Tujupuluh Hari Menyepi Menemukan Diri Dengan Dia Yang Memilihku Dan Mengutusku

Tujupuluh Hari Menyepi Menemukan Diri Dengan Dia Yang Memilihku Dan Mengutusku

 (Roncali: 1 Oktober – 11 Desember 2022)

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah Tritugggal Maha Kudus atas kemurahan dan kasih-Nya, sehingga saya boleh diberikan kesempatan oleh persaudaraan OFM Fransiskus Duta Damai Papua untuk mengikuti kursus Medior di Roncali-Salatiga-Jawa Tengah.

Kursus Medior ini, bagi saya merupakan sebuah pengalaman berharga dan berahmat yang memberikan semangat baru bagi saya untuk semakin mengenal Allah Tritunggal Maha Kudus secara pribadi dalam menjalani hidup panggilan sebagai seorang imam biarawan Fransiskan masa kini. Sebagian orang beranggapan bahwa jika kursus medior di Roncali ini hanya diperuntukan bagi orang yang bermasalah saja/ atau tidak beres hidupnya. Karena itu, ada suara-suara yang mengatakan bahwa jika orang bermasalah dalam hidup panggilan, maka ada sebutan “orang ini atau itu perlu dironcalikan”. Pernyataan tersebut saya bantahkan bahwa hal itu tidak benar atau salah paham. Karena ketika mendapat penjelasan dari staf Roncali bahwa Roncali ini bukanlah sebuah tempat untuk orang bermasalah dalam hidup panggilan, melainkan merupakan wadah untuk belajar lebih akrab dengan Allah dan membantu pribadi lebih bermutu hidup rohaninya dalam membangun relasi yang intim dengan Dia yang merupakan sumber segala sesuatu.

Apa itu medior?

Medior (tengah baya) merupakan panggilan untuk “pulang”/kembali pada diri yang kadang ada dalam persimpangan jalan. Oleh karena itu dengan kursus ini, Kristus menjumpai pribadi dalam persimpangan jalan, dan mengajak kembali pulang pada diri sendiri, pada sesama dan kepada Tuhan. Kursus medior ini juga merupakan panggilan untuk mengenal jati diri yang sedalam-dalamnya. Melalui kursus medior (tengah umur) saya diajak masuk ke lorong-lorong yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Kursus medior ini merupakan upaya menjaga dan untuk memelihara semangat keheningan. Menjaga dan memelihara spirit keheningan merupakan fondasi dasar hidup religius untuk menemukan diri bersama dengan Allah. Dengan menyepi dalam keheningan Roncali ini, saya dibimbing untuk melihat untaian cinta sebagai panggilan dan tawaran untuk mengubah hati dan pikiran, semakin murni, sederhana dan penuh sukacita. Melalui keheningan ini, saya belajar melihat keterbatasan dan kelemahan orang lain dan pada saat yang sama saya pun diperhadapkan pada realitas keterbatasan dan kelemahan saya.

Spritualitas medior adalah panggilan untuk masuk lebih dalam

Seperti halnya panggilan Petrus pada Injil Lukas, 5:1-11, Simon bekerja semalam suntuk, tetapi tidak membuahkan hasil. Yesus menyuruh untuk menebarkan jalanya ke tempat yang lebih dalam.  Ketika Yesus memintanya bertolaklah ke tempat yang dalam dan menebarkan jala, ia bereaksi: “Guru telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”. Simon nelayan yang terampil, ahli dan berpengalaman itu mengetahui dengan pasti bahwa arahan Yesus adalah hal yang sia-sia untuk dilakukan. Tetapi sikap Simon segera berubah ketika perhitungan profesionalitasnya meleset. Luar biasa ikan yang dapat ditangkap. Simon sadar bahwa hal itu hanya dapat terjadi karena Dia yang hadir dalam perahu itu dan menyuruhnya menebarkan jala pasti melampaui manusia bahkan yang profesional sekalipun. Hal ini saya refleksikan bahwa saya pun juga seperti itu ketika menjalani tugas perutusan dan berhadapan dengan umat yang dilayani, meskipun sudah berupaya sekuat tenaga untuk melayani dengan sungguh, tetapi kesannya seperti tidak ada sesuatu yang menggembirakan hati. Karena itu, dengan kursus medior ini, saya sungguh disadarkan bahwa kegelisahan saya itu disebabkan karena kurang mengandalkan kehadiran Allah dalam keheningan.

Banyak materi dan pengalaman para staf yang dibagikan untuk menemukan jati diri sebagai religius yang utuh dan murni. Karena itu, bahan-bahan permenungan yang membantu pribadi religius berkembang ialah sebagai berikut: Disposisi pribadi, Semangat Roncali, Buku harian, spirit medior, spirit doa, Inner Child, Keluarga asal dan inner child, hidup komunitas, Healing, Mimpi, Seksualitas spiritual, Kaul kemurnian, Kaul ketaatan, Kaul kemiskinan, Transformasi diri, Kepemimpinan religius, Penggunaan medsos, Pembedaan Roh, Kontemplasi dan diakhiri dengan retret 8 hari. Selain materi-materi yang diberi ada waktu setiap minggunya yaitu, pengendapan materi dan juga refresing ke tempat-tempat ziarah rohani.

Semua materi pembelajaran yang diberikan ini sangat berguna bagi saya dalam pengembangan hidup rohani dan menjadi spirit baru dalam menjalani hidup panggilan sebagai religius Fransiskan di dalam tugas perutusan. Bagi saya secara pribadi program ini mesti dilanjutkan terus oleh persaudaraan agar menumbuhkan semangat religius yang utuh menjalani hidup panggilan suci, yang semakin dekat dan intim dengan Allah dalam tugas perutusan kita masing-masing. Saya yakin, tidak akan mengecewakan bagi yang mau sungguh-sungguh menghayati hidup rohani yang lebih dalam untuk dituntun dan dibimbing Allah Tritunggal Maha Kudus. Saya sendiri merasa, dengan kursus medior ini, hidup saya dibaharui dan siap untuk menjalani panggilan hidup sebagai religius Fransiskan dalam tugas perutusan yang dipercayakan kepada saya.

Terimakasih kuhaturkan kepada pimpinan ordo, P. Gabriel Ngga OFM, Definorium, komunitas dan seluruh saudara dina yang telah memberikan kesempatan untuk saya. Doaku semoga kita semua semakin dikasihi dan diberkati Allah dalam panggilan kita mengikuti Dia yang telah memanggil, memilih dan mengutus kita menjadi pembawa damai dan kasih bagi semua saudara, sesama dan alam ciptaan.

Editor: Admin

Penulis: Sdr. Ambrosius Sala, OFM)

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven − 9 =