Doa Merupakan Kekuatan dalam Hidup Membiara

Dalam kehidupan manusia pada umumnya, setiap orang pasti memiliki kepercayaan yang dianut, baik berdasarkan agama maupun budaya. Ajaran dari masing-masing keyakinan tersebut senantiasa menuntun pada kehidupan yang bermoral dan beretika. Keyakinan ini mengarahkan kita untuk hidup secara utuh dan seimbang, menuju titik integral yang didambakan oleh setiap individu maupun kelompok—yakni kehidupan yang damai, adil, dan penuh kasih.

Dalam konteks hidup membiara, relasi atau hubungan pribadi kita dengan Tuhan menjadi dasar utama yang membawa kita menuju kedamaian, baik dalam diri sendiri, dengan sesama, maupun dengan lingkungan sekitar. Melalui doa, seseorang dapat mengalami kedekatan dengan Allah yang penuh kasih dan mengasihi tanpa batas.

Sayangnya, banyak orang cenderung hanya mengucapkan kata-kata indah kepada Tuhan, namun lemah dalam perbuatan. Dalam zaman sekarang ini, di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang pesat, manusia semakin mudah terjebak dalam ego dan keinginan pribadi, sehingga sering kali mengabaikan kehendak Tuhan.

Oleh karena itu, saya ingin menekankan pentingnya menjaga dan membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan, Sang Kasih Sejati yang senantiasa hadir dalam hidup kita. Untuk menemukan Tuhan dalam diri kita, kita perlu membuka hati dan berusaha terus-menerus mencari dan memahami kehendak-Nya. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui doa yang tekun dan kontemplasi yang mendalam.

Doa dan kontemplasi adalah dua jalan utama yang membawa kita semakin mengenal dan mencintai Tuhan. Melalui keduanya, kepribadian kita dibentuk, iman kita diperdalam, dan relasi kita dengan Tuhan dikuatkan. Dalam proses ini, iman dan kepercayaan kepada Tuhan tumbuh dan berkembang dalam hati yang tulus.

Sebagai seorang religius Fransiskan, saya percaya bahwa setiap dari kita pasti pernah mengalami saat-saat ketika doa menjadi kekuatan utama dalam menjalani panggilan hidup. Namun, tantangannya bukan hanya mengalami, melainkan bagaimana kita sungguh-sungguh menghayati dan mewujudkan doa itu dalam kehidupan sehari-hari. Hidup doa bukan sekadar rutinitas, melainkan merupakan napas yang menghidupkan setiap langkah panggilan kita dalam semangat Fransiskan: sederhana, berserah, dan penuh kasih.

Penulis : Sdr. Aron Sergio Mbawo  (Prapostulan Angkat ke 7)

Editor    : Admin

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve + 1 =