Refleksi life as dialogue 1

 Dialog: suatu Hubungan yang Menggapai Masa Depan

 

Zaman dialog

Kata “Dialog” sekarang ini dibelokkan oleh para politisi, pegiat perdamaian, pegawai pemerintahan dan penguasa lokal. Filsuf Yunani kuno menulis banyak dialog dan menggunakan dialog sebagai suatu metode untuk menemukan dan menyingkapkan kebenaran. Dari sudut pandang religius, kita sekarang terkesan oleh cara bagaimana para pemimpin religius, teolog dan filsuf menekankan perlunya dialog. Teolog Swedia, Katrin Amell, telah menulis bahwa dalam Gereja Katolik dialog antar-iman merupakan satu bidang yang sangat dikembangkan Konsili Vatikan II. Suatu Zaman Baru telah mulai dalam dialog, antara denominasi kristen dan iman lainnya, antara umat beriman dan masyarakatnya. Namun semua ini menuntut kita untuk sepantasnya memahami apa yang kita maksudkan bila berbicara tentang “dialog” sekarang ini. Kiranya baik untuk mulai melihat apa yang tidak termasuk dialog. Hal ini membantu kita untuk mengerti arti sebenarnya dari dialog sekarang ini. Dengan mengamati sejumlah unsur-unsur dialog kita akan melihat arti dialog sebenarnya pada dunia kita sekarang ini. 
  Apa yang bukan dialog?
Dialog tidak hanya konfrontasi, atau suatu tantangan Dialog bukanlah suatu monolog: dalam sebuah dialog kita tidak bicara kepada diri kita sendiri. Untuk berdialog dibutuhkan sekurang-kurangnya dua orang. Lalu, dialog harus dibedakan dari percakapan, atau obrolan: dialog bukan berarti berbicara secara informal, atau suatu pembicaraan bebas tanpa kendali. Dialog tidak hanya membuat pertanyaan, karena hal itu berarti suatu bentuk monolog. Pertanyaan dan jawaban adalah material dialog. Mereka dihubungkan satu sama lain dan menantang satu sama lain.  Itulah sebabnya dialog yang benar harus dibedakan dari polemik atau metode apologetik yang didasarkan pada pertanyaan dan jawabannya, yang untuk berabad-abad para teolog dan misionaris menyebutnya “dialog”. Dialog harus merupakan suatu tantangan yang tetap terbuka. 
  Arti Dialog yang sebenarnya sekarang ini
Mendengarkan orang lain

Beberapa contoh akan memperjelas pemakaian dialog sekarang ini. Di Mozambiue, dengan bantuan anggota Komunitas San Egidio, damai dibangun kembali antara pihak-pihak konflik. Melalui dialog, pihak-pihak itu dapat mendengar satu sama lain dan mencapai kesepakatan. Di negara-negara demokratis, politisi-politisi yang bergabung dalam beragam partai menggunakan dialog untuk menarik dukungan dan persetujuan. Kedua pihak dalam dialog ini harus siap menerima apa yang dikatakan dalam argumen pihak lain, dan secara bertahap bekerja menuju kesepakatan.

Keragaman sosio-kultural zaman kita telah mempermudah komunikasi antara denominasi kristen, agama dan pandangan-pandangan dunia, antara agama dengan struktur-struktur sosial. Dialog tidak lagi menjadi barang mewah, tetapi suatu ke kebutuhan. Dalam suatu dunia yang semakin bergantung dan saling berhubungan satu sama lain, kurangnya perhatian yang tulus pada orang lain tentu saja bukan suatu sikap yang benar dan cocok untuk diambil.

Dalam ensikliknya Redemptoris Missio (1990), Paus Yohanes Paulus II menekankan arti baru dari dialog sekarang ini:

“Dialog tidak berasal dari kepedulian-kepedulian taktis ataupun dari kepentingan diri sendiri, melainkan suatu kegiatan yang memiliki prinsip-prinsip penuntun, tuntutan-tuntutan dan kelayakannya sendiri. Dialog dituntut oleh suatu rasa hormat yang mendalam akan segala sesuatu yang telah dihasilkan dalam diri umat manusia oleh Roh yang bertiup kemana saja dikehendakinya. (Redemptoris Hominis 12). Melalui dialog, Gereja berusaha menemukan “benih-benih Sabda”, (Ad Gentes 11.15) suatu percikan sinar yang “memantulkan cahaya Kebenaran, yang menerangi semua manusia”, (Nostra Aetate 2)  hal-hal ini ditemukan dalam individu-individu dan dalam tradisi-tradisi keagamaan umat manusia. Dialog dilandaskan pada pengharapan dan cinta, dan akan menghasilkan buah di dalam Roh. Agama-agama lain merupakan tantangan positif bagi Gereja: mereka merangsang Gereja untuk menemukan sekaligus untuk mengakui tanda-tanda kehadiran Kristus dan karya Roh, juga untuk memeriksa secara lebih mendalam identitasnya sendiri dan memberikan kesaksian tentang kepenuhan Perwahyuan yang telah diterimanya demi kebaikan semua orang.” (Redemptoris Missio 56)

Dialog memiliki keluhurannya sendiri

 

 

 

 

Memahami orang lain

Ini merupakan hal yang luar biasa karena pelbagai alasan. Dialog memiliki prinsipnya sendiri dan tuntutannya sendiri. Ia juga memiliki keluhurannya sendiri – yaitu, ia dapat berdiri kuat di atas kakinya sendiri. Orang yang terlibat dalam dialog tidak memiliki kekuatiran atau kepentingan yang tersembunyi, tetapi maju terus pada pengamatan atau pada pengembaraan untuk menemukan kehadiran Roh dan Sabda Ilahi, baik pada umat beriman maupun dalam agama itu sendiri. Lebih dari itu, melalui dialog Orang Kristen juga memerlukan pemahaman lebih dalam akan identitasnya sendiri.

Dengan kata lain, dalam dialog kedua pihak harus tetap setia pada tradisinya sendiri dan berniat untuk mencapai pemahaman yang jujur akan yang lain; di situ tak ada tempat untuk ilusi relativisme atau pencarian kedamaian untuk kepentingan sendiri. Para anggota yang terlibat dalam dialog harus bergandengan tangan dan penjadi peziarah di lorong pertanyaan dan pengalaman religius, berusaha memperkaya satu sama lain, dan mengusahakan pertobatan dan pemurnian.

Penemuan dialog sekarang ini memuat perubahan radikal dalam sejarah, yaitu bagaimana orang dari pelbagai agama, budaya dan struktur sosial maju bersama. Dialog tidak lagi hanya suatu sarana pertobatan, suatu metode yang digunakan untuk memaksakan keyakinan sendiri pada orang lain. Juga bukan alat yang digunakan untuk memperlihatkan superioritasnya sendiri

   Aspek-aspek dialog dewasa ini
Membagikan pikiran dan pengalaman

Pertama, dialog merupakan suatu kegiatan dialami bersama sekurang-kurangnya oleh dua pihak yang, sebagai partner otentik dan asli, ambil bagian dalam kegiatan yang berdiri sama tinggi. Dengan kata lain, tidak ada tempat untuk merasa superior, kontroversi atau debat demi kepentingan sendiri. Ini adalah kegiatan bersama, yang memuat usaha yang tulus dan terencana untuk menemukan pengetahuan yang paling fundamental dari kesalehan yang mendalam dan dari kehidupan religius dari pihak lain. Ini bukan kegiatan ilmiah, tetapi suatu metode yang tetap terbuka yang mencari dan berusaha ambil bagian dalam kehidupan religius dan iman pihak lain, yang menempatkan setiap pihak pada suatu posisi yang mengundang mereka untuk terbuka dan menyingkapkan diri mereka satu kepada yang lain.

Cara itu seharusnya menolong kedua pihak yang berdialog untuk membagikan keyakinan mereka yang mendalam, karena masing-masing mereka juga diminta untuk masuk secara mendalam dalam diri mereka dan membuat lebih terang keyakinan religius mereka sendiri dan pandangan hidup yang mereka rasakan secara paling dalam.

Sejumlah bahaya harus dicegah. Selalu terdapat godaan untuk mencoba mereduksi agama orang lain pada satu atau beberapa aspek saja dari iman mereka.

Menemukan kepenuhan iman orang lain Tetapi suatu pertemuan yang mendalam selalu memuat dan mengandaikan suatu usaha untuk menemukan totalitas dan kesatuan internal dari iman pihak lain
 

Hakikat dari agama Islam lebih dari sekedar beberapa perintah, karena seorang Muslim melihat dirinya sebagai penjaga otentik dari agama sebagaimana Allah menginginkannya pada saat penciptaan manusia.

Hinduisme seharusnya tidak direduksi menjadi praktek atau kebiasaan asing. Inti dari agama ini secara hakiki merupakan keyakinan bahwa semua manusia menjadi bagian dari Yang Absolut, dan bahwa keselamatan mereka terletak pada kembali kepada asal mereka melalui sebuah lorong yang menempuh satu dari tiga jalan keselamatan.

Hakikat dari Budha adalah kesadaranbahwa segala sesuatu sedang berlalu, dan pencaharian akan kebebasan melalui pencerahan. Tentu saja ini bukan suatu bentuk atheisme. Agama Jepang yang baru bukan satu sinkretisme, tetapi usaha yang jujur untuk menemukan spiritualitas umum yang akan memajukan damai dan keadilan di dunia ini.

Cara pandang agama-agama Afrika untuk waktu yang lama dianggap barbar, tetapi untunglah sekarang tibalah waktunya untuk menunjukkan kepada yang lain keyakinan mereka yang paling dalam. Hakikat agama Afrika adalah bahwa Allah merupakan sumber seluruh kehidupan, suatu kehidupan yang mereka mencapai melalui leluhur mereka, yang merupakan saluran kehidupan dan penjaga, yang membuat orang yang hidup menghormati ajaran mereka dengan rasa hormat yang pantas. Hakikat spiritualitas Afrika adalah keyakinan bahwa mereka menjadi milik dari komunitas orang hidup dan orang mati, dimana komunikasi dan pemenuhan hidup menjadi kenyataan.

  Dialog merupakan hal menyingkapkan esensi dari iman seseorang dan iman dari pihak lain yang terlibat dalam dialog

 

Menemukan sebuah inti bersama

 

 

Agama-agama merupakan jalan menuju kehidupan

Sekali terlibat pada dialog sejati, para pihak akan membawa banyak insight baru. Satu dari hal ini adalah kenyataan bahwa pada moment yang paling luhur dan dalam kaitan dengan prinsip mereka yang paling dalam, semua agama menyatakan bahwa mereka merupakan jalan yang ditawarkan kepada manusia oleh Ada yang Tertinggi tertentu untuk mencapai keselamatan.

Agama-agama merupakan pandangan hidup. Dalam sura pertama Al Quran, agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhamaddisebut “jalan yang benar”. Dalam tradisi Yahudi, Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk menunjukkan kepada umatnya “jalan dimana mereka harus lalui” (Kel 18:20). Yesus adalah jalan, dan para pengikut-Nya yang pertama dipanggil pengikut sang Jalan dalam Kisah Para Rasul (9:2). Agama Hindu menawarkan tiga jalan: jalan pengetahuan (jnana marga), jalan perbuatan baik (karma marga), dan jalan kebaktian (bhakti marga). Budha mengajarkan muridnya Jalan Agung, atau Delapan Jalan Kebenaran, Jalan Purba dan Jalan Tengah. Dalam tradisi Cina, konsep Tao, atau Jalan, membantu orang mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi. Banyak budaya lisan di setiap benua mencari jalan atau cara nenek moyang mereka untk mencapai kepenuhan hidup. Ini bukan tanpa arti, karena jalan ini memampukan kita mendapat ide tertentu tentang apa yang orang beragama alami bersama dan apa yang kita miliki bersama. Dan ini adalah buah pertama dari dialog.

  Buah yang lain dari dialog adalah suatu perubahan dalam cara kita menjelaskan perbedaan antara agama-agama.
Pembedaan antara  keragaman dan perbedaan yang nyata Melalui suatu tradisi apologetik dan polemik yang panjang, agama-agama sudah menciptakan kebuntuan antara mereka: sekarang kita lebih suka menemukan bahwa perbedaan-perbedaan ini hanya hasil dari sebagian sudut pandang, yang melengkapi satu sama lain. Jika demikian, sudut pandang religius dapat memperkaya satu sama lain. Akhirnya, akan ada perbedaan nyata yang menuntut pengamatan dan studi yang lebih hati-hati, tetapi, sebagaimana dalam kehidupan harian, mereka tidak seharusnya menjadi titik mati yang mengarah pada perpecahan.
  Ciri-ciri dialog

 

 

 

 

Menghormati orang

 

 

 

 

 

 

 

 

Percaya akan kebenaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setia pada nilai-nilainya sendiri

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Timbal balik dan kesetaraan 

 

 

 

 

 

 

Hukum bertahap

Dialog membutuhkan iklim dan lingkungan yang pas, dan dia memiliki hukumnya sendiri yang perlu dipelajari. Di sini terdapat beberapa panduan praktis yang kiranya membantu.

1.     Menghormati pribadi

Karena dialog merupakan komunikasi rohani, pihak lain harus dilihat sebaga pribadi yang pantas untuk didengar. “akar sebab untuk keluhuran manusia terletak pada panggilannya menuju persekutuan dengan Allah” (GS 19). Jika Allah mengambil laki-laki dan wanita secara sungguh-sungguh dan ingin memanggil mereka semua, tanpa mengecualikan seorang pun, untuk bersatu dengan Dia, kita harus juga percaya pada orang dan kemungkinan-kemungkinan dan kemampuan-kemampuan mereka, agar dapat berdialog dengan mereka. Tidak semua ide memiliki nilai yang sama, tetapi semua orang ya. Manusia memiliki nilai yang tak terhingga.

2.     Keyakinan akan kemungkinan mencapai kebenaran

Untuk menetapkan dialog kita harus percaya bahwahal itu mungkin, di atas dan melampaui perbedaan-perbedaan. Asumsi dasar yang harus kita pegang adalah keyakinan bahwa kebenaran itu ada, dan bahwa setiap laki-laki dan wanita dapat mencapainya. Tidak ada masalah-masalah komunikasi yang tak dapat dipecahkan, kecuali sikap penolakan yang keras untuk maju. Ras, budaya, gender, bahasa atau umur bukan merupakan halangan untuk berdialog. Kodrat rasional yang dimiliki oleh laki-laki dan wanita memampukan mereka untuk mengatasi pembatasan-pembatasan yang sempit itu, dan untuk mencapai dan memasuki suatu dimensi universal dimana dialog itu mungkin, jika mereka sungguh-sungguh menginginkannya.

3.     Identitas yang jelas

“Kejelasan di atas segalanya; dialog mengandaikan dan meminta komprehensibilitas” (Ecclesiam Suam 196). Dialog tak pernah mulai dari menggaruk. Kita tak perlu menghapus batu tulis yang bersih sebelum berlabuh pada dialog. Di sana selalu ada orang yang berada dalam dialog, masing-masing dengan sejarah dan identitasnya. Kejelasan dalam dialog menuntut dari kita untuk tidak menyembunyikan idntitas kita, atas nama bentuk rekonsiliasi yang palsu, karena identitas kita tidak pernah dapat menjadi sebab untuk malu. “Dalam dialog antara budaya, tidak ada pihak yang dapat dicegah untuk menyampaikan kepada orang lain nilai-nilai yang ia percayai, sejauh hal ini dilakukan dengan cara yang penuh hormat atas kebebasan dan suara hati orang” (Message for the World Day for Peace, 1 Jan 2001, 14). Dalam terang identitas yang jelas ini dan dengan bantuan Roh yang membimbing seluruh kebenaran (bdk. Yoh 16:13) adalah mungkin untuk menemukan apa yang positif, dapat diterima dan yang memperkaya pada diri orang lain, tanpa tergesa-gesa menyerah dengan keyakinannya sendiri. Dialog mencari konvergensi, titik temu dari apa yang menyatukan, dalam terang kebenaran.

4.     Dialog atas kesederajatan

Terutama di bidang religius, dialog merupakan cara terbaik untuk membangun komunikasi dan pemahaman, rasa hormat dan cinta timbal balik. Ia membantu memahami dan dipahami. “Tetapi dalam semua ini resiprositas (kesalingan) diperlukan. Mengikuti kriteria-kriteria ini merupakan suatu komitmen setiap pihak yang ingin masuk dalam dialog dan ini merupakan suatu prekondisi untuk memulai satu dialog. Merupakan suatu keharusan untuk beralih dari antagonisme dan konflik ke suatu situasi di mana setiap pihak mengakui yang lain sebagai partner.”  (Et Unum Sint 29). Kesalingan dapat ada hanya jika didasarkan pada kesetaraan. Dekrit Konsili tentang Elumenisme berbicara tentang dialog yang berdiri di atas kaki yang sama” (Unitatis Redintegratio 9). Ini tidak berarti bahwa para pihak dalam dialog harus melepaskan keyakinan pribadi mereka yang paling dalam. Kondisi untuk dialog bukan indifferntisme doktrinal, tetapi menahan diri dari penghakiman atas kejujuran dan ketulusan pihak lain, dan keinginan mereka untuk tetap setia pada kebenaran.

5.     Menghormati nilai pertumbuhan

Dialog adalah jalan umum mencari kebenaran. Karena itu ia membutuhkan waktu, dan kecepatannya harus pas. Paradigma yang selalu ada adalah paradigma dari bapa dalamInjil yang mencari yang tua dan yang baru dalam kotak permata, yang dengan hati-hati menyesuaikan diri dengan lingkungan sesuai dengan kebutuhan pihak lain. Kebenaran tak bisa dicapai secara mendadak dan tak terduga, tetapi hanya berkat usaha dan kerja keras. Kadang-kadang tidak banyak dialog dotrinal tetapi kontak manusia yang sederhana yang memmungkinkan untuk membangun simpati dan kepercayaan. Lain waktu, pada pihak lain, kekuatan prasangka, manipulasi bahasa dan menyalahgunaan kata-kata dan bebam ingatan masa lalu, praktis membuat dialog mungkin, atau menjamin bahwa proses dibuat hanya dengan kesulitan besar, penuh dengan kecurigaan dan ketakutan (ketidakberanian). Dalam kasusu seperti ini dialog kadang-kadang hanya tinggal dalam rencana para pihak, seperti tangan yang terbuka, menunggu moment yang tepat untuk bertepuk tangan.

  “Dunia tak dapat diselamatkan dari luar. Sebagaimana Sabda Allah menjadi manusia, demikian juga manusia pada tingkat tertentu harus mengidentifikasikan dirinya dengan bentuk-bentuk hidup dari orang yang kepadanya ingin dia bawakan khabar dari Yesus Kristus. Tanpa meminta privilese yang bahkan dapat memperluas pemisahan, tanpa menerapkan istilah-istilah yang tak bisa dimengerti, dia harus membagikan cara hidup umum – yang manusiawi dan terhormat –khususnya dari yang paling hina, jika dia ingin didengar dan dimengerti. Dan sebelum berbicara, perlu mendengar, tak hanya kepada suara manusia, tetapi kepada hatinya. Seorang harus pertama-tama dimengerti – dan disetujui, jika berguna baginya. Dalam setiap usaha untuk membuat dirinya pastor, bapak dan guru bagi orang, kita harus membuat diri kita menjadi saudara-saudara mereka. Spirit dialog adalah persahabatan dan, lebih dari itu, pelayanan.” (Paulus VI, Ecclesiam Suam, 198).
Menjadi kreatif Pertanyaan, “apa maksud kita melakukan dialog sekarang ini?” membutuhkan jawaban.  Orang yang terlibat dalam dialog seperti bidan yang membantu kelahiran manusia baru. Para pihak yang terlibat dalam dialog tentu tidak sedang melakukannya dengan intensi untuk mengulang keyakinan tradisional mereka, atau untuk menghapus semua hal yang mereka terima dari masa lalu. Orang yang sungguh terlibat dalam dialog kreatif dan sungguh merasa penasaran untuk menemukan cara baru menggabungkan semua  kualitas, pandangan dan keyakinan yang baik yang mereka semua miliki.  Dialog yang benar dirancang untuk melayani kondisi manusiawi.
  “Dari pelbagai agama manusia mengharapkan jawaban tentang teka-teki keadaan manusiawi yang tersembunyi, yang seperti di masa silam, begitu pula sekarang menyentuh hati manusia secara mendalam: apakah manusia itu? Manakah makna dan tujuan hidup kita? Manakah yang baik dan apakah dosa itu? Dari manakah asal penderitaan dan manakah tujuannya? Manakah jalan untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati? Apakah arti maut, pengadilan dan pembalasan sesudah mati? Akhirnya apakah Misteri terakhir dan tak terperikan itu, yang merangkum keberadaan kita, dan menjadi asal serta tujuan kita?” (Nostra Aetate 1)

 .Pertanyaan refleksi

  1. Apakah dialog hanya merupakan alat, atau suatu cara hidup dan cara mengolah kehidupan?
  2. Dengan memperhatikan jawabanmu pada nomor 1, apa konsekuensinya dalam kehidupan nyata, dalam kehidupan peribadi, kehidupan persaudaraan, dalam kehidupan menggereja dan dalam kehidupan misi?
  3. Apa cara-cara khusus dalam kehidupan bersama yang dianggap dialog atau bukan dialog?
  4. Apa yang harus kita tahu agar dapat mengerti iman orang lain?
  5. Dengan memperhatikan ciri corak dialog, apa yang kurang dalam kehidupan relasi persaudaraan kita sehingga tidak tercapai dialog yang sejati?