“Rendah Hati, Tinggi di Mata Allah”

Hari Minggu Biasa XXII
Sir. 3:17-18,20,28-29Mzm. 68:4-5ac,6-7ab,10-11Ibr. 12:18-19,22-24aLuk. 14:1,7-14.
BcO 2 Raj 14:1-27.
Warna Liturgi Hijau

Saudara-saudari terkasih,

Dalam Minggu Biasa ke-22 ini, kita diajak merenungkan panggilan untuk hidup rendah hati dan tulus dalam melayani. Perayaan Ekaristi hari ini menjadi kesempatan untuk memeriksa hati: apakah kita mencari penghargaan bagi diri sendiri, ataukah kita berusaha memuliakan Allah melalui sikap sederhana, pelayanan tulus, dan kasih kepada mereka yang lemah dan tersisih.

Saudara-saudari terkasih,

Bacaan pertama mengingatkan bahwa semakin besar kedudukan dan berkat yang kita terima, semakin kita harus merendahkan diri. Kesombongan hanya mengakar keburukan, sedangkan kerendahan hati membawa kita dekat dengan Tuhan. Bacaan kedua mengarahkan pandangan kita kepada panggilan surgawi: kita dipanggil menuju Yerusalem yang mulia, persekutuan para kudus, dan perjamuan abadi yang dipimpin oleh Kristus. Injil hari ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukanlah menempatkan diri di posisi terhormat, melainkan rela mengambil tempat yang rendah, memberi ruang bagi orang lain, dan mengundang mereka yang tak dapat membalas budi. Inilah cara Allah memandang kemuliaan: mereka yang rendah hati akan ditinggikan.

Saudara-saudari terkasih,

Mari kita belajar rendah hati seperti Kristus, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Dengan sikap ini, kita akan menemukan sukacita sejati—sukacita yang bukan berasal dari tepuk tangan manusia, tetapi dari sambutan penuh kasih di perjamuan abadi Allah. Amin.

Pace e Bene

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 1 =