Renungan Harian Kelana Sabda, Selasa 9 Juni 2020

1Raj, 17:7-16; Mat, 5:13-16

Menjadi Garam dan Terang Dunia

Menjadi garam dan terang dunia menjad identias murid-murid Yesus. Garam menjadi gambaran bahwa setiap orang Kristiani mampu memberikan rasa yang enak bagi kehidupan dunia. Sementara terang menjadi medan perwujudan dari karya Allah sendiri, Allah hadir membara terang. Maka jika Yesus mengatakan bahwa murid-murid-Nya adalah terang dunia, maka orang Kristiani di dalam hidupnya sudah seharusnya senantiasa bersatu dengan Allah sang sumber terang. Dengan demikian, menjadi terang dunia menjadi bagian dari hidup setiap orang Kristiani karena persatuan dengan Allah sendiri.

Tidak jarang orang-orang Kristiani tidak berani terang-terangan berbuat baik. Mungkin juga karena pengaruh semboyan ‘jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu’. Memang ketika berbuat baik kita diajak untuk tidak mengharapkan pujian dan penghormatan yang berlebihan. Dengan kata lain berbuat baik dengan tulus tanpa modus. Jika hendak membantu, membantulah dengan apa yang bisa dilakukan. Jika hendak memberi, memberilah tanpa ada embel-embel apapun.

Namun hari ini Yesus mengajak kita untuk tidak malu berbuat kebaikan, atau tidak minder memperjuangkan nilai-nilai luhur yang patut diperjuangkan oleh setiap orang Kristiani. Yesus mengajak kita supaya kita tidak takut untuk berbuat baik di tengah kerumunan orang. Niat kita bukanlah supaya orang lain melihat apa yang kita lakukan sehingga kita mendapat pujian dan kemuliaan. Jika niat kita sungguh hanya untuk berbuat baik, sama sekali tidak ada salahnya kita menolong orang yang kesusahan meskipun pada saat itu disaksikan oleh banyak orang.

Yesus mengingatkan kita bahwa perbuatan baik yang tulus bisa membawa orang yang melihat melakukan hal yang sama. Kita patut bersyukur bahwa orang lain juga ‘terkena virus’ yang kita sebarkan. Namun tetaplah untuk berbuat baik dengan tulus. Yesus kiranya tidak menghendaki kemudian kita menjadi orang yang tinggi hati, orang yang sombong dan memegahkan diri. Kebaikan yang tulus akan melahirkan kebaikan yang tulus juga bagi orang lain. Ukurannya apa? Ukurannya adalah mereka sadar dan tahu bahwa mereka berbuat demikian karena melihat kasih Allah dalam diri kita ketika kita melakukan kebaikan.

Pace e bene,

Sdr. Febry A. Putra, OFM

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × one =