengah penderitaan umat. Kehadiran saudara Fransiskan menjadi tanda harapan dan kasih Allah, sejalan dengan budaya lokal yang menjunjung tinggi gotong royong. Tantangan zaman modern berupa individualisme menuntut kita kembali pada spiritualitas peziarah harapan yang menekankan kebersamaan.
Tahun Yubileum 2025 menjadi undangan untuk memperbarui relasi dengan Allah, sesama, dan ciptaan, serta untuk mewartakan kabar baik. Harapan Kristiani melampaui optimisme manusiawi karena tetap hidup dalam penderitaan dan kegelapan, ditopang oleh Roh Kudus. Gereja disebut sebagai Gereja peziarah yang berjalan dalam iman, kesabaran, dan pengharapan yang tidak mengecewakan. Pengharapan nyata dalam tindakan kasih, sekecil apa pun, dan teladan utama ditemukan dalam Bunda Maria, Stella Maris. Sebagai peziarah harapan, kita dipanggil untuk menatap masa depan dengan hati teguh, bergembira dalam iman, mengasihi dengan semangat, dan menjadi tanda kasih Allah bagi dunia.
PEZIARAH HARAPAN DALAM TAHUN YUBELIUM 2025
Tahun Yubileum 2025 mengusung tema “Pilgrims of Hope – Peziarah Harapan.” Tema ini lahir dari kesadaran akan krisis yang melanda dunia: perang, ketidakadilan, krisis ekologi, sosial, bahkan iman. Gereja dipanggil untuk menjadi saksi pengharapan, bukan sumber ketakutan
Yubileum bukan hanya seremonial, melainkan momen rahmat yang mengingatkan pada misi Yesus: membawa kabar gembira bagi yang miskin, pembebasan bagi yang tertindas, dan pengampunan bagi yang berdosa. Pintu Suci menjadi simbol Kristus, satu-satunya pintu menuju keselamatan. Ziarah Yubileum berarti perjalanan batin menuju pertobatan, rekonsiliasi, dan pembaruan hidup
Dalam semangat Fransiskan, Yubileum menegaskan hidup sederhana, ringan, dan penuh harapan pada kasih Allah. Di Papua, Yubileum bermakna nyata: pembebasan bagi yang tertindas, rekonsiliasi dalam konflik, serta solidaritas dengan umat yang menderita. Paus Fransiskus menekankan bahwa Yubileum adalah “pintu harapan yang selalu terbuka.”
Bulla Spes Non Confundit menyoroti tujuh wujud harapan: perdamaian, keterbukaan pada kehidupan, mendampingi yang menderita, mendukung kaum muda, menghormati migran, merawat lansia, dan membela kaum miskin. Semua ini bermuara pada Kristus, dasar pengharapan sejati yang tak tergoyahkan. Maria ditempatkan sebagai Bintang Harapan yang menuntun umat untuk tetap teguh dalam penderitaan.
Refleksi
Sebagai Seorang Fransiskan, pengharapan Kristiani berarti berpegang teguh pada Kristus meskipun dunia sering memberi alasan untuk putus asa. Saya merasakannya dalam perjalanan hidup di Papua, di tengah keterbatasan, kesulitan, dan konflik, justru di sanalah Kristus hadir sebagai dasar kekuatan dan sukacita.
Sebagai peziarah harapan, kita merasa tidak berjalan sendirian. Ada keluarga, komunitas, dan umat yang mendukung, serta Yesus yang selalu menemani. Tantangan terbesar adalah menghadapi rasa lelah dan kecewa ketika perubahan terasa lambat. Namun, harapan menolong saya untuk terus melangkah dengan iman, yakin bahwa setiap langkah kecil berarti di mata Tuhan.
Yang paling menyentuh hati kita adalah wujud harapan bagi kaum miskin dan menderita. Dari mereka, saya belajar arti ketabahan, kesederhanaan, dan iman yang murni. Harapan tidak selalu datang dari kekuatan besar, tetapi sering muncul dari kesaksian orang kecil yang setia.
Pengalaman dalam Sakramen Tobat juga membantu kita merasakan damai dan harapan baru. Di sana saya disembuhkan dari luka dan diingatkan bahwa kasih Allah selalu lebih besar daripada kelemahan saya
Devosi kepada Bunda Maria pun meneguhkan kita. Ia adalah “Bintang Harapan” yang menuntun, terutama ketika saya merasa berada dalam kegelapan. Dari Maria saya belajar untuk tetap berdiri teguh di bawah salib, percaya bahwa Allah setia.
Komitmen sebagai seorang Fransiskan setelah merenungkan Yubileum ini adalah untuk menjadi tanda harapan dalam lingkup kecil: menyemangati mereka yang putus asa, mendukung kaum muda, dan hadir dengan kesederhanaan. Dengan begitu, saya pun ikut berjalan sebagai peziarah harapan sejati dalam Kristus.
HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PERZIARAHAN PENGHARAPAN DI TANAH PAPUA
Sebagai peziarah pengharapan, para saudara Fransiskan dipanggil untuk berjalan bersama umat Papua, menyalakan cahaya Injil, dan menjadi tanda kasih Allah. Namun, perjalanan ini tidak lepas dari berbagai hambatan. Hambatan-hambatan tersebut justru menjadi kesempatan untuk menemukan Kristus yang hadir, meneguhkan, dan memberi kekuatan baru.
- Hambatan Personal-Spiritual
Kelelahan fisik, kesepian, krisis panggilan, kelesuan doa, dan kekeringan rohani dapat melemahkan semangat. Dalam kesendirian, Fransiskan diajak menemukan Kristus sebagai sahabat sejati melalui doa dan ekaristi.
- Hambatan Hidup Persaudaraan
Perbedaan latar belakang, gesekan dalam komunitas, rutinitas yang monoton, dan kurangnya sikap saling menopang sering mengaburkan persaudaraan injili. Fransiskan dipanggil untuk saling menerima dan menopang dengan rendah hati.
- Hambatan Pelayanan Pastoral
Keterbatasan tenaga, minimnya pemahaman iman umat, serta beban administratif membuat pelayanan terasa berat. Namun, pelayanan sejati bukan soal hasil besar, melainkan kesetiaan hadir dengan wajah gembira.
- Hambatan Sosial-Politik
Ketidakadilan, kekerasan, trauma, dan keterasingan budaya masih membelenggu masyarakat Papua. Fransiskan dipanggil untuk hadir dalam solidaritas nyata, menjadi tanda kehadiran Allah bagi yang tertindas.
- Hambatan Ekonomi dan Sarana Hidup
Keterbatasan fasilitas, ketergantungan pada bantuan luar, dan kemiskinan umat menjadi tantangan besar. Fransiskan dipanggil hidup sederhana dan berbagi nasib dengan umat miskin.
- Hambatan Kultural dan Antargenerasi
Perubahan generasi muda, ketegangan antara adat dan iman, serta kurangnya teladan masyarakat menjadi tantangan baru. Fransiskan harus menjadi jembatan antara iman, budaya, dan kaum muda.
- Hambatan dari Budaya Global
Arus materialisme, individualisme, dan eksploitasi alam membawa luka ekologis dan sosial. Fransiskan dipanggil untuk merawat ciptaan dan menghadirkan hidup sederhana sebagai kritik profetis.
- Hambatan Situasi dan Kondisi Sekitar
Geografis yang berat, fasilitas minim, serta trauma sosial membuat pelayanan penuh tantangan. Namun, Fransiskan dipanggil untuk hadir sebagai sahabat umat dengan wajah penuh harapan.
- Hambatan Psikologis
Rasa tidak mampu, frustrasi, tekanan batin, dan keputusasaan sering menghantui. Fransiskan dituntun untuk menyandarkan diri pada rahmat Allah dan mencari kekuatan dalam persaudaraan.
- Hambatan Sosiologis
Kemiskinan, keterpinggiran, diskriminasi, dan ketidakadilan struktural melukai kehidupan umat. Fransiskan diundang untuk berpihak pada yang kecil dan miskin, menjadi tanda solidaritas Kristus.
Hambatan-hambatan ini bukan akhir jalan, melainkan bagian dari via crucis peziarahan pengharapan. Justru di tengah keterbatasan dan luka, Kristus hadir menyalakan api harapan. Para Fransiskan dipanggil untuk tetap setia, berjalan bersama umat, dan menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih.
Seperti murid-murid di Emaus, umat Papua yang letih dan kecewa hanya akan kembali bersemangat bila Kristus hadir melalui sabda, ekaristi, dan kasih nyata dari para saudara.
KESIMPULAN
Materi ini menegaskan bahwa hidup sebagai seorang Fransiskan di Tanah Papua adalah peziarahan iman yang penuh warna, dengan keindahan alam, kekayaan budaya, tetapi juga tantangan besar seperti krisis panggilan, keterbatasan sarana, luka sosial, dan persoalan ekologi. Dalam situasi itu, kita dipanggil menjadi peziarah pengharapan yang tidak hanya berjalan, tetapi juga menyalakan harapan di tengah umat.
Strategi utama yang ditawarkan antara lain:
- Disiplin dalam doa.
- Menjadikan Ekaristi sebagai sumber kekuatan.
- Hidup dalam pertobatan dan pembaharuan.
- Menghayati nasehat Injil (ketaatan, kemiskinan, kemurnian).
- Hidup persaudaraan dalam komunitas.
- Kesetiaan pada sabda Tuhan.
- Ketaatan pada tugas perutusan.
- Membangun kehidupan yang kondusif dengan umat.
- Ketaatan pastoral.
- Hidup sebagai murid yang terus belajar.
- Menumbuhkan iman, harapan, dan kasih dalam tindakan nyata.
- Rendah hati, sabar, solider, terbuka, dan siap mendengarkan.
- Memiliki daya juang tinggi dan tidak mudah menyerah.
Peziarahan ini bukan perjalanan mulus, melainkan jalan penuh rintangan yang justru memurnikan harapan. Kelemahan manusia menjadi ruang bagi kuasa Allah, kesederhanaan menjadi tanda persaudaraan, dan keberanian berpihak menjadi suara profetis.
Refleksi lebih lanjut dihubungkan dengan ajaran Santo Yohanes dari Salib, yang menekankan bahwa perjumpaan sejati dengan Allah terjadi melalui iman, harapan, dan kasih.
- Iman: tanggapan manusia terhadap Allah, meski jalan terasa gelap.
- Harapan: daya jiwa yang berpegang pada janji Allah dan membebaskan dari kecemasan.
- Kasih: puncak hidup rohani, partisipasi dalam kasih Allah sendiri.
Ketiga kebajikan teologal ini menjadi jalan peziarahan menuju persatuan dengan Allah. Iman menuntun langkah, harapan memberi tenaga, dan kasih menjadi tujuan sekaligus bekal sepanjang perjalanan.
Akhirnya, hidup sebagai peziarah harapan berarti menjadikan seluruh perjalanan iman — doa, penderitaan, pelayanan, dan kasih kepada sesama — sebagai ruang perjumpaan dengan Allah, sampai pada tujuan akhir: persatuan kekal dengan-Nya.
Refleksi Akhir sebagai Seorang Fransiskan
Sebagai seorang Fransiskan, retret dengan tema Peziarah Harapan mengingatkan kita bahwa panggilan hidup religius bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi sebuah ziarah yang menuntut iman, kesetiaan, dan keberanian untuk selalu berjalan bersama Kristus. Dalam setiap langkah, baik di tengah sukacita maupun penderitaan, kita melihat jejak kaki Sang Peziarah Sejati yang mendahului kita, menopang kelemahan kita, dan mengajarkan arti pengharapan sejati.
Di tanah Papua, panggilan ini terasa begitu nyata. Di tengah keterbatasan, luka sosial, dan beratnya pelayanan, kita belajar bahwa harapan bukanlah sekadar kata, tetapi sebuah sikap iman yang terus menyalakan semangat. Umat yang sederhana, penuh ketabahan, dan tetap setia dalam iman justru menjadi guru bagi kita tentang arti bertahan dan berserah. Mereka adalah wajah Kristus yang mengingatkan saya untuk tetap berjalan dalam kesetiaan dan persaudaraan.
Sebagai seorang Fransiskan, kita menyadari bahwa ziarah iman ini tidak pernah dijalani sendirian. Persaudaraan adalah kekuatan, doa adalah nafas, dan Ekaristi adalah sumber pengharapan yang memperbaharui setiap langkah. Dalam kesulitan, kita diingatkan oleh teladan Fransiskus Asisi: hidup miskin, sederhana, dan penuh syukur, sambil menjadi sahabat bagi semua, terutama mereka yang menderita dan tersisih.
Pengharapan Kristiani bagi kita bukanlah sekadar optimisme, melainkan keyakinan kokoh pada janji Allah yang setia. Harapan ini menggerakkan kita untuk hadir bagi sesama, membela yang lemah, menjaga ciptaan, dan membangun perdamaian. Setiap tindakan kecil dalam kasih adalah bagian dari ziarah menuju Allah.
Akhirnya, saya ingin menghidupi semangat sebagai peziarah harapan dengan hati yang terbuka:
- Tetap setia meski jalannya penuh tantangan.
- Menjadi saudara bagi yang rapuh dan miskin.
- Merawat bumi sebagai rumah bersama.
- Dan senantiasa menaruh seluruh harapan pada Kristus yang bangkit.
Dengan demikian, peziarahan ini bukan hanya perjalanan pribadi, tetapi juga kesaksian hidup bagi umat, bahwa “pengharapan tidak mengecewakan” (Rm 5:5). Bersama Kristus, Maria Bintang Harapan, dan teladan Santo Fransiskus, kita ingin terus berjalan sebagai seorang saudara kecil yang sederhana, namun setia menjadi tanda kasih Allah di tengah dunia.
Pax et Bonum
