Jangan Takut Untuk Berubah Menuju Lebih Baik

Kehendak bebas merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki manusia. Keistimewaan ini dianugerahkan oleh Allah sebagai Pencipta alam semesta beserta segala isinya. Kehendak bebas tersebut membedakan manusia dari ciptaan Allah lainnya.

Memilih jalan dan cara hidup adalah wujud dari kehendak bebas yang lahir dari pribadi manusia itu sendiri. Hal ini merupakan hak setiap individu. Manusia tidak sepatutnya menjalani hidup berdasarkan paksaan ataupun kriteria orang lain. Demikian pula, manusia tidak semestinya memaksakan kehendaknya kepada orang lain agar mereka menjalani hidup sesuai keinginan pihak tertentu. Jika hal itu terjadi, maka dapat dikatakan sebagai sebuah kekeliruan.

Sebagai seorang katolik yang menyadari keistimewaan tersebut, saya memilih untuk hidup membiara. Pilihan ini merupakan kehendak pribadi yang murni, bukan karena paksaan siapa pun. Sebagai ciptaan yang dianugerahi kebebasan, saya menyadari bahwa saya memiliki hak untuk menentukan arah dan tujuan hidup. Dengan mengatakan  “ya” saya memilih hidup membiara  menjadi  tujuan hidup saya.

Saya memilih hidup membiara karena merasa dipanggil oleh Allah. Saya meyakini bahwa Allah hendak “menjinakkan” diri saya melalui spiritualitas persaudaraan fransiskan. Saya yang sebelumnya hidup tanpa arah dan terikat pada hal-hal duniawi kini menyadari perlunya pembaruan diri. Sebagaimana Santo Fransiskus menjinakkan serigala ganas di Gubbio, saya pun rindu untuk dijinakkan oleh kasih Allah.

Namun, kehidupan membiara ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Seperti yang sering dikatakan, hidup ini “tidak semudah membalikkan telapak tangan”, dan hal itu sungguh benar. Tantangan yang saya hadapi tidaklah ringan: jauh dari keluarga, penggunaan telepon genggam yang terbatas, serta pergumulan dengan kemandirian dan kesepian. Belum lagi berbagai pergumulan batin yang kerap menambah beban.

Lantas, apakah saya harus menyerah? Apakah saya harus mengkhianati pilihan hidup saya sendiri? Tentu tidak. Yesus mengatakan bahwa siapa pun yang ingin mengikuti-Nya harus memikul salibnya sendiri. Maka, saya pun harus setia memikul salib saya: salib perpisahan dengan orang tua, keterbatasan dalam berbagai hal, serta salib kesepian.

Saya senantiasa bangkit dengan harapan bahwa Allah selalu menyertai dan berkenan memakai saya sebagai alat kasih-Nya. Saya belajar untuk berserah diri kepada kehendak-Nya. Seperti yang tertulis dalam Yer. 29:11: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Dengan berpegang pada firman tersebut, saya tidak perlu diliputi kekhawatiran ataupun ketakutan akan kegagalan. Saya percaya bahwa Allah yang memanggil, Allah pula yang menuntun dan merancang perjalanan hidup saya. Ketika pikiran mulai digoda oleh keinginan untuk menyerah, hati nurani saya meneguhkan kembali semangat dengan mengingat pesan seorang pastor: “Kita harus menjadikan Yesus sebagai fondasi utama hidup, karena kekuatan sejati hidup kita adalah Dia. Yesus datang untuk menyelamatkan.”

Dan memang demikianlah seharusnya. Yesus harus menjadi fondasi utama dalam hidup saya. Kini, saya terus belajar untuk berharap kepada Allah dan merindukan damai yang ditinggalkan-Nya. Perlahan, saya mulai melepaskan rasa takut. Kehidupan membiara bukan lagi saya pandang sebagai beban, melainkan sebagai proses pembentukan diri. Saya berusaha menjalani setiap aturan dengan ketulusan. Dalam perjalanan ini, saya senantiasa memperbarui semangat dengan kata-kata Santo Fransiskus: “Mari kita mulai lagi.” Mulai lagi dengan harapan baru, dengan semangat baru, dan dengan kesiapan untuk berkarya dalam hidup yang terus diperbarui.

Pace e bene

Penulis  :  Makarius I. Harjo

Editor    : Admin

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × five =